
"Oh, jadi ini yang namanya Gwen? Yang katanya calon istri Aiden?" celetuk Ayu, dengan nada sinis.
"Whats!!" Aiden dan Gwen memekik bersamaan. Kemudian mereka saling memandang lalu beralih menatap Ayu dengan tajam. "Lo bilang apa tadi?!" sentak Gwen.
Irene yang melihat perdebatan itu, akhirnya mundur alon-alon dari ruangan tersebut dengan gerakan pelan, hingga ketiga orang itu tidak ada yang menyadarinya jika ia sudah tidak ada disana.
"Selamat," batin Irene, sambil melangkahkan kakinya menuju ruangannya.
"Kamu calon istri Aiden? Nggak pantes banget!" ucapnya lagi dengan sinis. Ia terus terang mengungkapkan rasa tidak sukanya. Menurutnya Gwen memang cantik, tapi harusnya dirinya lah yang lebih pantas bersanding dengan Aiden.
"Memangnya kamu dapat informasi dari mana?" Aiden mencoba bersabar untuk menghadapi wanita gila yang sejak tadi ada diruangannya itu.
"Tuh, dari di—" ucapan Ayu terhenti saat tidak melihat Irene disana. Matanya mengendar mencari keberadaan Irene, namun sepertinya Sekretaris tersebut sudah melarikan diri.
"Sial!" umpatnya didalam hati.
"Dari siapa?!" desak Gwen, seraya menatap tajam.
Belum menjawab pertanyaan Gwen, sudah ada pertanyaan lainnya yang dilontarkan oleh Aiden, membuat Ayu semakin tersudut.
"Sial! Aku harus mencari alasan yang tepat!" batin Ayu, sembari meremat ujung tasnya yang ada diatas pangkuannya.
"Lagi pula aku ini heran dengan wanita sepertimu. Jika Gwen adalah calon istriku, kamu mau apa?Dan kenapa kamu harus berkata jika Gwen tidak pantas untukku?!" tanya Aiden dengan nada sangat dingin dan datar.
"Ya, tidak pantaslah. Dia 'kan masih SMA dan dinegara kita ini dilarang menikahi gadis dibawah umur." Ayu memberikan alasan yang masuk akal akan tetap langsung dipatahkan oleh Aiden.
"Mau dibawah umur atau tidak juga bukan urusanmu, kan?" Aiden beranjak dari kursi kerjanya lalu berpindah duduk disamping Gwen.
Sekarang Aiden tahu kenapa Ayu betah berlama-lama diruangannya. Ya, tujuannya adalah untuk menarik perhatiannya.
"Apa perlu kita melakukannya disini?" tanya Aiden, kepad Gwen.
Mata Gwen melotot lebar saat mendengar perkataan Aiden. "Melakukan apa?" tanya Gwen gugup dan jantungnya berdetak tidak karuan. Apalagi salah satu tangan Aiden merangkulnya dengan mesra membuat dirinya salah tingkah.
"Seperti yang tadi pagi dikamar," jawab Aiden, dan tentu saja masih didengar oleh Ayu.
"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Ayu, penasaran.
"Kamu ingin tahu?" Aiden balik bertanya, dan Ayu menganggukkan kepalanya cepat. Aiden tersenyum sinis lalu menarik dagu Gwen agar menghadap kearahnya dan tanpa aba-aba Aiden langsung mengecup bibir manis Gwen dan menyesapnya dengan lembut.
Mata Gwen dan Ayu membola sempurna dibuatnya.
Jujur saja hati Ayu memanas melihat adegan live dihadapannya itu. Apakah dirinya harus menyerah ditengah jalan? Atau tetap melanjutkan perjuangannya?
Ayu menggertakkan giginya dengan kesal dan ingin sekali menarik Gwen dari hadapan Aiden. Dan menggantikan posisi gadis itu, berciuman dengan Aiden.
Gwen mendorong dada bidang Aiden agar ciuman itu terlepas, namun Aiden malah semakin memperdalam ciumannya. Melumatt, menyesap dan menelusupkan lidahnya kedalam mulut Gwen.
Gwen akhirnya pasrah menikmati segala ciuman yang diberikan oleh Aiden, tanpa memperdulikan Ayu yang menatap mereka dengan tatapan penuh kesakitan.
Hingga tautan itu terlepas saat mendengar pekikan seorang pria yang baru memasuki ruangan tersebut.
"ASTAGA!" pekik pria tersebut yang tak lain adalah Ansel.
Bang Ai, bilang aja cari kesempatan buat icip bibir Gwen yang udah jadi candu, nggak usah pakai alasan deh🤣