
"Bagaimana caranya aku membangunkannya dari pingsan?" gumam Aiden, seraya menggaruk kepalanya dengan kasar. Ia menatap Gwen yang masih memejamkan mata.
Mendesah kesal dan menyesali perbuatannya karena sudah mengerjai Gwen sampai pingsan.
"Ish, coba pakai cara ini pasti ampun," gumam Aiden, mendekati Gwen seraya mendudukkan diri ditepian tempat tidur, lalu memencet hidung mancung itu dengan kencang.
"Berhasil," ucap Aiden, saat melihat pergerakan dari Gwen. Ia segera meneggakkan punggungnya.
Gwen mengerjabkan kedua matanya. "Aduh," lirihnya merasakan kepalanya sedikit sakit karena saat pingsan kepalanya membentur lantai marmer.
"Sudah bangun?" tanya Aiden, sambil bersedekap didada.
Gwen yang mendengar suara bariton itu terkejut dan menoleh kearah sumber suara. Matanya membulat sempurna saat melihat Aiden berada dikamarnya.
"Kamu, kenapa bisa berada dikamarku?!" tanya Gwen, lalu mendudukan diri.
"Kamar kamu? Woy, sadar woy!! Lihat dan buka mata kamu! Udah ditolongin bukannya terima kasih, malah nyolot!" ucap Aiden berbohong.
Seketika itu Gwen langsung mengendarkan matanya, menatap setiap sudut kamar tersebut. Dan juga mengingat kejadian saat ia belum pingsan.
"Sudah sadar?" tanya Aiden lagi.
Gwen menganggukkan kepalanya pelan dengan raut wajah yang ketakutan. "Om, dirumah ini ada hantu ya?" tanya Gwen, menoleh kekiri dan kekanan.
"Ada, hantunya di—" belum selesai berbicara, tubuhnya sudah dipeluk oleh Gwen.
"Aku takut, hikss." Tubuh Gwen bergetar dan semakin mengeratkan pelukan ketubuh kekar itu
Aiden terkesiap dan dadanya berdetak tidak karuan saat mendapat pelukan dari gadis kecil itu. "Gwen lepas." Aiden melepaskan kedua tangan Gwen yang melingkar diperutnya.
"Nggak!" Gwen semakin mengeratkan pelukannya. "Aku takut! Jangan tinggalin aku sendiri. Aku phobia sama hantu," cicit Gwen lagi.
Ah, mampus!! Batin Aiden. Ia lupa jika gadis kecil yang sedang memeluknya itu mempunyai Phobia hantu.
"Oke, aku nggak akan meninggalkan kamu, tapi lepas dulu pelukanya, karena aku sesak," ucap Aiden, namun Gwen menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Aiden mengusap lembut punggung gadis tersebut, membuat Gwen merasa tenang hingga tidak terasa ia memejamkan mata dan terlelap didekapan hangat Aiden.
Terdengar dengkuran halus dari bibir Gwen. Aiden menatap wajah cantik Gwen dari sisi atas. "Maaf, sudah membuatmu ketakutan," ucap Aiden lembut, dan entah mendapat dorongan dari mana, ia mengecup kening Gwen dengan dalam.
Kemudian Aiden merebahkan tubuh ramping Gwen ditempat tidur dengan perlahan, lalu menyimuti tubuh Gwen hingga sebatas dada.
"Kalau tidur kelihatan cantik banget, tapi kalau bangun seperti macan betina," gumam Aiden, seraya terkekeh pelan, tangannya terulur untuk mengusap lembut pipi mulus itu dengan lembut.
Tidak berselang lama pintu kamarnya ada yang mengetuk dari luar. Aiden beranjak dari duduknya dan membuka sedikit pintu kamarnya.
Wajah Aiden mendadak gugup saat melihat seseorang yang ada dibalik pintu tersebut.
"Om Nue?" Aiden tergagap mengatakannya.
"Yes, apa kamu melihat intan permataku?" tanya Nue, kepada pria muda yang menyembulkan kepala dibalik pintu tersebut.
"Intan permata? Oh! Gwen? Itu ... Aku tidak melihatnya," jawab Aiden, seraya memejamkan matanya, merasa bersalah karena sudah berbohong.
"Hah, Kemenong yes? Anak gadisku memang seperti jailangkung, datang tidak dijemput pulangnya nyasar, hi hi hi," ucap Nue, sembari mengibaskan tangannya yang gemulainya itu.
"Ha ha ha." Aiden ikut tertawa dengan paksa.
"Ya sudah yes, nanti kalau ketemu intan permataku, bilang sama tuh bocah kalau kamarnya ada dilantai bawah. Uh! ya amidong, pusing eike," ucap Nue, dan segera berlalu dari sana, sambil mengibaskan tangan didepan wajahnya seperti orang kepanasan.
"Oke, Om," jawab Aiden, seraya menggaruk pelipisnya.
Ya, ampun. Kok bisa buat anak ganteng dan cantik ya? Gumam Aiden, saat memperhatikan cara berjalan Emanuel yang geyal-geyol, gemulai. 🤣🤣
Bengek banget pas Nue ngomong. Duh kangen sama Papa Nue🤣🤣
Kasih visual Papa Nue dan Dokter Ricky. Anggap saja rambut mereka udah beruban🤣