My Hot ART

My Hot ART
Bingung sendiri



Sean melajukan motor dengan kecepatan penuh membelah jalanan ibu kota yang ramai lancar dimalam hari itu. Dan tidak berselang lama ia sudah sampai dipaviliun. Ia membuka pintu paviliun tersebut dengan perasaan hampa. Dua minggu lebih dirinya tinggal satu atap dengan Irene, membuat dirinya terbiasa dengan kehadiran gadis tersebut.


Menghela nafas sejak, matanya mengendar menyapu ruangan tamu tersebut. Terasa sepi, sunyi dan hampa yang dia rasa.


"Ren, lo udah buat hidup gue terbiasa dengan kehadiran lo," gumamnya, beranjak masuk paviliun tersebut lalu memasuki kamarnya, tidak lupa ia menutup pintu depan paviliun itu.


Biasanya dia akan mendengar celoteh Irene atau suara teriakan Irene yang menyuruhnya mandi atau makan malam.


"Ish, baru tadi ketemu tapi udah kangen lagi," gumam Sean berdecak kesal seraya merebahkan diriya diatas tempat tidur tanpa mengganti pakaiannya. "Mumpung nggak ada lo, Ren. Gue mau males-malesan," ucap Sean, sambil memeluk guling.


Ting.


Bunyi notifikasi pesan dari ponselnya yang masih berada didalam kantong celananya. Sean mendudukkan diri lalu merogoh ponselnya itu dan membuka notifikasi pesan. Bibirnya cemberut dan keningnya mengerut saat membaca pesan dari orang yang terkasih.


Jangan jorok, Se! Mandi sana! Kebiasaan. Aku tahu kalau kamu sekarang lagi boboan diatas tempat tidur!


Begitulah kiranya, isi pesan singkat yang dikirimkan oleh Irene untuk Sean.


Sean mengendarkan pandangannya disetiap sudut kamarnya. "Apa ada CCTV?" gumam Sean. Lalu matanya beralih menatap layar ponselnya lagi dan dua jempol tangannya mulai berselancar untuk membalas pesan kekasihnya.


"Gue udah mandi," balas Sean menekan tombol Send. Pesan terkirim, centang dua berwarna abu dan tidak berselang lama berubah menjadi biru, bertanda jika pesannya tersebut sudah dibaca. Dan tidak berselang lama ia mendapat balasan dari Irene.


Jangan bohong! Coba cium ketek kamu.


Sean membaca pesan tersebut, lalu mengendus kedua ketiaknya. Ia mengerucutkan bibirnya. "Bau asem," ucap Sean terkekeh geli, lalu beranjak dari tempat tidur, dan keluar dari kamarnya menuju kamar mandi, tanpa membalas pesan Irene lagi.


*


*


Aiden merasa bersalah karena telah membentak Gwen, apalagi sampai membuat gadis itu menangis.


"Seumur-umur aku tidak pernah membuat seorang gadis menangis. Sikapku memang sudah sangat keterlaluan," gumamnya, matanya tidak berkedip menatap foto gadis yang dianggapnya bau kencur itu.


"Apa aku harus meminta maaf kepadanya? Iya aku harus meminta maaf!" Aiden bertanya kepada dirinya sendiri, dan juga dijawab sendiri.😆


"Tapi bagaimana cara meminta maaf kepada gadis bau kencur itu?" gumamnya lagi, merasa bingung karena ia tidak pernah berurusan dengan seorang wanita manapun.


"Apakah aku harus tanya mbah google?" Kemudian Aiden mengambil ponselnya yang tergeletak diatas tempat tidur. Dan ia membuka aplikasi googlenya dan mulai mengetikan dilaman pencarian.


Cara meminta maaf dengan benar kepada seorang gadis.


Aiden menggulir layar ponselnya dan ternyata banyak cara hingga membuatnya bingung.


Meminta maaf sambil berlutut dihadapannya, sambil memberikan bunga.


Mengajaknya dinner romantis.


Mengajak do'i liburan keliling dunia atau indonesia.


Berikan kecupan kasih sayang dan pasanglah wajah memelas agar dimaafkan.


Aiden melemparkan ponselnya keatas tempat tidur dengan asal. "Opsinya nggak ada yang benar!' umpat Aiden.


"Kok aku jadi bingung sendiri begini sih? Padahal 'kan tinggal minta maaf doang!"


Jangan lupa sawerannya dikencengin ya. ❤❤❤