My Hot ART

My Hot ART
Ketagihan ya?



Irene berengut kesal sembari menatap benda yang ada digenggamannya dan tatapannya itu beralih memandang Sean dengan sengit.


"Kamu tahu dari mana ukuran Bra dan juga Underwearku?!" tanya Irene dengan nada yang kesal.


Sean melipat kedua tangannya di dada. Dia yang berdiri dihadapan Irene mencondongkan badannya lalu berbisik. "Melihatnya dari luar saja gue sudah tahu jika ukuran milik lo itu kecil." Mata Sean yang tadinya menatap wajah Irene kini beralih menatap dua bulatan kenyal yang tertutup dress ketat itu.


Wajah Irene bersemu merah, lalu ia menutup dadanya dengan kedua tangannya. Sumpah demi apa pun dirinya ingin menyumpal mulut yang tidak berfilter itu.


"Tapi lo bukan tipe gue!" lanjut Sean, menegakkan badannya kembali, menatap Irene dengan datar.


Irene bernafas lega mendengarnya, namun dia juga harus waspada dengan penjahat kelamin ini.


"Kamu juga bukan tipeku jadi jangan pernah mengambil kesempatan dariku," balas Irene.


Sean tertawa terbahak saat mendengar perkataan Irene. "Yakin gue bukan tipe lo? Gue ini tampan, macho, gagah dan ... ."


"Dan tidak perjaka!" potong Iren dengan telak, membuat Sean mati kutu lalu mengeraskan rahangnya.


Setelah mengatakan hal tersebut, Irene segera memasuki kamarnya untuk beistirahat sekaligus untuk mengganti pakaiannya.


"Sial!" umpat Sean, sembari melayangkan tinju di udara dengan perasaan kesal. Baru kali ini ada wanita yang tidak tertarik dengan pesonannya.


"Sok jual mahal lo! Lihat saja beberapa hari kedepan, lo akan tergila-gila dengan pesona gue!" geram Sean dengan percaya diri tingkat tinggi, seraya menyugar rambutnya kebelakang dengan kasar.


*


*


*


Disisi lain Kirana saat ini sedang berada dikamar mandi dan mendudukan diri di Closet sambil meringis kesakitan.


"Enggak kok, Mas. Ini hal biasa," jawab Kirana masih meringis sakit saat akan buang air kecil. Bagian intinya terasa perih dan sakit.


"Tapi tetap saja, ini semua karena aku." Masih menyalahkan dirinya sendiri.


"Aku tidak apa-apa, Mas. Nanti lama-lama juga terbiasa." Kirana berucap sembari mengusap rahang tegas suaminya dengan lembut.


"Benar?" Nathan memastikan, dan Kirana mengangguk seraya tersenyum lembut. "Jangan kapok untuk menyentuhku," lanjut Kirana, membuat suaminya terkekeh geli.


"Kamu mau menggodaku, Heum?" Nathan mencolek dagu Kirana lalu beralih mencubit hidung mancung istrinya dengan gemas.


"Aku hanya tidak ingin kamu trauma dan berujung tidak menyentuhku lagi," jawab Kirana, lalu beranjak, setelah membasuh bagian intinya dengan air hangat.


"Ketagihan ya?" goda Nathan, membuat wajah Kirana bersemu merah.


Nathan mengulum senyum saat melihat wajah Kirana yang tersipu malu, lalu ia menggendong istrinya ala bridal style menuju tempat tidur yang masih berantakan itu. Dan Kirana langsung mengalungkan kedua tangannya dileher yang kokoh itu.


Nathan tersenyum bahagia saat melihat bercak darah menempel di sprei berwarna putih itu. Lalu ia mencium pucuk kepala istrinya dengan penuh kasih sayang.


"Terima kasih, Sayang." Nathan tidak hentinya mengucapkan terima kasih kepada istrinya.


Kirana hanya menjawab dengan anggukan kepala, karena dirinya masih merasa malu mengingat percintaan panas mereka yang beberapa saat yang lalu terjadi.


Nathan merebahkan istrinya diatas tempat tidur dengan perlahan. Setelah itu ia merebahkan dirinya disamping Kirana dan memeluk tubuh istri yang polos itu dengan erat.


Keduanya mulai memejamkan matanya dan mengarungi mimpi bersama, saling berpelukan, berbagi kehangatan dibalik selimut tebal itu yang menutupi tubuh polos mereka.


Kirana mulai ketagihan sama yang panjang dan besar🤣