My Hot ART

My Hot ART
Terpaku



Ceklek


Sean menoleh saat pintu kamar Irene terbuka, secepat mungkin ia memasang wajah datar untuk menutupi keresahannya.


Irene menatap Sean sekilas, lalu keluar paviliun melalui pintu samping untuk mengambil paketnya yang sudah datang.


"Mau kemana dia?" gumam Sean, menatap Irene yang terlihat cuek kepadanya.


Tidak berselang lama, Irene masuk kembali sambil membawa sebuah paket ditangannya.


"Apa itu?" tanya Sean, sangat penasaran.


Irene melirik Sean, lalu memasuki kamarnya tanpa menjawab pertanyaan pria itu.


"Sial!" umpat Sean. Dia menjadi uring-uringan sendiri karena diabaikan oleh Irene. Lalu ia memikirkan cara untuk meminta maaf kepada Irene. "Brengsek banget! Cuma karena cewek cupu itu, kenapa bisa bikin dunia gue jungkir balik kayak gini ya?!" Sean mengacak rambutnya lagi dengan kesal.


Sean bukan tidak mengerti dengan perasaannya sendiri. Dia merasa nyaman dengan Irene dan merasa bahagia jika berada didekat gadis itu, rasanya ia ingin terus melindungi Irene. Akan tetapi perasaannya masih meragu dan juga takut jika Irene tidak menginginkannya.


Ya, Irene gadis baik-baik dan tidak mungkin mau menerima pria bajingan seperti dirinya. Sean sadar diri akan hal itu.


"Huh!!" Sean menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu mengambil sebatang rokok dan diselipkan disela bibirnya, kemudian ia menyulut ujung rokok itu dengan korek api. Ia menghisap asap rokok itu dan menghembuskannya lewat hidung dan mulut.


*


*


Irene tersenyum senang saat melihat maha karyanya. Ia berhasil mengaplikasikan make-up di wajahnya. "Ah, ya ampun!! Ternyata aku cantik sekali," ucap Irene sembari menangkup wajahnya dengan kedua tangannya.


"Kenapa tidak dari dulu berdandan seperti ini," gumamnya. Walaupun hasil riasannya belum sempurna tapi dia merasa bangga dan akan belajar lagi untuk mempercantik diri.


Ya, yang dipikirkan Irene dulu hanyalah belajar dan terus belajar. Hingga ia tidak sempat memikirkan dirinya sendiri. Karena dia adalah anak dari orang yang tidak mampu, tapi berkat kecerdasannya, ia selalu mendapat beasiswa dari SD sampai tamat kuliah.


Irene tersenyum senang, bertanda jika dirinya saat ini sangat bahagia. "Saatnya sekarang memakai Softlens," ucapnya.



Aslinya emang cantik imut tapi pendek. 🤣


Sementara itu, Sean yang sudah merasa resah berada diruang tamu. Akhirnya ia memutuskan untuk memasuki kamar Irene tanpa mengetuk pintu.


Ceklek


Irene menoleh, begitu pula dengan Sean yang terpaku diambang pintu. Mata Sean mengerjab berulang kali terhipnotis dengan kecantikan gadis yang duduk didepan meja rias itu.


"Si ... siapa lo?" tanya Sean, merasa tidak mengenali gadis yang ada dihadapannya ini.


"Se, aku Irene," jawab Irene ketus, lalu menatap dirinya di pantulan cermin.


"Tidak mungkin! Irene kan cupu dan juga—"


"Jelek dan burik?" potong Irene dengan sinis.


Sean masih mematung diambang pintu, antara percaya dan tidak percaya jika gadis itu adalah Irene.


"Bukan begitu maksudnya" sangkal Sean, seraya menggaruk keningnya.


CK!


Terdengar decakan kesal dari bibir Irene. "Bagaimana menurutmu, apakah aku sudah cantik?" tanya Irene, menoleh kearah Sean.


"Iya .. eh maksud gue biasa saja," jawab Sean, masih terlalu gengsi mengakui perasaanya


Irene memanyunkan wajahnya, kecewa saat mendengar pendapat Sean. Namun beberapa saat kemudian ia tersenyum. "Tidak apa-apa, yang penting penampilanku lebih baik dari sebelumnya. Semoga setelah ini aku segera mendapatkan jodoh," ucap Irene tersenyum, sambil menatap wajah Sean yang berubah masam.


Gue nggak akan membiarkan lo dapat jodoh! Batin Sean, kesal.