My Hot ART

My Hot ART
Anak yang terbuang



Disisi lain, Irene saat ini sedang berada di Paviliun. Ia datang pagi-pagi sekali, demi memastikan sang kekasih sarapan pagi.


"Balik lagi ke WG ya," bujuk Irene, sembari memijat pudak Sean di ruang tamu.


"Nggak!" jawab Sean dengan tegas.


Irene menghela nafas panjang, karena Sean sulit untuk dibujuk. "Kalau kamu balik lagi ke WG, kamu tidak akan kesulitan seperti ini, Se. Lihat badan kamu kurusan dan kantung mata kamu sudah mulai menghitam," ucap Irene, masih berusaha untuk membujuk.


Sean membalikkan badannya, menghadap Irene dan menatap kekasihnya itu dengan tajam. "Gue bisa melewati semua ini! Dan jangan pernah menyuruh gue untuk kembali ke sana lagi!" tegas Sean.


"Biasa saja kali ngomongnya, nggak usah nge-Gas!" Irene cemberut kesal, seraya menatap malas Sean yang ada dihadapannya.


"Lagian, lo suka maksa sih!" jawab Sean tidak mau kalah.


"Oh! Gitu!" Irene segera beranjak dari duduknya, namun tangannya ditarik oleh Sean, sehingga ia terhuyung dan jatuh di pangkuan Sean dengan posisi miring.


"Lepas!" Irene memberontak, akan tetapi pergerakannya sudah dikunci.


"Ngambek? Jelek tahu!" jawab Sean, lalu menelusupkan wajahnya di ceruk leher Irene.


"Se, geli," ucap Irene, sembari menggerakkan bahunya, agar Sean menghentikan aksinya yang sedang mengendus lehernya.


Sean menjauhkan wajahnya, lalu menyimpan dagunya di bahu Irene, sembari mengeratkan pelukannya. "Lo wangi banget sih, Ren. Bikin candu tahu nggak, jadi nggak sabar pengen cepat halalin," ucap Sean dengan pelan, lalu mengecup pipi Irene.


"Se!" Iren menjauhkan wajahnya, merasa risih dengan kelakuan Sean. "Belum halal, jangan cium-cium."


"Nggak tahan, Sayang." Sean mengurai pelukannya, membiarkan Irene beranjak dari pangkuannya.


"Oh, iya, berkas yang gue minta sudah lo siapkan?" tanya Sean, dan dijawab gelengan kepala dari Irene.


"Why?"


"Berkasnya ada dirumah Ayah dan aku takut mengambilnya," jawab Irene jujur.


Sean mengelus punggung tangan kekasihnya dengan lembut. "Kita ambil bersama, sekaligus meminta restu kepada beliau," ucap Sean.


"Sekarang ada gue yang akan selalu melindungi lo," ucap Sean, lalu membawa Irene kepelukannya.


"Terima kasih, Sean," jawab Irene, membalas pelukan kekasihnya.


*


*


*


Pagi itu, Sean dan Irene meminta ijin masuk siang, karena mereka harus menyelesaikan urusan mereka lebih dulu. Untuk Sean, tentu saja mendapatkan ijin dengan mudah akan tetapi, tidak untuk Irene.


"Cuma beberapa jam saja!" ucap Sean kepada Aiden yang sedang duduk di balik meja kerjanya.


"Cuma! kamu bilang? Apa kamu tidak melihat pekerjaan ku sangat banyak!" balas Aiden dengan tegas. "Harus profesional dong, Se!"


"Please! Lagi pula Irene meminta ijin juga untuk mengurus pernikahan kami," jawab Sean, dengan menggebu.


Irene yang melihat perdebatan antara saudara itu hanya bisa menggigit bibir bawahnya, merasa takut.


"Kamu mau nikah? Nggak ngasih tahu ke keluarga? Anak macam apa kamu?!" balas Aiden, tanpa sadar membuat luka lama Sean yang sudah mengering, kini kembali menganga.


"Anak yang terbuang! Kenapa?!" jawab Sean, membuat Aiden langsung bungkam.


"Kalau lo nggak mengijinkan Irene, gue bakal suruh dia resign! Gue masih mampu buat menafkahi dia!" balas Sean, lalu menarik tangan Irene dari ruangan tersebut.


"Se! Sean!!!" teriak Aiden, mengejar Sean dan Irene yang sudah memasuki lift.


"Sial!" umpat Aiden, ketika pintu lift sudah tertutup.


Sabar, Bang Sean, agak nyesek ya. 🤧


Kasih saweran buat Sean biar semangatā¤šŸ’ƒ