
Nafas Nathan terasa mau putus di tempat karena menggendong calon mertuanya yang berbadan gempal itu pulang ke rumah.
"Hah!" Nathan menghembuskan nafasnya dengan kasar sembari merenggangkan otot tubuhnya.
Ah, tubuhku terasa remuk. Batin Nathan, lalu merebahkan diri di atas ambal, kemudian ia mengambil ponselnya untuk menghubungi kedua orang tuanya jika dia sudah mendapatkan restu.
Seorang pria mengintip dari balik pohon kelapa, ia memperhatikan Nathan yang sedang rebahan di atas ambal yang terbuat dari bambu itu. "Apa dia calonnya Kirana? Wah tidak bisa di biarkan ini!" gumamnya sambil meninju telapak tangannya dengan kesal.
Dengan penuh keberanian dan percaya diri dia berjalan menghampiri Nathan.
"Ehem!" Berdehem keras ketika sudah berada di dekat Nathan.
Nathan menoleh dan mengernyit heran ketika melihat seorang pria tampan menatap sinis kepadanya. "Nanti aku hubungi lagi, Mom," ucap Nathan, kepada ibunya di seberang sana. Lalu ia mematikan sambungan telepon itu dan memasukan ponselnya kedalam kantong celananya.
"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" tanya Nathan, seraya mendudukkan diri.
"Kamu siapanya Kirana?" Balik bertanya, tanpa memperdulikan pertanyaan Nathan.
"Apa urusannya dengan Anda?" tidak mau menjawab pertanyaan pria tersebut. Membuat pria tersebut bertambah kesal.
"Heh! Jangan sok ya! Kamu bukan warga sini, jadi jangan macam-macam! Bisa aku laporin kamu ke kepala desa biar di usir!" ucapnya dengan ketus dan penuh dengan ancaman.
Nathan beranjak dari duduknya dan berdiri di hadapan pria tersebut. Tatapan tajamnya seolah ingin menguliti lawannya hidup-hidup, hingga membuat pria tersebut sedikit takut dan kakinya terasa bergetar. Karena baru kali ini ada orang yang berani melawannya.
"Kamu pikir aku takut dengan ancamanmu?!" Masih menatap dengan tajam sambil mendorong bahu pria itu kebelakang. "Penampilanmu seperti orang kaya dan wajahmu juga lumayan tampan! Tapi, sayangnya nggak punya atittude!"
"Siapa kamu berani sekali kepadaku?!" bentaknya.
*
*
*
"Nggak tahu, Bu. Tapi, coba aku lihat dulu," jawab Kirana, lalu beranjak dari dapur menuju halaman rumah. Dan betapa terkejutnya dia saat melihat seorang pria yang di kenalnya akan memukul Nathan.
"Hei!" teriak Kirana, berlari dan berdiri di tengah-tengah keduanya. "Apa-apaan kamu!!" bentak Kirana kepada tersebut yang tidak lain adalah mantannya.
"Na! Akhirnya kita ketemu lagi, kangen tahu," ucapnya tidak tahu malu dan membuat mual bagi siapa pun yang mendengarnya.
Nathan mengeraskan rahangnya, ingin menghajar pria tersebut tapi tangannya di tahan Kirana.
"Kangen? Nggak salah dengar? Dasar tidak tahu malu!" maki Kirana sambil menuding pria tersebut yang bernama Rudi itu.
"Na! Jangan ngomong begitu. Sekarang aku sudah menjadi duda, pernikahanku tidak bahagia," ucapnya dengan wajah yang memelas.
"Syukur deh. Mending sekarang kamu pergi dari sini!" usir Kirana, dan menatap tajam Rudi.
Dia tidak punya perasaan lagi terhadap pria itu, akan tetapi luka yang di torehkan masih membekas di hatinya.
"Na, kamu tidak ingin balikan lagi denganku? Aku akan akan melunasi hutang orang tuamu," ucapnya dengan penuh kesombongan.
"Cih! Melihatmu saja membuatku jijik!" jawab Kirana sangat pedas.
Nathan yang berada di belakang Kirana sudah tidak mampu menahan kesabarannya lagi. Kemudian ia menarik Kirana ke belakang punggungnya.
"Jangan bermimpi ingin kembali dengan Kirana! Karena di adalah calon istriku!!" ucap Nathan penuh penegasan.
"Heh! Punya apa kamu, mau jadi suami Kirana?" Hina Rudi, dan menatap remeh Nathan.
"Aku memang tidak punya apa-apa, tapi setidaknya aku bukan pria bajingan sepertimu yang suka mempermainkan perasaan wanita!" balas Nathan dengan telak.
Nah, sekarang dah tahukan yang suka ngintip di balik pohon kelapa?🤣