
Warning!!! Bocil minggir, mengandung bakso mercon, hot jeletot!
Suara ******* terus bersahutan memenuhi kamar tersebut. Sean bergerak naik turun di atas tubuh istrinya.
"Ah ... ah ... ah." Irene terus mendesaah di bawah kungkungan Sean. Apalagi saat Sean menyesap pucuk dadanya bergantian, membuatnya tubuhnya terasa melayang.
Seperti yang di katakan Sean sebelumnya, jika dirinya akan mengurangi durasi permainannya. Yang biasanya 1 jam kini menjadi setengah jam. Ia merasa kasihan dengan istrinya yang setiap malam di gempur olehnya.
Sean mempercepat gerakannya, dan tidak berselang lama, ia mengerang panjang bertanda jika dirinya sudah sampai pelepasan. Menyemburkan benihnya yang entah ke berapa kali dalam rahim istrinya.
Nafas keduanya terengah-engah. Sean menyatukan kening sambil mengatur nafas. Lalu mengecup dan menyesap bibir istrinya dengan mesra.
"Terima kasih, Sayang." Sean mencabut peyatuannya, lalu menggulingkan badannya dan merebahkan diri disamping Irene. Kakinya menarik selimut yang ada di bawah sana, untuk menutupi tubuh keduanya yang masih polos. Kemudian menarik Irene ke dalam pelukan hangatnya.
"Aku lelah, Se." Irene, menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya, seraya melingkarkan salah satu tangannya di perut Sean.
"Tidurlah," jawab Sean, mengecup kening Irene berulang kali, dan mengusap-usap pipi Irene yang putih dan mulus itu dengan penuh kelembutan.
*
*
*
Sedangkan di kamar sebelah, tepatnya di kamar penganti baru yang masih segar. Ansel sedang menggerutu kesal karena tidak bisa merasakan malam pertama dengan istrinya, di karenakan Zahra tidur di antara mereka.
"Sabar," ucap Melisa, terkekeh ketika melihat wajah masam suaminya itu.
"Sampai kapan?" tanya Ansel, sambil memeluk boneka monyetnya. Karena ingin memeluk istrinya sudah di kuasai Zahra yang baru terpejam.
"Sampai Zahra nyenyak tidurnya," jawab Melisa. Ia tersenyum geli melihat suaminya yang ternyata masih manja dan kekanakan. Apalagi melihat Ansel yang memeluk boneka monyetnya, membuatnya ingin tertawa terbahak.
"Huh! Sudah tidak tahan," gerutu Ansel, seraya mengusap Si Jono yang sudah menegang tinggi.
Melisa melepaskan pelukan Zahra dan ternyata putrinya sudah tertidur nyenyak. "Zahra sudah nyenyak, yuk!" ajak Melisa, seraya beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju sofa, lalu di ikuti oleh Ansel.
Ansel dengan gemas, langsung menarik tengkuk Melisa dan melumaat bibir yang terlihat ranum itu dengan rakus. "Sudah pengen banget dari tadi," ucap Ansel ketika tautan bibirnya itu terlepas. Kemudian ia dengan tidak sabar melucuti pakaian istrinya sampai polos, lalu mendorong Melisa hingga terduduk di atas sofa.
"Sabar, Ans. Sekarang aku milikmu sepenuhnya, dan bisa kamu nikmati kapan saja," ucap Melisa, sambil meremat dua bukit kembarnya, menggoda Ansel.
"Kamu selalu membuatku tidak tahan, Mel!" Ansel menggeram ketika melihat Melisa yang menggodanya. Ia membuka kedua kaki Melisa dengan lebar, lalu berjongkok di sela kaki itu.
Ansel menatap daging tembem yang ada di ujung sana, ia menarik bok*ong Melisa, lalu mendekatkan wajahnya ke daging tembem itu dan menjulukan lidahnya, memberikan kenikmatan kepada istrinya.
"Ah ....." Melisa mendesah sambil mengangkat boo*kongnya ketika Ansel bermain di bawah sana.
"Tahan suaramu, Mel. Nanti Zahra bangun." Ansel berucap saat menjauhkan wajahnya dari sana.
Melisa menganggukkan kepalanya, lalu menggigit bibir bawahnya, menahan desaahannya. Ansel melanjutkan aktifitasnya, dan kedua tangannya meremat dua bukit itu dengan gemas.
"Anss ... ah ... aku ingin keluar ... emhh." Melisa tidak kuasa menahan gelombang kenikmatan yang menerjang tubuhnya. Ansel tetap bermain di bawah sana, tanpa memperdulikan ucapan Melisa, hingga akhirnya Melisa mengerang panjang, barulah Ansel menjauhkan wajahny dari sana.
"Ans, kamu sungguh gila!" Melisa terengah-enga, karena tidak menyangka jika suaminya sangat ganas jika diatas ranjang.
Ansel tersenyum menanggapinya, lalu mengecup bibir istrinya lagi dengan menuntut. Setelah itu, ia mengerahkan Si Jono ke bibir Melisa.
Melisa mengerti yang di inginkan suaminya, dengan cepat ia membuka mulutnya dan mengu*lum milik suaminya dengan penuh kelembutan.
Ansel mengeluarkan si jono dari mulut Melisa, lalu ia meminta istrinya itu membelakangi.
"Ready, Mel?" tanya Ansel, sambil mengurut senjatanya sesaat ketika akan di masukan ke dalam liang surgawinya.
"Cepat Ans." Pinta Melisa, sambil menggerakkan bo*kongnya, menggoda Ansel.
Ansel tersenyum lalu mulai menuntun senjatanya masuk ke dalam milik istrinya denga sekali hentakkan.
Ansel langsung memaju mundurkan pinggulnya dengan kecepatan penuh. Melisa membekap mukutnya dengan salah satu tangannya, dan salah satu tangannya lagi ia jadikan tumpuan diatas sofa.
Ansel mendongakkan kepalanya saat merasakan sedotan dari inti istrinya, begitu menggigit dan sangat nikmat. Membuat dirinya merem melek.
"Ans ... lebih cepat." Melisa ikut bergoyang, memaju mundurkan bo*kongnya. Ansel mencengkram
Ah, ini gila. Ansel benar-benar di buat mabuk kepayang oleh, goyangan Melisa.
"Ansel, cepatlah nanti Zahra bangun." Melisa berucap sambil, melihat Zahra menggeliat diatas tempat tidur.
Ansel mengangguk, dan semakin mempercepat gerakannya, dan tidak berselang lama keduanya mengerang bersama. Ansel menyemburkan benihnya ke dalam rahim istrinya untuk kedua kalinya.
Ansel segera melepas penyatuannya, dan segera memakai pakaiannnya. Begitu pula, Melisa melakukan hal yang sama. Nafas keduanya masih terengah dan keringat percintaan mereka pun membanjiri tubuh keduanya.
"Mama dan Papi sedang apa?" tanya Zahra, sambil mengucek matanya. Melihat kedua orang tuanya berdiri didekat sofa.
Beruntung Ansel dan Melisa sudah berpakaian lengkap. Jantung keduanya berdegup dengan kencang. "Ah, Mama dan Papi sedang nyari nyamuk," jawab Melisa asal. Dengan kedua kaki yang bergetar, ia berjalan menuju tempat tidur dan merebahkan tubuhnya disana.
Ansel terkekeh mendengar, ia pun ikut bergabung dengan anak istrinya. Dengan posisi Zahra ada di tengah-tengah mereka.
"Memang ada nyamuk?" tanya Zahra dengan polosnya.
"Ada nyamuknya gede banget," jawab Melisa sambil melirik suaminya, dan Ansel melotot mendengarnya.
"Zahra kenapa bangun? Tidur lagi yuk!" ajak Melisa.
"Mau pipis, Ma," ucao Zahra lalu menyibakkan selimut dan menuju kamar mandi.
Setelah Zahra tidak terlihat, Ansel segera menindih tubuh istrinya lagi dan ******* bibir Melisa dengan sangat rakus.
"Hukuman buatmu karena sudah menyamakan aku dengan nyamuk," ucap Ansel, setelah melepas pagutannya.
Melisa terkekeh, lalu mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh suaminya. "Dan aku akan membuat kesalahan, agar kamu hukum terus." Seraya mengecup mesra bibir suaminya.
"Heum, dasar nakal!" ucap Ansel, lalu menggulingkan tubuhnya saat mendengar suara mandi terbuka.
Zahra keluar dari kamar mandi, lalu naik keatas tempat tidur, dan memejamkan matanya lagi.
"Lagi yuk, kalau Zahra sudah tidur," ajak Ansel, dengan muka mupengnya.
"Nggak, takut Zahra bangun," ucap Melisa.
"Sepertinya aku harus membuatkan kamar untuk Zahra sendiri," gumam Ansel, agar dirinya bisa bebas jungkat-jungkit dengan istrinya.
Maaf ya, loss dol lagi jarinya.🤣🙈