My Hot ART

My Hot ART
Sabar



Disisi lain, Sean dan Irene sedang duduk berhadapan dengan Xander. Irene terlihat gelisah, tidak tenang dan juga takut, ia meremat kedua tangannya yang berkeringat dingin itu bergantian.


Sedangkan Sean sendiri terlihat biasa saja, bahkan ia duduk dengan santainya.


Xander duduk bersandar dikursi sambali bersedekap didada dan menatap pasangan itu bergantian.


"Jadi benar yang dikatakan Mommy mu jika Irene adalah calon istrimu?" tanya Xander kepada Sean.


"Iya, Dad," jawab Sean.


"Irene?" Xander kini beralih menatap Irene.


Irene yang sedang menundukkan kepalanya kini mendongak dan menatap Xander dengan rasa takut dan jantungnya berdetak tidak karuan.


"I ... iya Tuan," jawab Irene, terbata.


"Jadi benar kalian akan menikah?" tanya Xander lagi.


Dan pasangan itu menganggukkan kepala bersamaan, membenarkan pertanyaan Xander.


Xander menghela nafasnya sejenak sebelum melanjutkan perkataannya. "Sebenarnya saya senang jika kamu yang akan menjadi istri Sean. Ya, saya suka dengan kepribadianmu yang baik, tapi apakah kamu akan menerima Sean apa adanya dengan segala kekurangan juga masa masa lalunya?" tanya Xander, dengan lugas dan tegas.


Bagimana pun juga, Xander harus memastikan semuanya lebih dulu, apa lagi putranya mempunyai masa lalu yang sangat buruk.


Irene terkejut saat mendengar pertanyaan Xander yang to the point. Ia memejamkan matanya dengan erat untuk sesaat dan meyakinkan dirinya sendiri.


Sean menatap Irene yang tengah memejamkan mata. Didalam hatinya, ia merasa takut jika gadis itu tidak bisa menerima masa lalunya, namun rasa takutnya itu sirna dan tergantikan dengan rasa bahagia saat mendengar perkataan Irene.


"Sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih kepada, Tuan karena sudah menerima saya," ucap Irene memasang senyuman manis dan tenang.


"Saya menerima Sean apa adanya, tanpa memandang masa lalunya," lanjut Irene dengan mantap, tanpa keraguan sedikit pun.


"Iya, Dad. Akua berjanji—"


"Seorang pria sejati tidak pernah berjanji, Se! Tapi, seorang pria sejati memberikan bukti!" potong Xander dengan tegas.


Sean tersenyum dan menganggukkan kepalanya dengan mantap. "Aku akan selalu mengingat pesan Daddy, terima kasih dan maafkan anakmu ini yang selalu membuat masalah," ucap Sean, lalu bersimpuh kaki ayahnya.


"Iya, Daddy sudah memaafkanmu. Dan bangunlah," ucap Xander seraya mengusap halus rambut putranya.


Irene yang menyaksikan hal tersebut menjadi teharu dan tidak kuasa menahan air matanya.


Sean tersenyum lalu memeluk ayahnya dengan erat, begitu pula dengan Xander membalas pelukan itu tidak kalah erat seraya menepuk punggung Sean pelan.


"Jadi, kapan kalian akan menikah?" tanya Xander, setelah pelukan itu terlepas.


"Nanti Dad, menunggu uangnya terkumpul lebih dulu," jawab Sean, membuat Xander mengernyitkan kening.


"Maksudnya, aku ingin menikahi Irene dengan jerih payah ku sendiri," jelas Sean saat melihat ayahnya tidak mengerti maksud perkataannya.


"Ah, baiklah. Kalau begitu bekerjalah lebih giat lagi. Sekaligus menjalani masa hukumanmu yang masih tetap berjalan," ucap Xander diiringi dengan kekehan.


"Jadi masa hukumanku masih berlanjut?" tanya Sean, menatap sedih ayahnya.


"Ya, apa kamu pikir Daddy akan mencabut masa hukumanmu begitu saja?! Tidak semudah itu putraku!" jawab Xander, lalu tergelak keras.


Sean mendengus kesal, saat mendengar perkataan ayahnya.


"Sabar," ucap Irene, ikut terkekeh geli sembari mengelus lengan kekar Sean.


Like dan Vote jangan lupa ya. Terima kasih❤