
"Sudah lama kita tidak berkumpul seperti ini," ucap Nathan sembari menyesap rokoknya, seraya menatap tiga saudara kembarnya satu persatu.
Malam itu Four J dan juga para istrinya berkumpul di halaman belakang, mengadakan pesta barbeque untuk merayakan kebersamaan mereka kembali. Sedangkan Xander dan Jeje berada di tengah-tengah mereka, berikut dengan Oma Airin yang duduk di kursi roda sembari menatap anak, cucu dan buyutnya dengan perasaan yang sangat bahagia. Berharap diberikan umur yang lebih panjang lagi agar ia bisa terus menyaksikan kebahagiaan itu. Usianya yang sudah mencapai 90 tahun lebih, menjadi keberkahan sendiri untuknya dan juga keluarganya.
Oma Airin yang selalu energik dan super gesrek kini sudah tidak nampak lagi, kedua kakinya sudah tidak bisa sanggup untuk berjalan, dan hanya bisa duduk di kursi roda.
"Oma mau daging?" tanya Zahra kepada Oma Airin sembari memegang tangan rentan dan penuh dengan keriputan itu.
Oma Airin menggeleng pelan sembari tersenyum tipis. "Oma tidak punya gigi," jawab Oma Airin di iringi dengan senyuman lembut.
"Tidak apa-apa, jangan khawatir Oma, aku akan memotongkan dagingnya sampai kecil-kecil qgar Oma bisa menelannya tanpa mengunyah lagi. Diam di sini, aku akan kembali," ucap Zahra lalu mengecup pipi Oma Airin yang keriput itu.
Zahra menghampiri Melisa dan meminta beberapa potongan daging yang sudah matang, lalu ia memotongnya menjadi beberapa bagian yang sangat kecil.
"Ayo, buka mulut Oma ..." pinta Zahra sembari menyuapkan potongan daging ke depan mulut Oma Airin dengan sendok makan.
Oma Airin menerima suapan dari Zahra dengan senang hati dan juga penuh haru.
"Enak tidak?" Zahra bertanya sembari membulatkan kedua matanya terlihat sangat menggemaskan.
"Sangat enak, terima kasih Zahra sayang," ucap Oma Airin dengan penuh haru seraya mengusap pucuk kepala gadis kecil itu dengan lembut.
"Sama-sama Oma, aku sayang Oma," ucap Zahra dengan tulus lalu memeluk Oma Airin dengan erat.
Semua orang yang ada di sana menatap penuh haru, saat melihat interaksi Zahra dan Oma Airin.
"Dia sangat menyayangi Oma," ucap Melisa sembari menyusut sudut matanya yang berair.
"Heum, kenapa hatiku menjadi sangat sedih." Melisa tiba-tiba terisak lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang suaminya.
"Sayang." Ansel mengusap punggung istrinya yang terasa bergetar, bertanda jika Melisa sedang menahan tangis di pelukannya.
"Aku takut kehilangan Oma," ucap Melisa dengan suara yang tidak terdengar begitu jelas, karena dirinya menenggelamkan wajahnya di dada bidang Ansel.
Ansel mengeratkan pelukannya, sembari menepuk lembut bahu istrinya, seraya mengecupi pucuk kepala Melisa dengan penuh kasih sayang. Dirinya pun tidak akan sanggup jika kehilangan Oma Airin, akan tetapi semua atas kuasa Tuhan. Ada kelahiran pasti ada kematian, ada kebahagiaan pasti ada kesedihan, ada pertemuan dan pasti ada perpisahan. Semua sudah menjadi suratan takdir dan tidak ada yang bisa mengubahnya.
"Ada apa?" Jeje menjadi khawatir saat melihat salah satu menantunya sedih. "Kamu menyakiti menantuku?!" Omel Jeje kepada Ansel sembari berkacak pinggang.
"Tidak Mom! Melisa sedang sensitif belakangan ini," jawab Ansel sembari mengusap-usap punggung istrinya yang masih terisak di pelukannya.
Semua orang yang ada di sana seketika tersadar dan mengerti apa yang di rasakan Melisa. Semua mata menatap Oma Airin yang sedang asik menikmati daging panggang yang di suapkan oleh Zahra. Dan hati mereka semua menjadi sangat sedih dan terharu, memikirkan bagaimana jika nanti Oma Airin pergi meninggalkan mereka semua untuk selamanya?
Terutama Xander yang diam-diam selalu menangis setiap malam saat membayangkan kehilangan ibunya untuk selamanya.
*
*
*
Sedih banget di part ini ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
vote mana vote? Hari senin loh ya!!