My Hot ART

My Hot ART
Semua tidak gratis!



Siapin kopi dan bunga yang banyak ya. Mau Crazy up lagi gak nih?😁


Dua mobil Alpard yang memasuki pedesaan itu menjadi pusat perhatian warga setempat. Mereka berbondong-bondong mengikuti mobil itu, jiwa kekepoan mereka meronta-ronta karena ingin tahu siapa pemilik mobil tersebut.


Nathan dan Kirana yang sedang berada di ambal sambil merujak jambu air yang baru mereka petik dari pohonnya langsung. Sedangkan Bapak dan Ibu pergi keladang.


"Ternyata rujak jambu enak juga ya," ucap Nathan, mengambil satu iris buah jambu dan dicolekkan kesambal rujak. Mulutnya kepedasan, keringatnya bercucuran akan tetapi tidak membuat Nathan kapok, justru dia malah ketagihan.


"Iya, kamu belum makan rujak sebelumnya?" tanya Kirana, sembari menuangkan air putih ke gelas dan disodorkan kepada Nathan.


"Terima kasih, Adek sayang," ucap Nathan ketika menerima segelas air itu dan langsung meminumnya hingga tandas.


"Aku belum pernah makan makanan seperti ini, karena Mommy selalu menjaga pola makan kami, bahkan makanan kami selalu di awasi oleh ahli gizi," jelas Nathan, melanjutkan memakan rujaknya lagi.


Kirana menggigit bibir bawahnya merasa bersalah, karena selama dua hari di kampungnya ia memberi Nathan makan seadanya.


"Jangan merasa bersalah, justru aku terima kasih kepadamu karena berkatmu aku bisa memakan masakan rumahan yang sudah lama ingin aku rasakan," ucap Nathan lagi, seolah tahu apa yang sedamg di pikirkan oleh kekasihnya


Kirana meringis sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Horang kaya memang beda ya."


"Siapa yang kamu sebut kaya? Aku orang biasa sama sepertimu," jawab Nathan, mencebik karena kekasihnya itu selalu membahas kastanya.


Kirana terdiam, menatap Nathan yang sedang asyik memakan rujaknya. "Mas?" panggil Kirana.


"Heum." Nathan hanya berdehem sebagai jawaban, karena mulutnya penuh dengan rujak jambu air.


"Aku mau mengucapkan terima kasih banget sama kamu karena sudah mau membantu Bapak dan Ibu," ucap Kirana dengan tulus.


"Sama-sama. Tapi, semua itu tidak gratis," jawab Nathan, sembari menatap mesum kekasihnya.


"Otakmu selalu saja mesum! Jadi orang yang ikhlas kek!" sungut Kirana, sembari menyilangkan kedua tangannya didada.


Nathan tergelak saat melihat kekasihnya mengamuk. "Kamu harus membayarnya disaat malam pertama kita nanti, bagaimana?" Nathan berbicara sembari menaik turunkan alisnya.


BLUSH


"A ... aku mau ke dalam dulu, ini airnya habis," ucap Kirana terbata sembari mengangkat teko berukuran sedang yang memang airnya sudah kosong.


Nathan tergelak keras ketika melihat kekasihnya lari terbirit memasuki rumah.


*


*


"Apa kamu yakin jalannya kesini?" tanya Jeje, kepada Ansel yang sedang menepikan mobilnya di tepi jalan.


"Ya, Mommy sayang. Ini lihat sendiri," Ansel memperlihatkan Google Maps yang terpampang di layar ponselnya. Jeje menganggukkan kepalanya, kemudian Ansel mulai menekan pedal gas mobilnya dengan kecepatan sedang.


"Bisa lebih cepat sedikit? Punggungku terasa sangat sakit," gerutu Xander kepada putranya.


"Apa Daddy tidak melihat jika jalannya rusak seperti ini? Banyak batu dan juga lumpur. Jadi berhentilah mengeluh!" jawab Ansel dengan sangat kesal.


"Ih! Mommy bisa stres lama-lama jika seperti ini! Kalian terus saja meributkan hal yang sepele!" Jeje meluapkan kekesalannya.


"Maaf Honey, setelah pulang dari sini kita liburan keliling dunia agar kamu tidak stres lagi. Okay!" ucap Xander seraya mengelus pucuk kepala istrinya. Jeje memutar kedua matanya dengan malas, suaminya itu selalu saja bersikap berlebihan.


"Huh! Kambuh lagi penyakitnya! Dasar bucin akut!" dumel Ansel, yang masih dengar Xander.


"Daddy mendengarnya, Boy!" tegur Xander.


"Bodo Amat!!" jawab Ansel, menoleh kebelakang sesaat lalu menjulurkan lidahnya, meledek ayahnya.


"Ya! Kurang garam!" Xander menepak pundak Ansel dengan keras, lantaran terlalu kesal.


"Sakit Dad! Mommy lihatlah Daddy memukulku!" Adu Ansel, sambil mengusap pundaknya dengan tangan kanannya.


Jeje memijat pelipisnya seraya berdecak kesal, melihat ayah dan si bungsu tidak pernah akur.