My Hot ART

My Hot ART
From Hate To Love?



Gwen mengelus lengan berotot Aiden dengan gerakan sangat lembut, dan tangannya itu semakin merambat naik hingga berhenti tepat di tengkuk pria tersebut.


"Menurutmu aku mau apa?" Gwen menarik tengkuk Aiden, menatap mata tajam itu dengan intens.


"Jangan memancingku! Gwen Aurora!" desis Aiden tertahan. Kali ini keadaan terbalik, jika tadi dia yang merasa tersudut tapi sekarang Gwen yang disudutkan oleh Aiden disudut dapur itu.


Gwen tersenyum miring, dan dia yakin jika pria dihadapannya itu tidak akan melakukan hal yang melewati batas.


"Oh ya? Apa yang akan kamu lakukan kepadaku? Mau menciumku? Ayo lakukan saja. Bibirku masih perawan dan juga pasti sangat lembut dan kenyal," tantang Gwen, mengelus rahang tegas Aiden seraya menyapu permukaan bibirnya dengan lidahnya.


Aiden mengumpat kesal di dalam hati saat melihat bibir berwarna pink alami itu terlihat sangat menggoda dimatanya. Dia sudah tidak bisa menahannya.


Dia tidak bersalah bukan? Gadis itu yang menggodanya dan menyerahkan diri kepadanya.


Murahan. Batin Aiden menilai Gwen.


Aiden menarik tengkuk Gwen, semakin mendekatkan wajahnya. Ia melihat Gwen yang memejamkan matanya terlihat pasrah saat akan dicium olehnya. Kemudian .....


BUGH


"Argghh! Shitt!" umpat Aiden, saat mendapat pukulan keras di perutnya. Aiden menundukkan badannya seraya memegangi perutnya yang terasa mulas, sakit dan nyeri bercampur menjadi satu.


"Cih! Kamu pikir bisa menyentuhku sesuka hatimu? Dasar pria brengsek!" umpat Gwen, seraya menatap Aiden dengan sinis.


"Dasar gadis gila!" balas Aiden, sembari menegakkan badannya berusaha menahan sakit diarea perutnya yang masih terasa.


Gwen bersedekap didada dan menatap Aiden dengan angkuh. "Aku memang gila! Jadi jangan pernah bermain-main denganku! Cih, apakah perutmu terasa sakit? Dasar lemah!" cibir Gwen tersenyum miring lalu berjalan meninggalkan area dapur dan menuju kamar Oma Airin.


Aiden terus mengumpati Gwen yang mulai menjauh darinya.


"Gadis itu benar-benar membuat tekanan darahku naik!" umpat Aiden lagi, saat dirinya sudah berada didalam lift menuju lantai tiga dimana kamarnya berada.


Ting


Lift yang ia naiki sudah berada dilantai tiga, ia berjalan masih sedikit membungkukkan badannya.


"Are you oke?" tanya Ansel yang baru keluar kamar, melihat Saudaranya berjalan menunduk kesakitan.


"Menurutmu?" Balik bertanya dengan nada ketus.


"Mana aku tahu! Tapi jika dilihat dari kondisimu, kamu sedang tidak baik-baik saja," jawab Ansel, dengan nada mengejek.


"Ck!" Aiden berdecak kesal menanggapinya, seraya membuka pintu kamarnya dan diikuti oleh Ansel.


Sampai didalam kamar Aiden menceritakan semua yang dialaminya kepada Ansel. Bukannya bersimpati, Ansel malah tertawa terbahak dan mendukung tindakan Gwen kepadanya.


"Tahan Bro tahan! Kamu juga yang salah mau nyosor saja kayak bebek," ucap Ansel, disela tawanya.


"Dia yang menggodaku lebih dulu!" balas Aiden tidak mau disalahkan.


"Namanya juga bocah, harusnya kamu tidak menanggapinya dengan serius. Eh, tapi, Gwen cantik banget loh, boleh tuh kalau kamu jadiin pacar," saran Ansel, langsung mendapat tonyoran kepala dari Aiden.


Ansel mencebik, sembari mengelus keningnya yang baru saja ditonyor oleh Aiden.


"Kamu saja sana, aku sih ogah sama gadis bar-bar seperti dia," jawab Aiden, sambil merebahkan dirinya diatas tempat tidur.


"From Hate To Love, So berhati-hatilah." Ansel menimpali seraya melirik Aiden yang tampak terdiam.