
"Hei Brother!! Are you crazy!" maki Aiden kepada Ansel.
Sedangkan Jeje dan Xander memijit pelipisnya bersamaan. Pusing dengan 2 putranya yang merengek untuk segera menikah.
Nathan melihatnya sambil makan kuaci dan sesekali mengusap perut istrinya yang sudah terlihat buncit, padahal kehamilannya baru memasuki 3 bulan.
"There is something wrong?" Ansel menaikan ke dua bahunya sambil menatap sengit Aiden.
"Wait! Ini bukan ada yang salah tapi ada sesuatu yang sudah kalian lakukan?" Nathan sebagai penengah diantara dua saudaranya itu.
"Memang apa yang aku lakukan? Aku ini anak manis dan menggemaskan!" jawab Ansel wajah sok imutnya.
"Cih! Aku ingin mual mendengarnya!" umpat Aiden.
"Benar yang di katakan Nathan, pasti kalian sudah melakukan kesalahan yang besar! Ayo ngaku!" Jeje membuka suara dan menatap tajam kedua putranya itu.
"Terutama kamu, Ans! Bukankah kamu baru mengenal Melisa. Mommy tidak mempermasalahkan statusnya apa, asalkan dia orang yang baik. Tapi, yang menjadi pertanyaan, kenapa kamu tiba-tiba ingin menikahi dia? Apakah sudah terjadi sesuatu diantara kalian?" tanya Jeje dengan penuh selidik. Jeje yakin jika putra bungsunya itu sudah melakukan suatu hal yang fatal.
"Mom, bukankah niat baik itu harus di segerakan? Niatku baik bukan? Ingin menjadi suami dan ayah yang baik untuk Melisa dan Zahra, mereka butuh perlindungan," jelas Ansel, sekaligus beralasan.
"Ucapanmu sudah seperti orang yang benar saja!" cibir Aiden.
"Ya!" kesal Ansel, ingin menimpuk Aiden dengan bantal sofa.
"Diam!!" amuk Xander yang sudah tidak tahan dengan semua ini.
Seketika itu, semua orang yang ada di ruang pribadinya itu langsung menundukkan kepalanya.
"Dad, sabar." Jeje mengusap pundak suaminya berulang kali, dengan gerakan lembut.
Xander menghela nafasnya dengan kasar. Lalu menatap kedua putranya itu. "Daddy menyetujui niat baikmu, Ans. Tapi, apakah kamu sudah meyakinkan hatimu? Membina rumah tangga bukan suatu hal yang muda, karena menyatukan dua hati menjadi satu. Apalagi, Melisa sudah mempunyai seorang putri, dan kamu juga harus menyayangi dan menerima Zahra seperti putrimu sendiri?"
"Yes, I Know, Dad. Aku sudah memikirkan ini dengan matang, dan aku sudah yakin dengan hatiku," jawab Ansel dengan tegas, tanpa ada keraguan sama sekali.
"Iyeeeeessss!" Ansel berselebrasi layaknya pemain sepak bola mencetak gol kemenangan.
"Dad! Lalu aku bagaimana?" tanya Aiden sambil menunjuk dirinya sendiri.
"Tunggu Gwen lulus sekolah," jawab Xander dengan tegas.
"Oh .. No!!" pekik Aiden kesal, karena menurutnya daddy-nya tidak adil.
Nathan dan Kirana menahan tawanya ketika melihat ekspresi Aiden yang cemberut kesal.
"Kawinn ... Kawin ... Besok aku kawin!" Ansel bernyanyi sambil meledek Aiden yang tengah menatapnya dengn tajam.
Xander dan Jeje menepuk jidatnya bersamaan melihat tingkah anak bungsunya itu
"Enyah kau!" umpat Aiden, segera beranjak dari duduknya dengan perasaan kesal, keluar dari ruang pribadi ayahnya.
Aiden berjalan menuruni tangga sambil menggerutu kesal.
"Kamu kenapa?" tanya Gwen, yang melihat Aiden terlihat kesal.
Aiden menghentikan langkahnya, lalu menarik tangan Gwen menuju kamar tamu yang kosong tidak jauh dari sana.
"Aiden, kamu ini kenapa sih?" Gwen heran dengan sikap Aiden.
"Aku merindukanmu," jawab Aiden, lalu menarik tengkuk Gwen dan melumaat rakus bibir ranum Gwen, sehingga membuat kekasihnya itu kehabisan nafas.
"Kamu gila!" umpat Gwen, sambil mengirup udara sebanyak-banyaknya, saat Aiden melepas ciuman tersebut.
Aiden tidak menjawab, melainkan mencium bibir Gwen lagi tapi kali ini dengan lembut tidak seperti yang pertama tadi. "I Love You, Gwen," ucap Aiden, disela ciumannya.
Gwen jadi pelampiasan kekesalan Aiden, ya. Aku juga mau dong, Bang. 🤣🤣