My Hot ART

My Hot ART
Bonus Chapter 10



"Ya amidong!!!! Hot jeletott!!!!" pekik Nue, ketika melihat menantu dan putrinya sedang berpatukan di ruang makan.


"Papi!" Gwen merasa sangat malu sekali, karena ketahuan mesum oleh ayahnya sendiri. Sedangkan Aiden tersenyum canggung sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"He he he, maaf, Papi mengganggu ya? Ya, sudah di lanjutkan," ucap Nue, lalu segera membalik badannya, kembali menuju kamarnya, niat hati ingin mengambil air minum karena tenggorokannya kering keronta, malah melihat pemandangan yang membuat jangkunnya naik turun. "Kan, eike juga pengen," gumam Nue dengan gaya gemulai, seraya berlari kecil menaiki tangga.


Aiden dan Gwen melongo saja melihat kepegian Nue, lalu mereka saling pandang. "Kamu sih! Malu 'kan!" Gwen memukul pundak suaminya dengan pelan.


Aiden tersenyum meringis dibuatnya, lalu berkata, "sudah terlanjur. Yuk! Lanjut di kamar!" Aiden langsung berdiri lalu menggendong tubuh istrinya, menuju kamar mereka.


Sampai di dalam kamar, Aiden mendudukkan Gwen di tepi tempat tidur, kemudian ia melepaskan kaosnya dan memperlihatkan tubuh bagian atas yang sangat kekar dan berotot.


Gwen menelan ludahnya dengan kasar, saat melihat pemandangan yang sangat menggodanya itu. Apalagi pandangannya kini turun ke bawah, menatap tonjolan di belok celana suaminya, dan ia yakin Si Tono nama adik kecil suaminya itu sudah bangun dari tidurnya, dan sebentar lagi akan meminta jatah makan kepadanya.


"Kenapa?" tanya Aiden, ketika Gwen menatapnya tidak berkedip. "Apakah aku sexy?" tanya Aiden, sembari meloloskan celananya, dan saat ini ia sudah polos tanpa sehelai benang di hadapan istrinya. Seketika itu Gwen menahan nafas sejenak, saat melihat senjata suaminya sudah berdiri tegak, terlihat sangat panjang, kekar, besar dan, berurat. Membayangkan benda itu melesak masuk ke dalam intinya, pasti terasa penuh dan sangat nikmat. Astaga, kenapa pikirannya menjadi kotor sekali sih?πŸ˜„


"Sayang." Aiden menundukkan kepalanya, seraya mengecup bibir istrinya sekilas. Gwen yang masih terpaku dan terkesima dengan senjata suaminya itu pun langsung tersadar.


"Ah, aku malu," ucap Gwen, seraya menangkup wajahnya yang bersemu merah dengan kedua tangannya. Ia merasa jadi pengantin baru saja, jantungnya berdebar-debar tidak karuan.


Aiden terkekeh melihat tingkah istrinya yang sangat menggemaskan. "Kenapa harus malu, bukankah setiap malam kamu selalu melihatnya dan merasakannya?" tanya Aiden, seraya mendorong tubuh ramping istrinya hingga terlentang di atas tempat tidur. Lalu ia mengangkat salah satu kaku Gwen dan menciumi kaki jenjang dan indah itu dengan penuh gairah.


Gwen memejamkan matanya saat merasakan sentuhan lembut itu, darahnya berdesir hebat. Walaupun hampir setiap malam mereka saling menyatu, tapi tetap saja sentuhan Aiden dan gerakan Aiden selalu membuatnya panas dingin.


Gwen memejamkan matanya erat, saat merasakan suaminya bermain di bagian intinya. Aiden menjauhkan wajahnya lalu menarik kain segitiga itu turun hingga lolos dari kaki jenjang Gwen.


"Ah ... emh." Gwen mendesaah saat Aiden menekan daging kecil yang ada dibagian intinya. "Sayang please," mohon Gwen yang sudah tidak tahan lagi.


"Sabar dong, malam ini akan menjadi malam panjang kita," ucap Aiden dengan suara paraunya, lalu menindih tubuh istrinya itu dan mencium bibir istrinya rakus dan menuntut, tidak lupa salah satu tangannya ikut andil meremat dua bukit istrinya yang masih terbungkus kain itu bergantian.


*


*


*


Kemudian ...


Bersambung sek, otakku mendadak nge-lagπŸ€£πŸ€£πŸ™


Maafkan aku yang masih volos ini...🀣


Jangan lupa like dan sawerannya yaβ€πŸ’ƒπŸ’ƒ