My Hot ART

My Hot ART
Jangan takut!



Four J melangkah masuk ke dalam rumah dengan tergesa, karena beberapa saat yang lalu Jeje menghubungi mereka untuk berkumpul di rumah karena ada suatu hal penting yang ingin di bicarakan.


"Sebenarnya ada apa ini?" tanya Aiden sembari melonggarkan dasinya.


"Aku juga tidak tahu!" Ansel yang menjawab pertanyaan Aiden.


"Dan aku harus meninggalkan meeting dengan klienku," gerutu Sean.


Aiden menatap kesal saudara kembarnya tapi tidak identik dengannya itu. "Klien apa? Model yang sangat seksi itu yang kamu sebut klien?" tanya Aiden, penuh sindiran.


Sean tersenyum sambil mengusap tengkuknya dengan kasar, karena ia ketahuan membawa model seksih ke dalam ruangannya.


"Kena penyakit baru tahu rasa lo!" sahut Nathan mengingatkan, karena Sean sering bergonta-ganti partner ranjang.


"Sudah aman dan bersertifikat jadi tidak perlu khawatir," jawab Sean santai, karena dia tidak sembarangan meniduri teman kencannya.


"Lebih enak main sama yang virgin! Satu lubang cuma buat kamu seorang," balas Nathan, seketika itu tiga saudara kembarnya langsung menoleh kearahnya.


"Kamu sudah nggak perjaka?" tanya Ansel penuh selidik.


"Iya, kamu diam-diam ternyata mengkhawatirkan," sela Aiden.


"Memang kenapa? sudah dewasa ini 'kan? Yang penting tanggung jawab," balas Nathan, karena niat hatinya ingin menyindir Sean yang sering bergonta-ganti pasangan.


"Wah parah nih bocah!" seru Sean, menggelengkan kepalanya berulang kali, karena tidak menyangka jika Nathan lebih bejat darinya. Walaupun dia sering gonta-ganti pasangan tapi dia tidak pernah merusak keperawanan seorang gadis.


Tidak berselang lama, mereka sudah sampai di ruang kerja Daddynya.


Di ruangan tersebut sudah ada Jeje, Xander, Oma Airin dan Kirana yang sedang menundukkan kepala.


Ada apa ini? Batin Four J bersamaan.


"Apa kalian tahu kenapa berkumpul di sini?!" Suara bariton itu terdengar sangat mengerikan, hingga membuat bulu kuduk berdiri.


Four J menggeleng pelan, tapi mata mereka tertuju kepada Kirana yang duduk di samping Ibu mereka.


Xander memperlihatkan layar laptopnya yang sedang memutar rekaman CCTV kepada Four J.


Mata ke empat pria itu membulat sempurna saat melihat rekaman CCTV tersebut. "Jadi dia wanita yang sudah kamu ambil keperawanannya?" celetuk Ansel kepada Nathan, sambil menunjuk Kirana.


Kirana mendongak dan terkejut saat mendengar penuturan anak asuhnya itu.


"Apa?!" seru Xander, Jeje dan Oma Airin tidak kalah terkejut.


Nathan menalan ludahnya dengan kasar, ia mengedarkan matanya keseluruh ruangan tersebut, menatap satu persatu orang yang ada di dalam ruangan itu dan terakhir ia menatap wajah Kirana yang terlihat kecewa kepadanya, sepertinya gadisnya itu salah paham kepadanya.


"Tunggu aku bisa jelaskan semuanya." Nathan berucap, namun matanya masih tidak lepas dari wajah Kirana yang terlihat terluka.


"Jadi benar kalian sudah wik-wik?" sela Oma Airin.


"Tidak Oma! Saya masih perawan!" ucap Kirana dengan tegas, ia menepis semua tuduhan itu. "Jika tidak percaya, kalian bisa melakukan tes keperawanan," lanjut Kirana lagi.


"Aku tidak percaya dengan perkataanmu! Apa lagi Ansel bilang kalau Nathan sudah mengambil keperawaanmu! Oh!! Atau kamu ingin mengatakan jika Nathan membobol keperawanan seorang gadis lain? Begitu?" Jeje seolah tahu apa yang ada di pikiran Kirana.


"Iya, bisa jadi begitu 'kan," cicit Kirana tapi Jeje masih mendengarnya.


"Oh! Ya ampun!! Aku kenal dengan putraku dan kami selalu mengawasi mereka 24 jam, jika berada di luar rumah mereka akan di awasi oleh bodyguardnya masing-masing dan jika di dalam rumah kamu lah yang mengurus dan mengawasi mereka!!" ungkap Jeje, membuat Four J sangat terkejut, karena mereka tidak tahu jika mempunyai bodyguard bayangan yang selalu mengawasi mereka.


"Jadi sekarang berterus teranglah, jangan takut! Kami selalu mendidik putra kami untuk mempertanggung jawabkan kesalahan mereka," ucap Jeje.


Kenapa di sini aku yang di sudutkan, sih? Batin Kirana, merasa tidak beres dengan semua ini.