
Malam menjelang, Sean dan Irene pulang bersamaan ke paviliun. Sean menurunkan istrinya dari atas motor dengan sangat hati-hati. "Sepertinya gue harus menjual motor ini dan membeli motor matic, agar lo nggak kesusahan untuk naik atau turun motor, nanti uang sisanya bisa di tabung untuk biaya persalinan," ucap Sean, seraya merangkum bahu istrinya dengan mesra, membawanya masuk ke dalam paviliun tersebut.
"Apa tidak apa-apa? Itu 'kan motor kesayangan kamu," jawab Irene dengan sendu.
Sean tersenyum menanggapinya, sebenarnya ia merasa berat akan tetapi ia tidak boleh egois. "Semua ini buat kenyamanan lo, Ren," jawab Sean seraya menjatuhkan bokong di atas sofa dan di ikuti oleh Irene.
"Nggak perlu, Se. Lebih baik beli motor Second saja dan yang motor kamu itu bisa di simpan dulu. Sayang kalau di jual," ucap Irene.
"Tapi ...."
"Sean, aku nggak mau kalau hanya demi aku, kamu harus kehilangan barang yang kamu sayangi. Motor Second 'kan harganya lebih murah," jelas Irene, sembari mengelus punggang tangan suaminya dengan lembut.
Sean tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, lalu mengusap pucuk kepala istrinya dengan penuh kelembutan. "Lo sudah nggak mual lagi dekat-dekat sama gue?" tanya Sean, menatap sayu istrinya.
Irene terperanjat, baru tersadar kalau tidak merasa mual berdekatan dengan suaminya. "Nggak tahu, tapi sepertinya sudah tidak," jawab Irene, seraya memalingkan wajahnya. Di tatap seperti itu membuat dadanya berdetak tidak karuan, ia tahu apa yang di inginkan oleh suaminya. Apalagi sudah satu bulan, Sean tidak mendapatkan jatah darinya, karena merasa mual jika berdekatan dengan Sean.
Tangan Sean terulur untung mengusap punggung tangan Irene dan sedikit meramatnya, sorot matanya begitu mendamba dan menginginkan Irene. "Jadi, malam ini boleh?" tanya Sean dengan nada yang berbisik, seraya mendekatkan wajahnya di telinga Irene, dan menggigit kecil cuping telinga Irene dengan nakal dan menggoda.
Tubuh Irene meremang di buatnya, perlahan ia menganggukkan kepalanya malu. "Tapi kita mandi dulu," jawab Irene.
Sean tersenyum senang, seraya beranjak dan menggendong istrinya menuju kamar mandi.
"Sean!" pekik Irene, terkejut dengan aksi suaminya yang tiba-tiba menggendong dirinya.
"Aku tidak akan melakukannya disini," ucap Sean seraya mencubit gemas pucuk dada milik istrinya, hingga membuat Irene melenguh.
Sean segera melucuti pakaiannya juga hingga polos, lalu menarik Irene mendekat ke arahnya. Dan aktifitas mandi yang penuh dengan rangsangan itu pun di mulai. Sean menepati janjinya tidak akan melakukannya di dalam kamar mandi.
Dengan tubuh yang masih basah kuyup, Sean menggendong lagi istrinya menuju kamar mereka. Merebahkan tubuh mungil Irene ke atas tempat tidur yang berlapiskan sprei motif abstrak.
"Sean, aku dingin," racau Irene sembari menyilangkan kedua tangannya di dada. Udara yang sejuk menyapu permukaan kulitnya yang masih lembab dan basah itu.
"Gue akan menghangatkan tubuh lo," jawab Sean, seraya merangkak naik ke atas tubuh Irene, mengungkung tubuh mungil itu. Sean menatap pusakanya yang sudah menjulang tinggi dan menganggukkan kepalanya berulang kali. "Jon, akhirnya lo ketemu si bestie, cieeee ...." batin Sean.
...****************...
Ciee ... Si Joni ketemu bestie🤣🤣🤣
Apa kabar kalian semunya?❤❤
Emak ada novel baru di Fi*zo, bila berkenan mampir yuk dan ramaikan. Judul novelnya PERCUMBUAN TUAN DAN BABYSITTER HOT, di jamin hot jeletot🔥🔥
Terima kasih❤❤