My Hot ART

My Hot ART
Dasar pengecut!



"Ada apa, Se?" tanya Irene, menatap Sean yang berdiri diambang pintu. Mas Dodi yang membelakangi pintu pun menoleh dan terkejut saat melihat Sean berada di belakangnya, dan yang lebih membuatnya terkejut saat mendengar Irene memanggil Sean tanpa sebutan Bapak atau Boss.


Ada hubungan apa mereka? Batin Mas Dodi.


Ya, seluruh karyawan disana memang tidak tahu jika Sean sudah mengundurkan diri dari jabatan CEO Warjah Grub. Hanya Irene dan Aiden yang tahu, karena Xander memang sengaja menutup rapat masalah Sean yang dianggap aib keluarga.


"Pak," sapa Mas Dodi, beranjak dari duduknya dan menundukkan kepalanya, bertanda memberikan hormat kepada Sean.


Sean menatap datar Mas Dodi dan Irene bergantian, dadanya masih terasa panas dan ingin sekali dirinya mencolok mata pria yang ada dihadapannya ini karena sudah berani menatap Irene terlalu lama.


"Lo kok ada disini?" tanya Sean dengan nada kesal kepada Mas Dodi.


"Saya mau memberikan berkas kepada Pak Aiden, Pak," jawab Mas Dodi, lalu menundukkan kepalanya, bertanda memberikan hormat.


"Lo 'kan bisa nitipin berkasnya ke Irene! Keluar sana! Jam kerja sudah di mulai!" usir Sean.


"Ya, maaf," ucap Mas Dodi lalu segera keluar dari ruangan tersebut dengan jantung yang berdetak tidak karuan karena baru kali ini melihat Sean marah.


Irene yang melihat itu semua hanya menggelengkan kepalanya dengan pelan. Karena menurutnya, sifat Sean sangat keterlaluan.


"Kamu kenapa sih?" tanya Irene, bersedekap didada dan menatap Sean penuh dengan kekesalan.


"Lo tanya gue kenapa? Lo itu peka nggak sih?" tanya Sean, berjalan mendekat lalu menutup pintu ruangan tersebut.


"Terserahlah!" kesal Irene, lalu mendudukan diri dikursi kerjanya, mulai mengambil berkas yang ada dihadapannya untuk ia periksa tanpa memperdulikan Sean yang menatapnya dengan tajam.


Sean sangat geram karena dirinya diabaikan oleh Irene. "Ren!" Sean mendekati Irene dan langsung menarik kursi yang diduduki oleh Irene, hingga membuat gadis itu menghadap kearahnya.


"Kenapa tadi lo berduaan dengan Dodot itu! Gue nggak suka lihatnya!" ucap Sean, sembari menatap wajah cantik Irene yang terlihat kesal kepadanya, namun melah terlihat semakin cantik dimata Sean.


"Memangnya kenapa? Aku 'kan jomblo dan bebas sama siapa saja!" jawab Irene dengan santai, malah semakin membuat dada Sean terasa panas.


"Kamu juga nggak ada hak buat ngatur kehidupan aku!" lanjut Irene lagi, lalu mengatur kursinya ke posisi semula, menghadap meja kerjanya.


Sean menghela nafasnya dengan kasar, dan mengumpati dirinya sendiri karena tidak berani mengungkapkan perasaannya.


Ayolah Sean! Tinggal bilang 'Gue suka sama Lo, Ren.


Dasar pengecut!


"Nggak ada yang mau di omongin lagi 'kan? Silahkan keluar dari ruanganku." Irene berucap sembari menunjuk pintu ruangannya.


CK


Terdengar decakan kesal dari bibir Sean, sambil membuka pintu ruangan tersebut. "Nanti sore gue jemput!"ucap Sean, sebelum keluar dari ruangan tersebut.


Irene menyandarkan punggungnya disandaran kursi saat melihat Sean sudah keluar dari ruangannya. "Dia melarangku untuk berdekatan dengan pria lain? Sedangkan dia pamer kemesraan didepan umum sama cewek lain!"


"Dasar egois! Memangnya dia pikir itu siapa!" kesal Irene, seraya menghembuskan nafas lelahnya, dan juga megurangi rasa sesak didalam dalam dadanya.


Kasih vote, like, komentar dan juga kopi, makasih❤