
Sean menghela nafas panjang saat sampai di rumah. Istrinya itu masih mendiamkan dirinya.
"Bunda, ayo dong jangan marah lagi," bujuk Sean, mengikuti Irene yang menggendong Sany menuju kamar mereka.
"Ck!" Irene berdecak kesal, saat suaminya menghadang di depan pintu.
"Ayah." Sany menatap Sean dengan mata yang berbinar, lalu mengulurkan kedua tangannya ke arah Sean, bertanda jika dirinya meminta di gendong.
"Anak, Ayah, yang paling cantik." Sean langsung mengambil alih putrinya itu dari gendongan sang istri. Lalu Sean menciumi wajah putrinya itu dengan gemas, namun matanya sesekali melirik Irene yang masih tampak cemberut di hadapannya.
"Antuk." Sany menguap lebar lalu mengalungkan kedua tangannya di leher Sean.
"Kita tidur ya," ajak Sean, lalu menatap Irene yang memalingkan wajahnya, seolah enggan untuk menatap dirinya.
"Kita tidur, yuk! Sudah jangan marah lagi. Aku salah dan aku mengakuinya, Sayang," ucap Sean berusaha untuk membujuk istrinya itu.
Semenjak kehadiran putri mereka, Sean mengubah panggilan dari Gue-lo menjadi Aku-kamu atau Ayah-Bunda, semua itu ia lakukan agar putrinya tidak mengikuti gaya bicaranya yang slengekkan.
"Kamu keterlaluan! Awas saja kalau di ulangi lagi! Memangnya kamu kira anak kamu ini cucian!" omel Irene kepada suaminya itu.
"Ya, maaf." Hanya itu yang Sean ucapkan saat ini, dari pada ia salah ucap lagi dan menyebabkan dunia perkasurannya kering keronta. Oh, Sean tidak mau jika hal itu terjadi.
Keluarga kecil itu sudah memasuki kamar. "Sany, cuci kaki, cuci tangan dan ganti baju duluya," ucap Irene kepada putrinya yang sudah mulai memejamkan kedua matanya.
"Antuk, Bunda," jawab Sany yang sudah terlentang di atas tempat tidur. Kedua matanya sudah tidak bisa di ajak kompromi, tidak bersalang lama gadis kecil itu terlelap dalam tidurnya.
Irene tersenyum tipis saat melihat putrinya sudah terlelap. Kemudian ia mengambil selimut untuk menutupi tubuh kecil putrinya itu. Setelah itu Irene menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
Sean memindahkan putrinya yang sudah terlelap itu ke atas tempat tidur berukuran quen yang di khusus untuk tidur Sany sendiri yang bersebelahan dengan tempat tidurnya.
"Bobok yang nyenyak ya, Nak. Ayah dan Bunda mau bikin adik bayi untuk Sany," bisik Sean, lalu mengecup kening putrinya dengan kasih sayang.
Tidak berselang lama Irene keluar dari dalam kamar mandi. "Kenapa Sany di pindahkan?" protes Irene kepada suaminya yang duduk di tepian tempat tidur.
"Aku kangen banget, Bun," ucap Sean lalu dengan cepat menarik Irene ke dalam pelukannya.
"Jangan mengadi-ngadi, Ayah. Kita setiap hari bertemu loh," jawab Irene, mendongak, menatap suaminya yang setinggi tiang listrik.
"Joni yang kangen sama Bestie. Duh, udah cenat-cenut nih," rengek Sean, lalu mengangkat tubuh mungil istrinya itu ke dalam gendongannya.
Irene memekik tertahan, lantaran takut terjatuh. Ia mengalungkan kedua kakinya di pinggang suaminya yang kokoh itu, dan kedua tangannya memegang pundak Sean.
"Sudah nggak marah lagi 'kan sama aku?" tanya Sean, sambil menatap wajah cantik istrinya yang masih terlihat imut dan menggemaskan, mungkin jika istrinya itu keluar rumah sendiri di sangka masih gadis oleh orang yang melihatnya.
"Nggak, Ayah," jawab Irene seraya menangkup wajah suaminya, dan melabuhkan kecupan manis di bibir tebal Sean yang sangat ia rindukan itu.
"Jadi boleh dong, kalau malam ini Si Joni ketemu sama bestie?" tanya Sean lagi.
"Nggak boleh, karena kamu harus puasa satu minggu lagi. Bestie sedang kedatangan tamu bulanannya," jawab Irene sambil menahan tawa saat melihat wajah suaminya yang sangat terkejut.
"Bunda, jangan nge-prank! Astaga, rasanya Si Joni sudah mau gumoh," keluh Sean, sembari memejamkan kedua matanya, mendadak kepalanya menjadi pusing karena hasratnya tidak kunjung tersalurkan.
"Aku bantu mau?" tawar Irene, sembari menaik turunkan kepalan tangannya, seolah seperti sedang mengurut sesuatu.
"Pakai ini." Sean menunjuk bibir mungil istrinya.
"Baiklah," jawab Irene lalu turun dari gendongan suaminya.
Dan selanjutnya Emak lepas tangan🤣😜
Traveloka dot kom 'kan kalian🤣
Jangan lupa dukungannya ya, kiss jauh, muachhhh😘😘