
Ansel mengeraskan rahangnya dengan ketat, sorot matanya kian menajam dan aura-nya semakin menggelap. "Aku semakin dengan keputusanku. Kamu tidak layak untuk aku pertahankan! Kita putus!" ucap Ansel dengan penuh ketegasan lalu keluar dari ruangan itu tanpa memperdulikan Ayu yang terus memanggilnya.
"Sial!" umpat Ayu seraya mengusap keningnya dengan kasar, ketika Ansel tidak memperdulikannya sama sekali.
"Jangan panggil aku Ayu jika tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan!" gumam Ayu dengan perasaan kesal. Ia baru menyadari satu hal, jika dia mulai mempunyai sebuah rasa kepada Ansel, sejak kejadian malam hari didapur itu. Bagaimana pun caranya, ia harus bisa merebut hati Ansel kembali. Kemudian ia segera pergi dari perusahaan tersebut dan akan kembali lagi lain waktu.
Sepertinya wanita itu sudah mulai terobsesi dengan Ansel.
"Dasar wanita gila! Aku sangat menyesal karena telah mengenal dan mencintai wanita sepertinya. Kenapa sifatnya jauh berbeda dengan Kirana, padahal mereka dari Desa yang sama," gumam Ansel, seraya mendudukan diri dikursi kerjanya, lalu memijat pelipisnya yang terasa pening.
*
*
*
Hari semakin siang, Aiden saat ini duduk terbengong memikirkan sikap Gwen yang berubah kepadanya. Sejak tadi pagi pikirannya tidak fokus dan selalu tertuju kepada Gwen seorang. "Kenapa harus terus memikirkannya? Dia mau berubah atau tidak seharusnya aku tidak perlu pusing!" kesal Aiden kepada dirinya sendiri.
"Arghhh!!" Aiden sampai mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi, karena terus memikirkan Gwen.
"Anda baik-baik saja, wahai calon adik iparku?" suara Irene mengejutkan Aiden. Pria itu langsung menegakkan punggungnya seraya berdehem pelan. Entah sejak kapan gadis cupu itu berada disana.
"Sejak kapan kamu disitu!" ketus Aiden, sembari menerima dokumen dari Irene, lalu membacanya sejenak kemudian membubuhkan tanda tangannya disana.
Irene menggembungkan pipinya untuk menahan tawanya, sebelum menjawab pertanyaan Aiden. "Semenjak Bapak berbicara sendiri tentang 'dia' aku kepo dong, Pak, yang anda maksud itu siapa ya?" tanya Irene, mesam-mesem sembari menerima dokumen itu kembali lalu mendekapnya di dada.
Aiden mendengus kesal seraya menatap sebal Sekretaris-nya itu. "Dilarang Kepo!"
"Dih, pelit!" jawab Irene, lalu segera beranjak dari sana sembari menggerutu kesal.
Wushhh! Secepat kilat Irene langsung kembali keruangannya.
"Irene!!!!!!" teriak Aiden, kesal bukan kepalang kepada Sekretaris-nya itu yang sudah berani meledeknya. "Otaknya sudah tercemar oleh Sean!" kesal Aiden.
"Tunggu dulu? Apa yang dikatakan Irene benar ya? Kalau aku sudah mulai punya rasa dengan dia? Tapi, tidak mungkin!" Aiden berusaha mematahkan dugaannya itu. Mana mungkin dirinya jatuh cinta dengan gadis bau kencur seperti Gwen yang bukan tipe-nya sama sekali.
Tapi, kenapa dadanya berdebar tidak karuan saat mengingat ciuman panasnya bersama Gwen dan juga membuat sesuatu yang sedang bobok ganteng dibalik celananya itu mulai mengangkat kepala.
Ceklek
Pintu dibuka dari luar dan masuklah Gwen masih lengkap dengan seragam sekolah dan tas punggung berwarna navy yang melekat dikedua pudak gadis itu.
Jantung Aiden semakin berdetak tidak karuan saat melihat Gwen, ia meraba dada kirinya.
"Hai, hati. Apakah kamu sudah berpaling dari Kirana?" batin Aiden.
"Ayo pemotretan sekarang!" ucap Gwen dengan malas, tanpa minat menatap Aiden.
Aiden menatap jam mewah yang melingkar di pergelangan tangannya. "Hari sabtu tidak ada pemotretan, Gwen," jawab Aiden.
"Owh, ya sudah aku pulang," balas Gwen, tanpa banyak kata lagi. Ia langsung keluar dari ruangan Aiden.
Aiden semakin heran dengan sikap Gwen yang berubah 180 derajat. "Aneh, kenapa aku malah suka dia yang bawel, bar-bar dan suka cari masalah?" gumam Aiden.
Bentar lagi kena virus bucin🤣🤣🤣