My Hot ART

My Hot ART
Onderdil bekas?



Aiden mengernyit saat melihat Irene dengan penampilan barunya. "Ren?" panggil Aiden.


Irene yang sedang berdiri kaku ditempatnya sambil menatap Sean dan Gwen pun tersadar dan segera melangkah mendekati meja atasannya itu.


Begitu pula Sean terperanjat dan langsung mendudukan diri, seraya mendorong Gwen agar menghentikan aksinya.


"Wow!" Aiden berdecak kagum saat melihat penampilan baru Irene yang terlihat sederhana namun tetap terlihat sangat cantik.


Irene yang ditatap seperti itu menjadi tersipu malu, lalu menundukan pandangannya.


Sean lagi-lagi mengeraskan rahangnya saat melihat saudaranya manatap Irene penuh kekaguman.


"Kamu cantik banget loh. Kenapa nggak dari dulu begini?" puji Aiden, masih menatap Irene.


"EHEMMM!" Sean berdehem sangat keras, membuat Gwen yang berada didekatnya sampai menutup kedua telinganya.


Irene menoleh sekilas kearah Sean, lalu memfokuskan lagi pandangannya ke arah Aiden. "Maaf, Pak. Saya mau menyerahkan surat kontrak kerja yang Bapak minta kemarin," ucap Irene sembari menyerahkan Map berwarna kuning kepada Aiden.


Aiden menerimanya lalu membuka Map tersebut dan membacanya dengan teliti takut jika ada kesalahan. "Gwen, tanda tangani surat perjanjian ini!" seru Aiden.


Gwen melangkah malas ke meja Aiden seraya mendudukkan diri dikursi yang berseberangan dengan pria tersebut. "Mana, Om?"tanya Gwen, seraya mengulurkan tangannya kearah Aiden.


Plak


Aiden memukul kepala Gwen dengan Map yang di pegangnya.


"Aw! Sakit tahu!" Gwen berengut sambil mengusap kepalanya. Lalu menerima Map tersebut dengan rasa malas, dan langsung menandatangani kontrak kerja tersebut tanpa membacanya terlebih dahulu.


"Biar tahu rasa kamu!" kesal Aiden, karena merasa tidak terima di panggil 'OM' oleh Gwen.


"Sudah." Gwen menyerahkan kontrak kerja itu lagi kepada Aiden. "Jadi kapan aku mulai pemotretan?" tanya Gwen.


"Makanya dibaca dulu sebelum menandatangani kontrak kerjanya! Kamu mulai pemotretan besok, setelah pulang sekolah dan kamu dikotrak selama satu tahun," jelas Aiden dengan perasaan dongkol.


"Itu sih deritamu sendiri!" balas Aiden, seraya mengenggelengkan kepalanya dengan pelan, lalu menyerahkan surat kontrak kerja tersebut kepada Irene.


"Kalau begitu saya permisi, Pak," pamit Irene undur diri, dan Aiden menganggukkan kepalanya pelan.


Sean mengikuti langkah Irene yang keluar dari ruangan tersebut, dan tentu saja pergerakannya diperhatikan oleh Aiden.


Aiden tersenyum penuh arti, lalu menganggukkan kepalanya berulang kali.


*


*


*


Setelah Sean dan Irene keluar dari ruangan tersebut, kini tinggal lah Aiden dan Gwen yang tersisa.


"Apa lihat-lihat!" ketus Gwen, saat Aiden menatapnya dengan sengit.


Aiden memutar kedua matanya dengan malas, seraya berdecak kesal. Kemudian ia mencondongkan tubuhnya kedepan. "Aku hanya ingin bertanya, apa kamu tidak curiga dengan mereka berdua?" tanya Aiden.


"Mereka berdua? Siapa?" Gwen balik bertanya.


"Sean dan Irene," jawab Aiden.


"Oh, curiga kenapa? Sah-sah saja kalau mereka saling suka. Eh! Wait!! Jangan-jangan yang dimaksud calon istri itu wanita tadi ya?" ucap Gwen baru tersadar jika tadi Sean menatap Irene dengan dalam.


"Hah?! Nggak mungkin. Tipe Sean itu kelas atas bukan wanita sederhana seperti Irene, tapi tidak apa-apa juga, lagi pula Irene adalah gadis yang baik," jawab Aiden.


Gwen menganggukkan kepalanya berulang kali. "Tapi, aku kasihan kalau Irene bersanding dengan Sean. Tahu sendiri jika saudaramu itu onderdilnya bekas," ucap Gwen tidak berfilter, membuat Aiden melotot sempurna.


Onderdil bekas katanya? Ya salam Gwen🤣🤣🤣