My Hot ART

My Hot ART
Si Tono?



Aiden menghentikan gerakannya dari alat leg press machine. Lalu menatap Sean, ia ingin mempertanyakan suatu hal yang beberapa hari ini menjadi beban pikirannya.


"Sean," panggil Aiden.


Sean hanya menjawab dengan deheman saja, tanpa menoleh.


"Aku ingin bertanya sesuatu." Aiden tampak ragu ingin mempertanyakannya.


"Apa? Tanya saja, gratis tidak di pungut biaya apa pun," jawan Sean dengan gaya tengilnya, membuat Aiden berdecak kesal.


"Aku mempunyai teman, dan kemarin bercerita kepadaku, jika dia hampir bercinta dengan kekasihnya, dia sudah memasukan senjatanya ke dalam milik kekasihnya, tapi tidak semuanya, hanya setengahnya saja. Apakah kekasihnya itu masih perawan?" tanya Aiden mengatas namakan temannya.


"Teman? Siapa?" tanya Sean, karena ia pun mengenal semua teman Aiden.


"Ada teman baru, namanya Tono," jawab Aiden, menutupi kegugupannya.


"Tono? Namanya kampungan banget, dia pengusaha apa? Dan bisnisnya apa?" tanya Sean lagi, kali ini ia menatap Aiden penuh selidik.


"Ck! Nggak usah banyak tanya! Jawab saja pertanyaanku itu." Aiden mulai kesal dengan saudara kembarnya itu, tapi ia juga merasa sangat gugup.


"Baiklah, kalau menurut cerita yang teman lo itu. Kekasihnya itu sudah tidak perawan," jawab Sean, membuat Aiden melotot sempurna.


"Yang benar, Se? Tapi, bukankah cuma di masukan setengah? Dan tidak keluar darah perawannya?" Wajah Aiden mulai panik.


"Cuma orang bego yang berfikiran seperti itu! Kalau sudah masuk ke dalam inti wanita yang masih perawan mau sedikit, setengah atau seluruhnya sekali pun, itu namanya sudah merusak milik si gadis itu sendiri! Yang artinya sudah merusak keperawanan gadis itu sendiri. Maka dari itu, sebejat-bejatnya gue, tidak pernah bermain dengan gadis yang masih perawan. Kecuali istri gue sendiri," jelas Sean.


"Ah, gawat!" gumam Aiden, tapi masih di dengar oleh Sean.


"Apanya yang gawat? Kok muka lo jadi panik begitu sih?" Sean menatap Aiden penuh selidik.


"Si Tono harus bertanggung jawab sama kekasihnya dong? Yang bikin aku panik, katanya kekasih Si Tono masih sekolah SMA," jawab Aiden.


"What! Masih SMA? Dasar pedofil!" geram Sean.


"Nggak juga," jawab Aiden, bergegas keluar dari ruang Gym itu, karena takut jika Sean bertanya lebih banyak lagi.


"Aiden!" seru Sean.


"Aku harus bagaimana ini? Apakah aku harus menikahi Gwen saat ini juga? Tapi, dia masih sekolah," gumam Aiden saat sudah berada di dalam kamar. Kepalanya menjadi pusing, dan tubuhnya menjadi sangat lemas, saat mendengar penjelasan Sean tadi.


"Argghh! Ini akibatnya kalau tidak bisa menahan hawa nafssu!" Aiden mengacak rambutnya dengan perasaan kesal kepada dirinya sendiri. Kemudian ia segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, juga menyegarkan kepalanya.


*


*


*


*


"Kamu gila Aiden!" amuk Jeje, lalu menggeplak tangan putranya itu dengan keras.


"Sakit, Mom!" Aiden meringis, sembari mengusap tangannya berulang kali yang baru saja di pukul oleh ibunya.


Xander memijat pangkal hidungnya. Pusing dengan permintaan putranya yang ingin segera di nikahkan dengan Gwen.


"Masalah Ansel saja belum ada titik terangnya, dan sekarang di tambah permintaan kamu itu! Apa sudah tidak bisa di tahan lagi? 3 bulan lagi, Gwen akan tamat sekolah!" omel Jeje, menatap tajam putranya.


"Selesai masalah Sean, lalu Ansel dan sekarang kamu! Oh, atau jangan-jangan kamu sudah mencicil membuat dede bayi, ya?!" tuduh Jeje, sembari menuding putranya dengan perasaan kesal bercampur emosi.


"Ti ... tidak, Mom!" sanggah Aiden, sembari mengggoyangkan telapak tangannya di depan dada. Namun, wajahnya terlihat panik, dan jantungnya berdetak tidak karuan.


*


*


Author: "Iya, Mom. Bang Aiden udah nyicil bikin kuping sama hidung dede bayi." 🤣🤣🤣


Aiden: "Tak slepet modyar kowe!"


Saweranya mana bestie? Jangan lupa tinggalkan likenya juga ya❤❤😘