My Hot ART

My Hot ART
Perhatian yang terselubung



Pasti bakalan kesel banget baca part ini, yang jelas keselnya sama Bang Ai, ya!😆


Berharap jika setelah mengatakan cinta, hati pria yang sedingin es itu mencair. Berharap jika cintanya akan terbalaskan. Namun kenyataanya salah besar, dia terlalu berharap pada satu hal yang tidak mungkin ia dapatkan.


Cinta? Kata orang itu indah dan penuh warna? Tapi, kenapa tidak untuk Gwen? Dia yang harus mencintai dalam diam dan dia juga yang terus tersakiti.


Gadis cantik itu sedang meringkuk diatas tempat tidur sejak pulang sekolah, bahkan ia tidak mengganti seragamnya. Ia membenamkan wajahnya di permukaan bantal dengan posisi tengkurap.


Kesal, marah, kecewa, sedih, dan patah hati, bercampur menajadi satu dan berkecamuk didadanya. Ia sangat berharap tadi siang Aiden mengejarnya saat dia berlari, akan tetapi pria iru seolah acuh kepadanya dan langsung meninggalkan halaman sekolahan itu begitu saja. Tanpa memikirkan perasaannya.


"Sepertinya keputusanku sudah tepat untuk melupakannya," lirih Gwen, disela tangisnya.


Ceklek


Pintu kamar terbuka dari luar, suara langkah kaki mendekati tempat tidur, dan sebuah sentuhan lembut menyapu betisnya. "Are you oke Baby?" suara sang Papi memecah keheningan kamar itu.


"I'm oke, Papi," jawab Gwen yang tidak terlalu terdengar karena teenggelam dipermukaan bantal.


Emanuel menghela nafas panjang, lalu mendudukan diri di tepian tempat tidur, setelah itu mengusap punggung putrinya dengan lembut.


"Katakan kepada Papi, kenapa kamu sesedih ini?"


Gwen menjawab dengan gelengan kepala dengan cepat, sebagai tanda jika dirinya baik-baik saja.


"Apakah intan permata Papi yang sangat berharga dan cantik ini ada yang menyakiti? Katakan kepada Papi biar nanti di hajar oleh Abang kamu," ucap Nue, sembari menepuk-nepuk punggung putrinya.


"Aku baik-baik saja. Aku hanya butuh waktu sendiri," jawab Gwen, masih dengan posisi tertelungkup diattas tempat tidur.


Suara pintu kamar tertutup kembali, Gwen membalikkkan badannya menjadi terlentang diatas tempat tidur, menatap langit-langit kamarnya dengan pandangan berkabut, karena matanya berkaca-kaca lagi.


"Huh, ayolah Gwen, jangan larut dalam kesedihan dan patah hatimu. Kenapa jadi lemah begini? Dimana Gwen yang kuat dan tangguh itu?!" Gwen menyemangati diri sendiri, kemudian ia menghapus air mata dan beranjak dari tempat tidur lalu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri karena waktu sudah menunjukan jam 5 sore.


Beberapa menit kemudian, Gwen sudah selesai membersihkan diri dan berganti pakaian. Ia berjalan menuju dapur untuk membuat mie instan karena sejak pulang sekolah tadi ia belum belum makan.


"Nona mau buat apa?" tanya salah satu Pelayan yang melihat Gwen berada didapur.


"Mau buat mie instan, Mbak, laper banget," jawab Gwen, sembari mengambil dua mie instan di dalam lemari dapur.


"Duh, jangan Non. Nanti saya di marahi, saya masakin saja ya, Non," ucap Pelayan tersebut dengan raut wajah yang ketakutan.


"Hah? Siapa yang memarahi? Papi dan Mama ku tidak pernah melarangku makan mie instan," ucap Gwen, mengernyitkan keningnya, menatap heran kearah Pelayan tersebut.


"Pokoknya jangan ya, Non," ucapnya lagi, lalu merebu dua mie instan yang di pegang oleh Gwen.


"Mbak!" kesal Gwen.


"Demi keselamatan saya dan juga pekerjaan saya," ucap Pelayan tersebut lalu membuka kulkas dan mengambil beberapa bahan masakan.


"Aneh," gumam Gwen, lalu mengedarkan pandangannya, karena ia merasa diperhatikan.


Siapa tuh yang ngumpet?🤣🤣


Hai bestie, sawerannya jangan kendor ya🤣💃💃