My Hot ART

My Hot ART
Tidak tahu diri 2



"Itu semua ada diriku," jawab Ayu percaya diri, seraya memasang tersenyum datar.


Irene terkekeh pelan, ketika mendengar perkataan Ayu yang sangat percaya diri. Irene membenarkan kaca matanya melorot dari hidung mungilnya itu, lalu memandang Ayu dengan tenang.


"Saya sangat terkesan sekali dengan perkataan anda yang begitu percaya diri," ucap Irene, memperlihatkan senyuman manisnya. Tapi, percayalah jika gadis culun itu ingin menarik rambut Ayu sampai botak.


Ayu memainkan lidahnya dilangit-langit mulutnya dengan perasaan kesal, dan menatap Irene tidak suka.


"Kenapa kamu terlihat tidak suka denganku?" tanya Ayu membalas perkataan Irene.


Irene terkekeh pelan, seraya menggelang pelan. "Memang begitu kelihatan, ya?" Irene menjawab dengan pertanyaan lainnya. Membuat Ayu semakin jengkel.


"Kamu ini kurang ajar ya! Harusnya kamu itu sadar diri! Kamu cuma sekretaris disini, dan tidak berhak untuk mengomentari hidup dan juga urusanku!" ucap Ayu dengan nada penuh penekanan.


"Ah, ternyata seperti ini ya sifat aslimu? Aku memang sekretaris disini, tapi aku juga bagian keluarga Clark. Apa kamu mau tahu siapa aku? Apa kamu tahu Jonsean? Nah, dia adalah calon suamiku!" jawab Irene dengan tenang.


"Maafkan aku, Se. Karena memakai namamu untuk membungkam mulut wanita ular ini." batin Irene, merasa bersalah.


"Tidak mungkin!" jawab Ayu, dengan raut wajah yang meledek.


Mana mungkin seorang Sean yang begitu tampan, keren dan kaya raya menyukai gadis culun yang ada dihadapannya ini? Pikir Ayu.


"Terserah! Jika tidak percaya tanyakan saja kepada Pak Aiden," jawab Irene seraya tersenyum manis.


*


*


*


Meeting yang berjalan hampir setengah jam itu akhirnya selesai. Aiden keluar dari ruangan meetingnya dengan rasa puas didada karena bulan ini perusahaannya mencapai target penjualan.


Senyum terus mengembang dibibir Aiden dan lenyap seketika, saat memasuki ruangannya. Matanya malas memandang kearah wanita yang masih setia duduk disofa ruangannya.


Irene yang melihat Bos-nya memasuki ruangan, langsung berdiri dari duduknya seraya menundukkan kepalanya, bertanda memberi hormat.


"Selamat siang, Pak. Apakah meetingnya berjalan lancar?" tanya Irene.


"Lancar sangat lancar sekali, Ren. Aku bahagia tapi saat melihat dia mood ku jadi rusak!" ucap Aiden tanpa segan menyindir Ayu yang terlihat cuek.


"Anggap saja setan!" jawab Irene, dengan perasaan kesal sambil melirik Ayu yang melotot tajam kearahnya.


"Siapa kamu?! Berani sekali membentak sekretarisku!! Aku heran dengan Ansel kenapa bisa mencintai wanita tidak tahu diri sepertimu?!" balas Aiden sangat dingin dan menakutkan. Dia sudah tidak mampu kekesalannya lagi. Kemudian ia merogoh ponselnya dan menghubungi Ansel agar segera menjemput Ayu.


"Hei! Dia ini hanya sekretaris, apa istimewanya?!" jawab Ayu, dengan santainya.


Membuat dua orang yang ada disana semakin meradang.


"Kau—" ucapan Aiden terhenti saat ada seseorang yang memanggil namanya dengan nada marah.


"Disini rupanya?! Bukankah kamu sudah janji menjemputku!!!" omel Gwen diamang pintu sambil berkacak pinggang.


Ketiga orang itu menoleh bersamaan kearah sumber suara.


Ayu menatap gadis berseragam SMA sambil mengernyitkan keningnya dan bertanya di dalam hati, 'siapa dia?'


Sedangkan Aiden dan Irene tersenyum menyambut Gwen yang baru memasuki ruangan itu dengan penampilan yang berantakan.


"Bukankah ada Sopir yang menjemputmu? Tadi aku sedang meeting," jawab Aiden, berjalan mendekati Gwen yang terlihat cemberut kesal.


"Tidak ada yang menjemputku! Aku kesini naik Abang Hijau!" ketus Gwen, seraya menepis kasar tangan Aiden yang ingin merapihkan rambutnya yang berantakan.


"Irene!" Aiden menatap tajam kearahnya.


"Aku sudah menghubungi sopir tadi, sumpah!" jawab Irene, lalu merogoh ponselnya dan segera menghubungi sopir yang ditugaskan untuk menjemput Gwen.


"Mobilnya mogok," ucap Irene, setelah mengakhiri panggilannya.


"Ck!" Aiden berdecak kesal seraya mempersilahkan Gwen duduk.


"Tumben baik!" celetuk Gwen sembari menatap kesal pria yang disampingnya itu.


Kemudian Gwen mendudukan diri sofa tidak jauh dari Ayu. Sedangkan Aiden duduk di kursi kerjanya, dan melanjutkan memeriksa dokumen yang tertunda.


"Oh, jadi ini yang namanya Gwen? Yang katanya calon istri Aiden?" celetuk Ayu, dengan nada sinis.


Aku pinjemin palu nih 🔨


buat getok kepala Ayu, silahkan!🤣