
Pengen Emak Crazy up?
Kasih saweran kembang sama kopi dangdut dulu dong! 😆
Kirana menggaruk kepalanya yang tidak gatal di depan pintu kamar Nathan. Matanya mengendar ke setiap sudut rumahnya.
Ibu yang baru datang dari arah dapur menatap putrinya dengan kening yang berkerut. "Kenapa tho, Nduk?" tanya Ibu.
"Dari tadi aku nyari Nat ... eh Mas Nathan, Bu, tapi sejak tadi tidak ada orangnya," jawab Kirana, dengan raut wajah yang kebingungan.
"Sudah kamu cari di halaman rumah? Siapa tahu ada di sana."
"Sudah, tapi nggak ada. Mobilnya juga ada di depan," jawab Kirana lagi, namun kali ini raut wajahnya terlihat cemas.
"Waduhh! Jangan-jangan omongan bapakmu tadi malam serius lagi!" Ibu menepuk jidatnya dengan kasar, baru teringat jika tadi malam suaminya menyampaikan pesan jika akan mengajak Nathan berduel di balai desa.
"Bapak bilang apa memangnya?" Kirana bertambah panik dan cemas.
"Bapak mau ngajak Nathan berduel di balai desa," jawab Ibu juga sangat cemas.
"Apa?!" seru Kirana terkejut, lalu segera keluar dari rumah dan berlari menuju balai desa, di ikuti oleh ibu dari belakang.
"Na! Enteni tho! (Na! tungguin dong!)" Ibu berlari ngos-ngosan mengejar putrinya.
*
*
*
Sampai di balai desa ternyata situasi sudah sangat ramai, banyak warga yang berkumpul di sana sambil berseru heboh.
"Pak Kumis! Ayo Pak!" sorak sebagian warga memberikan semangat.
"Ayo Mas Samson! Semangat!" sorak sebagiannya lagi yang kebanyakan emak-emak berdaster dan para gadis desa, memberikan semangat kepada Nathan.
"Bu, gimana ini?" tanya Kirana, ingin menerobos kerumunan tersebut, tapi dirinay tidak bisa.
"Sudah, Na. Biarkan Nathan berjuang, kalau dia menang berarti jodohmu, tapi kalau kalah kamu juga harus ikhlas," Jawab Ibu, sambil mengatur nafasnya.
"Bukan itu masalahnya, Bu. Aku takut kalau bapak kenapa-kenapa, soalnya Mas Nathan itu jago bela diri dan juga tinju bebas!" ucap Kirana sangat panik.
"Apa? Kenapa kamu ndak bilang sejak tadi?" Ibu terkejut lalu segera membelah kerumunan tersebut.
"Minggir!!! Minggir!!" teriak Ibu, agar kerumunan itu merenggang.
"Pak!! Astaga! Wes tho!!" teriak Ibu panik, ketika melihat suaminya tergeletak di atas lantai, sambil memegangi pinggang.
Sedangkan Kirana berengut kesal ketika melihat Nathan bertelanjang dada, memperlihatkan otot tubuhnya yang kekar. Di tambah lagi banyak bulir keringat membasahi tubuh kekar itu, membuat tubuh Nathan semakin terlihat menggoda. Apalagi disana banyak emak-emak dan para gadis menatap Nathan tidak berkedip.
"Dek ... Mas menang!" seru Nathan, sambil menepuk dadanya penuh rasa bangga, saat melihat Kirana dari kejauhan.
"Bubar!! Bubar semuanya!! Ini lagi Pak lurah dan Pak camat malah ikutan melihat, bukannya di lerai!" omel Ibu membubarkan kerumunan tersebut. Satu persatu orang yang ada di sana membubarkan diri dan kembali ke aktifitasnya masing-masing.
"Kamu juga! Kenapa nggak pakai baju? Pengen pamer badan?!" sungut Kirana menghampiri Nathan yang berdiri sambil memegang kaosnya.
"Gerah, makanya Mas lepas baju, kamu kayak nggak tahu saja," jawab Nathan, lalu segera memakai kaosnya lagi.
Sedangkan Kirana memutar kedua bola matanya dengan malas saat mendengar penjelasan kekasihnya.
"Kamu nggak peluk Mas? Aku menang loh, dan artinya aku berhasil mendapat restu dari Bapak," ucap Nathan bangga, sambil merentangkan ke dua tangannya, berharap jika kekasihnya itu menghadiahi pelukan hangat.
"Pelukkannya nanti saja kalau sudah sah!" jawab Kirana ketus.
Nathan menghembuskan nafasnya dengan kasar, lalu menurunkan kedua tangannya yang masih merentang.
Di dalam hati Kirana tersenyum bahagia, tapi karena dia masih dongkol dengan Nathan, dia memasang wajah jutek dan berjalan menghampiri kedua orang tuanya.
"Lagian Bapak, kenapa menantang Mas Nathan? Jadi begini 'kan encoknya kumat," dumel Kirana, sambil memijat pinggang ayahnya.
"Aduh, sakit!!" pekik Bapak meringis sakit.
"Maaf ya, Pak." Nathan mengulurkan tangannya meminta maaf. Ia menjadi merasa bersalah karena sudah membuat calon mertuanya begitu, tapi dia tidak punya pilihan lain, demi mendapatkan restu.😄
"Iya, ndak apa-apa," jawab Bapak, menyambut uluran tangan itu.
"Sekarang Bapak merestui hubungan kita 'kan?" tanya Nathan, sambil menaik turunkan alisnya dan tersenyum menyebalkan.
"Iya! Yo wes tak restui!" jawab Bapak jutek.
"Ayo kita sekarang pulang! Kalian ini bikin malu sekampung saja!!" omel Ibu, membantu suaminya berdiri.
"Mau di gendong nggak, Pak?" Nathan menawarkan diri, tidak serius sebenarnya hanya sebuah gurauan.
"Boleh!! Ayo gendong aku!" ucap Bapak, tersenyum jahat.
Eh
Nathan terkejut ketika Bapak menanggapi ucapannya serius.
Sokor!! Kapokmu kapan!! Batin Bapak puas mengerjai Nathan.
Sabar bang, punya mertua sengklek kayak gitu🤣🤣