My Hot ART

My Hot ART
Ketahuan?



Sedangkan Aiden terdiam sambil menelan saliva-nya saat melihat Gwen menggigit bibir bawah itu, terlihat menggoda dan ketagihan untuk mencicipinya.


Gwen mendorong wajah Aiden, saat pria itu mendekati wajahnya. "Kamu mau apa?!" tanya Gwen dengan ketus.


'


Aiden tentu saja malu dan salah tingkah, karena gerakan refleknya yang ingin mencium Gwen lagi. "Aku ingin ... Ehm ... Itu aku ingin kekamar mandi." Aiden memberikan alasan, kemudian ia melepaskan pelukannya, beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi secepat mungkin.


"Huh!" Aiden menghembuskan nafaa panjang seraya memegangi dadanya yang berdegup dengan kencang, beralih mengusap bibirnya yang beberapa saat yang lalu mencumbu dan mencium Gwen dengan buas.


Sedangkan Gwen yang masih diam diatas tempat tidur diam membatu, sembari meraba ada kirinya dimana jantungnya juga berdetak tidak karuan. "Perasaan apa ini?" gumam Gwen merasa ada desiran aneh yang mulai merasuk kedalam dada.


Salah satu tangannya menyentuh bibir, lalu beralih mengusap leher jenjangnya, dan turun lagi mengusap dadanya, kemudian semakin turun menyentuh bagian sensitifnya yang tidak luput dari kebuasan Aiden.


"Gila!!!" umpat Gwen, dan terus merutuki dirinya didalam hati.


"Seharusnya aku tidak terbuai dan tidak menikmatinya. Kenapa aku menjadi lemah begini?! Dasar murahan!"


Tidak ingin larut dalam penyesalannya, Gwen segera memunguut pakaiannya yang berserak diatas lantai dan segera memakainya. Setelah itu, ia ingin keluar dari kamar tersebut, ia mendekati pintu kamar dan menempelkan daun telinganya ke pintu tersebut. Masih ada suara Jeje dan Papi-nya diluar sana.


"Aduh, bagaimana ini?" gumam Gwen sembari menggigit kuku jari telunjuknya dengan perasaan cemas dan juga takut.


"Ayo, Gwen gunakan otak pintarmu untuk berfikir!" gumamnya sembari mengetuk kepalanya berulang kali dengan resah.


Tatapan matanya menyapu diseluruh kamar tersebut dan terhenti saat melihat jendela kamar tersebut. "Good idea!" Gwen segera berlari menuju jendela kamar itu dan membukanya. "Oh! My God! This is a bad idea!" Gwen menutup jendela itu kembali, karena terlalu tinggi jika dirinya harus keluar melalui jendela itu.


"Tapi, aku tidak punya pilihan lain," ucap Gwen lagi, mondar-mandir dengan perasaan gelisah. ia memejamkan matanya dengan erat, lalu membukan jendela itu lagi dan segera keluar dari kamar tersebut dengan hati-hati.


Aiden berdiri didekat jendela sembari memasukkan kedua tangannya kedalam kantong celananya. Dan tatapan matanya terfokus pada gadis cantik loncat dari atap lantai dua.



Aiden panik melihatnya, namun sedetik ia terkekeh. "Dasar gadis bar-bar," gumam Aiden, seraya menggelengkan kepalanya dan bernafas lega, ketika melihat Gwen berhasil turun dari atap.


*


*


*


Sedangkan Gwen yang berhasil mendarat dengan selamat setelah loncat dari lantai dua, ia bernafas lega. Akan tetapi kakinya terasa ngilu dan sakit.


"Oke, hanya sakit sedikit. Jangan mengeluh, yang penting aku sudah bisa keluar dari kandang harimau itu," gumam Gwen, sambil mengibaskan kedua kakinya diudara, bergantian.


Setelah kakinya merasa lebih baik, ia berjala memasuki rumah besar itu melalui pintu samping. Beruntung rumah tersebut nampak sepi, ia segera berlari menuju kamar tamu yang ada dilantai bawah.


"GWEN!!" teriak Fika, saat melihat putrinya akan memasuki kamar.


Gwen menghentikan langkahnya, seraya memejamkan matanya dengan erat. "Mampus aku!" batin Gwen, ketakutan.


Kasih sawerannya ya. Biar Emak semakin semangat๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜