
Aiden menggeleng pelan saat melihat tingkah Ayu yang menurutnya keterlaluan. Bagaimana tidak? Jika wanita itu terus berada diruangannya, sedangkan Ansel sudah pergi dari sana karena harus kembali ke Holitron Grub.
Tentu saja Ayu menggunakan seribu satu alasan agar dirinya bisa berada disana. Dan dengan bodohnya Ansel percaya dengan perkataan gadis tersebut.
"Aiden, Kirana bagaimana kabarnya?" tanya Ayu dari sofa, sambil memandang Aiden yang sedang sibuk memeriksa beberapa dokumen yang ada diatas meja.
"Baik," jawab Aiden singkat.
"Terus apakah dia bahagia? Emh, maksudku dia pasti sangat bahagia menjadi istri pengusaha kaya raya," ucap Ayu lagi, terdengar sangat menjengkelkan bagi siapa saja yang mendengarnya.
Aiden diam tidak menjawab perkataan wanita tersebut. Tidak berselang lama Irene memasuki ruangannya.
Irene menatap heran dengan wanita cantik yang duduk tanpa malu diruangan Bos-nya itu.
"Permisi, Pak. Meeting akan segara dimulai," ucap Irene.
Aiden menatap jam tangan mewah yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. "Apa kamu bisa memerintahkan sopir untuk menjemput, Gwen?" tanya Aiden, kepada Irene. Karena waktu sudah menunjukkan jam 11 siang dan Gwen sebentar lagi akan pulang sekolah.
"Tentu saja bisa. Apakah anda menghawatirkan gadis kecil yang menggemaskan itu?!" goda Irene sembari menaik turunkan alisnya.
Tentu saja ucapan Irene didengar oleh Ayu yang sedang berpura-pura memainkan ponsel.
"CK! Sepertinya kelamaan bersama Sean, otakmu menjadi konslet!" kesal Aiden, seraya beranjak dari duduknya sambil merapikan penampilannya.
Irene cemberut kesal menanggapinya, dan menatap sebal atasannya yang sebentar lagi akan menjadi adik iparnya.
Aiden berjalan mendekati Irene. "Awasi dia!" titahnya, dan segera berlalu, menuju ruangan meeting.
Irene melirik wanita yang masih duduk disofa sambil memainkan ponselnya.
Irene berjalan mendekat dan mendudukan diri di single sofa yang ada disana. "Apakah anda tidak punya kerjaan, Nona?" tanya Irene, berbasa-basi sekaligus menyindir.
"Ada, ini main Game," jawab Ayu, seraya memperlihatkan layar ponselnya.
"Ah, ya ampun! Aku hampir lupa memerintahkan sopir untuk menjemput Nona Gwen," ucap Irene, lalu mengambil ponsel dan menghubungi sopir kantor.
"Terima kasih sudah mengingatkanku," ucap Irene, setelah selesai menghubungi Sopir.
"Kamu tadi belum menjawab pertanyaanku, siapa Gwen?" tanya Ayu lagi, merasa kesal karena pertanyaannya diabaikan.
"Apa anda tidak tahu? Jika Nona Gwen adalah calon istri Pak Aiden. Gadis itu sangat cantik, lemah lembut, dan sangat sopan. Dia juga seorang model BA di WG," bohong Irene sambil memasang wajah seramah mungkin.
"Maafkan aku, Pak Aiden dan Nona Gwen. Aku berbohong demi kebaikan. Tapi, aku tidak berlebihan, kan?" batin Irene, menahan tawanya saat melihat wajah kesal Ayu.
"Benarkah itu? Aku jadi sangat penasaran dengan gadis yang kamu maksud itu," jawab Ayu, menahan kesal didalam dada.
"Kenapa anda begitu antusias? Memangnya anda ini siapanya, Pak Aiden? Bukankah anda kekasih Tuan Ansel?" tanya Irene yang begitu tepat mengenai sasaran.
Jleb! Begitu menusuk dada Ayu.
"Ya aku memang kekasih Ansel, tapi bukankah aku berhak tahu? Karena aku sebentar lagi akan menjadi bagian dari Keluarga Clark," jawab Ayu dengan tenang dan percaya diri tingkat dewa.
"Oh, ya? Kenapa anda begitu yakin? Apakah anda tidak tahu? Jika Keluarga Clark sangat selektif memilih calon menantu untuk para Tuan Muda Clark!" balas Irene lagi dengan telak.
Ayu meremat ujung tasnya dengan kuat, menahan kekesalan yang bercekol didalam hatinya. Mencoba untuk tetap tenang.
"Benarkah? Aku baru tahu. Tapi, bukankah Keluarga Clark terkenal dermawan dan tidak memandang kasta seseorang?" tanya Ayu, sembari menggertakkan giginya kesal.
Suhu ruangan tersebut mendadak meningkat terasa gerah dan panas. Tatapan mata Ayu menyiratkan kebencian kepada gadis culun itu.
"Iya, tapi mereka menyukai gadis yang baik hati, bukan hanya parasnya saja!" balas Irene lagi, membuat Ayu terdiam sesaat.
"Itu semua ada diriku," jawab Ayu percaya diri, seraya memasang tersenyum datar.
Kesel banget ih sama Ayu nggak tahu diri banget!😡