My Hot ART

My Hot ART
Sakit hati dan kecewa



Meeting telah selesai, dua pria yang paling di segani di Holitron Grup itu sedang berada diruangan Ansel sambil menatap Zahra yang terlihat lahap memakan es krim yang baru saja di belikan oleh Ansel melalui Go-food.


"Kamu ini bagaimana sih? Masa iya, bawa anak yang tidak jelas asal usulnya. Kalau tiba-tiba nanti ada polisi datang mencarimu bagaimana? Dan kamu terlibat kasus penculikan anak," ucap Nathan dengan pelan namun penuh penakanan, matanya masih melirik Zahra yang asik memakan es krim.


"Jangan menakut-nakuti aku." Ansel bergidik ngeri sendiri, membayangkan jika hal itu terjadi.


"Dasar bodoh! Seharusnya kamu memikirkan ini semua sebelum bertindak sejauh ini! Lebih baik, anak itu kamu seharkan ke kantor polisi," tegas Nathan.


"Nggak! Aku yakin, jika Zahra adalah anak yang ditelantarkan oleh orang tuanya ... tepatnya, Papanya, karena kedua orang tuanya sudah berpisah, aku tadi juga di perlihatkan foto ibunya, dan sepertinya aku pernah berjumpa, tapi aku lupa dimana," jelas Ansel, seraya memanggil Zahra agar mendekat ke arahnya.


"Benarkah?" Nathan seolah tidak percaya ketika mendengar penjelasan saudaranya itu.


Ansel mengangguk. "Zahra, apakah Om boleh melihat foto ibumu?" tanya Ansel, menatap Zahra yang masih asyik memakan es krimnya.


Zahra mengangguk pelan. "Om Tampan, ambil saja di tasku. Maaf, kedua tanganku kotor," ucap Zahra, sambil memperlihatkan tangan kanannya yang memegang sendok kecil dan tangan kirinya memegang Cup es krim berukuran kecil.


Ansel tersenyum melihatnya, lalu mengambil selembar foto yang yang ada di tas Zahra.


"Lihatlah." Ansel memperlihatkan foto berukuran 4 R itu kepada Nathan.


"Mamaku sangat cantik 'kan Om?" celetuk Zahra, sembari menatap pria dewasa yang ada di dekatnya berrgantian.


"Iya, Mama kamu sangat cantik," jawab Ansel.


"No! Mama kamu memang cantik, tapi lebih cantik istriku." Nathan menjawab, membuat Zahra cemberut kesal.


Ansel menggeleng melihat tingkah Nathan, seraya menendang kecil kaki saudaranya itu yang ada didekatnya.


"Bagaimana? Apa kamu pernah melihat mamanya Zahra?" tanya Ansel.


"Hem, sebentar." Nathan mengelus dagunya, berfikir sembari menatap foto yang ada di tangannya.


A few moment later🛵🛵


"Sebenarnya, kamu tahu tidak?!" Mulai kesal, dengan saudaranya itu.


"Ck! Aku tidak tahu," jawab Nathan dengan ringan, sembari menyerahkan foto itu lagi kepada Ansel. "Lebih baik, kamu memerintahkan orang kepercayaan kita," usul Nathan, membuat Ansel menggeram kesal.


"Kalau itu aku juga tahu! Dasar Bod—" ucapan Ansel terhenti ketika melihat Zahra. "Emh, maksudku kamu ini keterlaluan," lanjut Ansel, sekaligus meralat perkataannya. Ia tidak ingin mencemari pikiran Zahra dengan dengan ucapan kotor atau umpatan yang kasar.


Nathan terkekeh melihatnya. "Aku saja yang akan menyuruh orang kepercayaan keluarga kita, kamu urus saja bocah kecil ini," ucap Nathan, seraya keluar dari ruangannya.


*


*


*


Disisi lain, seorang wanita terlihat marah besar, dan memaki dua orang yang ada di hadapannya.


"Jika saja hak asuh Zahra jatuh ketanganku, semua tidak akan terjadi! Kamu memang pria dan ayah yang bajingan! Hanya karena jallang ini kamu tega meninggalkan anak kamu di tepi jalan! Dan sekarang Zahra ku hilang dan tidak tahu ada dimana!" ucapnya menggebu, melampiaskan amarahnya.


"Stop memanggilnya dengan sebutan jallang! Mel!" tidak terima dengan kalimat kasar yang di lontarkan mantan istrinya kepada kekasihnya.


"Lalu apa sebutan apa yang pantas untuk seorang pelakor seperti dia? Bukankah karena dia lah yang membuat rumah tangga kita hancur?!" menatap nanar, sambil menuding wanita yang berpakaian minim dan berdandan menor itu.


"Cukup aku saja yang kamu sakiti, tapi jangan sakiti putri kita," lanjutnya dengan nada yang melemah, air matanya mengalir begitu derasnya.


"Maaf, Mel. Aku salah, dan sebaiknya kita cari Zahra atau lapor kepada polisi," ucap mantan suaminya, sekaligus mengalihkan pembicaraan.


"Kita? Kamu saja dengan jallang mu itu. Aku akan mencari putriku sendiri!" ucapnya penuh penegasan. Kemudian segera berlalu dari sana, membawa luka dan kekecewaan yang mendalam di dalam hatinya. Hampir dua tahun, ia tidak boleh bertemu dengan putrinya semenjak mereka berpisah, dan sekarang mendapatkan kabar jika putrinya hilang, hati ibu mana yang tidak hancur mendengarnya.


Sawerannya dan like, biar semangat ngetiknya ❤