
Aiden dan Gwen sudah resmi menjadi suami istri. Ya ...beberapa saat yang lalu, mereka sudah mengikrarkan janji suci pernikahan mereka dengan mengundang pemuka agama. Pernikahan yang mendadak itu di langsungkan di rumah, walau pun terkesan singkat akan tetapi, pernikahan mereka Sah di mata hukum dan agama. Xander sudah mengatur semuanya.
"Sudah tidak ada kebencian dan emosi diantara kita 'kan?" tanya Xander, sembari menatap satu persatu orang yang ada di ruang tamu.
Gwen menundukkan kepalanya, masih enggan bersitatap dengan orang yang ada disana. Ia merasa malu, di tambah lagi ia merasa bersalah kepada pria yang duduk di sampingnya ini, karena dia, wajah Aiden menjadi babak belur seperti itu.
"Sudah tidak ada yang emosi. Ya ... walaupun rasa kecewa ini masih ada. Seperti yang kamu katakan tadi, jika kami harus berlapang dada untuk menerima semua ini." Bondan yang menjawab pertanyaan Xander, sekaligus mewakili isi hati mereka, kecuali Arjuna yang masih memendam amarah di dalam dadanya.
"Syukurlah kalau begitu. Aku tidak ingin karena masalah ini hubungan kita malah menjadi renggang dan terjadi permusuhan," ucap Xander.
"Sekarang kita sudah resmi jadi besan, Nue, Fika," lanjut Xander lagi, sembari menatap sepasang suami istri yang duduk bersisian dan masih terlihat ada kesedihan di wajahnya.
"Ayolah Nue, Fika. Kita sudah jadi keluarga dan akan punya cucu loh." Jeje berucap dengan nada yang menggoda. Mencairkan suasana.
Nue dan Fika mengulas senyum dan menganggukkan kepalanya. "Kamu benar, Je," jawab Fika, lalu pandangannya teralihkan ke putrinya yang masih menundukkan kepalanya.
"Gwen, jangan bersedih lagi ya. Mama minta maaf, karena sudah keterlaluan sama kamu."
Gwen mendongak lalu menghambur memeluk ibunya, dan menumpahkan tangisannya. "Mama, maafin Gwen, sudah membuat kalian kecewa." lirih Gwen di sela isak tangisnya.
Nue menipiskan bibirnya, lalu mengelus pucuk kepala putrinya dengan lembut. "Intan permata, Papi. Jangan sedih lagi, yess. Badai sudah berlalu, dan sekarang tugasmu adalah menjaga calon cucu Papi. Ah, ya amidong. Tidak terasa usiaku sudah tuir, hiiksss," ucap Nue dengan sedih, namun menimbulkan gelak tawa, karena tingkah gemulai Emanuel.
"Suasana lagi haru kenapa kamu malahan melawak?" tanya Bondan sambil geleng-geleng kepala, karena melihat tingkah menatunya yang masih tetap gemulai. Pria tampan, usianya yang sudah tidak muda dan badannya di penuhi tato itu, tidak habis pikir dengan putrinya yang sangat mencintai makhluk bertulang lunak itu.
"Jangan mencibirku, Opa Bon-Bon!" kesal Nue, sembari menyusut sudut matanya yang sedikit berair. Bondan yang mendengarnya hanya memutar kedua matanya dengan malas.
Suasana di rumah itu sudah kembali hangat, mereka saling meminta maaf satu sama lain. Begitu pula Aiden yang memint maaf, sampai bersimpuh di kaki kedua orang tuanya dan juga kedua mertuanya. Ia benar-benar menyesal karena melakukan hubungan terlarang, dan kini ia berjanji akan menjaga Gwen dengan segenap jiwa dan raganya.
*
*
*
Ansel pun turut tersenyum bahagia, ia melirik istrinya yang sejak tadi mengulas senyum, tangannya terulur mengusap lembut pucuk kepala Melisa. "Apa kamu bahagia?" tanya Ansel.
"Tentu. Aku sangat bahagia Ansel," jawab Melisa, mengangguk mantap, menatap suaminya dengan binar kebahagiaan.
Pernikahan mereka tidak di dasari dengan cinta. Ansel menikahi Melisa hanya karena bentuk rasa tanggung jawabnya kepada janda beranak satu yang berusia 26 tahun itu .
Sedangkan Melisa pun sama, ia menerima pernikahan tersebut, karena membutuhkan perlindungan dan ingin merebut hak asuh Zahra dari mantan suaminya. Dan berhasil, kini hak asuh Zahra kini sudah ada di genggamannya karena kekuasaan Ansel. Mereka hanya saling membutuhkan satu sama lain, layaknya simbiosis mutualisme. Namun seiring berjalannya waktu mereka saling bersama, benih cinta mulai muncul di hati mereka. Namun, mereka masih bungkam, belum mengatakan cinta sampai saat ini. Entahlah, hubungan mereka sangat lah aneh. Lebih aneh dari pada hubungan Sean dan Irene. 😆
Hidup Melisa dan Zahra kini berubah, yang tadinya biasa saja kini menjadi luar biasa. Bagaimana tidak, jika mereka menjadi menantu dan cucu dari orang yang paling berpengaruh di kota tersebut.
"Terima kasih, Mel. Sudah mengandung benihku," ucap Ansel, berkata dengan lembut.
"Terima kasih juga karena kamu mau menerima janda anak satu ini," ucap Melisa.
Tepat di depan sana rambu-rambu lalu lintas berwarna merah, bertanda jika semua pengendara di jalan raya harus berhenti, begitu pula dengan Ansel.
Melisa melepaskan safety belt-nya lalu mencondongkan tubuhnya, seraya menarik tengkuk Ansel, lalu melumaat bibir Ansel dengan penuh kelembutan. Ansel tersenyum di sela ciumannya. Gairah Melisa sejak hamil kini meningkat, membuatnya harus menyiapkan stamina yang kuat agar bisa memuaskan hasrat istrinya itu.
Keduanya saling melumatt lembut, menyesap dan tarik ulur lidah. Gairah semakin membara, hawa di dalam mobil itu semakin panas, ingin melakukan hal yang lebih. Akan tetapi, aktifitas mereka harus terhenti saat mendengar suara klakson panjang di belakang mobil mereka. Ansel melepaskan pagutannya, tersenyum seraya mengusap bibir Melisa yang basah karena ulahnya, setelah itu ia menjalankan mobilnya karena lampu merah sudah berubah menjadi hijau.
❤❤❤
Jangan lupa likenya.❤