My Hot ART

My Hot ART
Bonus Chapter 4



Jeje menahan Sean yang akan berangkat bekerja. "Mommy ingin bicara dengan kalian," ucap Jeje menatap anak dan menantunya bergantian dengan tatapan lembut.


"Ada apa, Mom? Aku nanti telat bekerja," keluh Sean, beranjak dari duduknya, namun pergerakannya ditahan oleh Istrinya.


"Sebentar saja, Se. Kita sepertinya harus berbicara dari hati ke hati," ucap Jeje, di balas senyuman miring dari Sean.


"Maaf, Mom. Jika Mommy kesini hanya untuk membujukku untuk kembali ke rumah utama atau kembali ke perusahaan, aku tetap pada pendirianku. Aku tidak bisa!" Sean berucap dengan sangat tegas.


"Sean sayang. Please, pikirkan baik-baik semua ini. Semua ini juga demi kebaikan kalian berdua. Apa kamu tidak kasihan melihat istrimu yang sedang mengandung, tapi masih harus bekerja? Dan juga—"


"Stop, Mom! Apakah kalian menganggapku tidak mampu untuk menafkahi istriku?!" Sean menaikkan intonasinya. Merasa kesal, karena di anggap lemah dan tidak bisa berbuat apa-apa.


"Bu ... bukan seperti itu, Nak. Maaf, jika Mommy menyinggung perasaanmu, tapi—"


"Aku akan membuktikan jika aku bisa berdiri di atas kaki ku sendiri, tanpa kalian atau embel-embel dari Keluarga Clark," potong Sean dengan cepat.


"Se..." Irene mengusap bahu suaminya agar merasa lebih tenang. Ia memandang ibu mertuanya, dengan tatapan yang merasa bersalah karena sikap Sean.


Dengan perasaan kesal, Sean beranjak dari duduknya dan segera menjalankan kuda besinya, karena ia hampir terlambat bekerja.


Kini tersisa Jeje dan Irene di ruang tamu itu. Irene memandang ibu mertuanya tidak enak hati, karena sikap suaminya.


"Maafkan Sean, Mom. Mungkin bisa di bicarakan lain waktu," ucap Irene kepada Ibu mertuanya dengan pelan.


"Iya, maafkan, Mommy. Malah membuat keributan disini. Aku harap, kamu bisa membicarakan ini kepada Sean," pinta Jeje kepada menantunya ini.


Jeje menghela nafas, ia mengalah. Anak-anaknya sudah dewasa dan sudah saatnya membina rumah tangga sendiri dan membangun istana mereka sendiri. Dan tidak separutnya, dirinya ikut campur dalam urusan rumah tangga anak-anaknya. "Baiklah, Mommy tidak akan memaksa kalian lagi. Tapi, jika kalian membutuhkan bantuan, jangan sungkan untuk bilang sama Daddy atau Mommy," jelas Jeje, dan diangguki Irene bertanda mengerti.


"Mommy permisi, ya." pamit Jeje. Irene mencium punggung tangan ibu mertuanya dengan sopan, sebelum ibu mertuanya berlalu dari paviliun sana.


*


*


*


"An jing banget sih!! Gue bakal buktikan kalau gue bisa sukses tanpa mereka!!" umpat Sean di balik helmnya, sembari memukul tangki motornya berulang kali. Ia merasa di remehkan oleh orang tuanya sendiri. Baiklah, dia dulu memang nakal dan juga sangat manja, tapi sekali lagi, itu dulu. Sean yang sekarang sudah tobat dan kembali ke jalan yang benar.


"Demi anak dan istri, gue akan bekerja keras! Kalau perlu jual motor ini untuk modal usaha," gumam Sean. Tapi, usaha apa ya? Sean berfikir keras. Ah, nanti saja saat di rumah, ia akan membicarakan ini dengan istrinya.


Ck! Kenapa dia baru mengingatnya sekarang? Bukankah dia punya saham di Warjah Grub? Dan itu murni uangnya sendiri dan hak-nya! Kenapa dia selama ini melupakan asetnya itu, dasar bodoh! Umpat Sean dalam hati.


...****************...


Likenya ya Bestie❤


Sembari nunggu bonchap update, yuk mampir dan ramaikan karya baru Emak yang berjudul menggenggam rindu (Sebuah penantian)