My Hot ART

My Hot ART
S2. Anaya



Gwen menangis sedih saat tahu keadaan putrinya yang baru lahir ke dunia itu. "Ini semua salahku," ucap Gwen yang sejak siuman menyalahkan dirinya sendiri.


"Jika saat itu aku mendengarkan ucapanmu, semua tidak akan seperti ini. Aku adalah ibu yang kejam karena telah membuat putriku cacat," ucap Gwen dengan air mata yang terus berderai membasahi pipinya.


"Gwen semua sudah terjadi. Kita semua akan berusaha semampunya untuk membuat putri kita bisa mendengar normal kembali," ucap Aiden dengan perasaannya sangat hancur sembari memeluk istrinya dengan erat.


Gwen mengangguk pelan di balik pelukan sang suami. Hati orang tua baru itu hancur bagai di cabik-cabik, bagaimana tidak? Mereka harus menerima kenyataan jika putri mereka yang baru lahir harus kehilangan pendengarannya.


Bukan hanya Gwen dan Aiden yang merasa sedih dan hancur, tapi kedua belah pihak Keluarga Clark dan Emanuel pun merasakan hal yang sama.


Sedih memang, tapi mereka semua harus menerima sebuah kenyataan yang sangat menyakitkan itu.


Sean dan Irene baru datang dan memasuki ruang rawat Gwen dengan tergesa. "Apa yang terjadi?" tanya Irene dan Sean bersamaan kepada Xander dan Jeje, saat mereka melihat Gwen menangis di pelukan Aiden.


Xander menghela nafasnya dengan kasar, kemudian menjelaskan semua yang sudah terjadi kepada anak dan menantunya. "Kamu harus menjaga istrimu dengan baik, Se. Jangan sampai kejadian ini terulang kepada kalian," ucap Xander, sembari mengusap wajahnya dengan gusar.


Sean langsung merangkum pundak istrinya dengan erat, seraya mengusap perut istrinya yang buncit itu. Mereka berdua sangat terkejut saat mendengar penjelasan Xander.


"Aku akan selalu menjaga istriku, Dad," jawab Sean kepada ayahnya.


Nue dan Arjuna duduk di sofa ruangan tersebut sampai tidak bisa berkata apa pun, tapi mereka akan berusaha untuk ikhlas jika bayi mungil yang baru lahir itu mempunyai kekurangan yaitu tidak bisa mendengar.


"Jangan menangis lagi, anakmu lapar dan haus," ucap Fika kepada putrinya.


Gwen mengurai pelukannya kemudian menatap bayinya yang kini berada di gendongan ibunya. Lalu Gwen merentangkan kedua tangannya, ia siap untuk menyusui bayinya saat itu juga.


Gwen mengedarkan pandangannya, menatap satu persatu pria yang ada di dalam ruangan tersebut.


"Kita akan keluar," ucap Sean, seolah mengerti yang di rasakan adik iparnya itu. Kemudian semua pria yang ada di ruangan tersebut keluar kecuali Aiden.


Setelah semua pria yang ada di sana keluar dari ruangan tersebut, barulah Gwen menyusui bayinya itu.


"Dia cantik seperti kamu, Gwen," ucap Aiden sembari menatap putrinya yang begitu rakus menghisap sumber makanannya.


"Iya, dia cantik sekali," jawab Gwen sembari menitihkan air matanya, namun dengan cepat ia menghapus air matanya itu.


"Kira-kira apakah kalian sudah mempunyai nama untuk bayi lucu, cantik dan menggemaskan ini?" tanya Irene kepada Gwen.


"Anaya, nama yang bagus 'kan? Anaya Aurora Clark," jawab Aiden tanpa mengalihkan pandangannya dari putri cantiknya itu.


"Nama yang sangat bagus dan juga indah," jawab Gwen, lalu mengecup kening putrinya dengan penuh kasih sayang.


"Dia akan membawa kebahagiaan untuk kita semua," ucap Irene dan di benarkan oleh Jeje dan Fika.


"Jangan bersedih lagi Gwen, Aiden. Sepatutnya kalian harus bersyukur karena mempunyai putri yang sangat cantik seperti Anaya," ucap Jeje kepada anak dan menantunya.


"Ya, Mom," jawab Aiden dan Gwen bersamaan.