My Hot ART

My Hot ART
Sebelum janur kuning melengkung



Dada Aiden semakin panas seperti ada api yang berkobar di dalam sana, rahangnya mengeras dan mengepalkan kedua tangannya dengan erat, matanya pun ikut memerah saat melihat pemandangan di depan matanya. Dimana Gwen dan Ansel tampak mesra.


Sekarang dia yakin jika telah jatuh cinta kepada gadis yang dia anggap bau kencur itu. Tapi, dirinya sudah terlambat. Gwen sudah menjadi milik Ansel.


Harusnya dia tidak mengikuti mereka, jadi dia tidak perlu merasakan kesakitan ini. Aiden memejamukan matanya sesaat, lalu menghembuskan nafasnya dengan kasar. Setelah merasa tenang, ia beranjak dari duduknya, meninggalkan Cafetaria tersebut.


Ansel meletakkan sendok yang di pegangnya dengan lesu, saat melihat Aiden keluar dari Cafetaria itu.


"Ayo, suapi." Gwen sudah membuka mulutnya dengan lebar tapi Ansel malah meletakkan sendoknya.


"Dia sudah pergi," ucap Ansel, seraya mengusap wajahnya dengan kasar.


Raut wajah Gwen berubah sendu, namun sesaat kemudian ia tersenyum tipis. "Seharunya kita tidak perlu melakukan sandiwara ini karena percuma. Dia memang tidak mencintaiku," ucap Gwen, berusaha tegar.


Tadinya, ia berharap jika Aiden akan menghampirinya dan menunjukkan kecemburuannya, tapi dugaannya salah. Pria itu langsung pergi begitu saja, membuat Gwen kecewa.


Ansel mengelus punggung tangan Gwen, seolah memberikan kekuatan kepada gadis tersebut.


"Lebih baik kita pulang," ucap Gwen, seraya beranjak dari duduknya dan di ikuti oleh Ansel.


*


*


Aiden memukul stir mobilnya berulang kali, melampiaskan amarahnya. Matanya semakin menyalang saat melihat Gwen dan Ansel keluar dari Cafetaria itu bersamaan, sambil bergandengan tangan.


"Kenapa aku harus merasakan sakit hati yang kedua kalinya?" gumam Aiden penuh amarah. Nasib percintaannya sangat lah tidak beruntung, dan ia tidak menyadari jika sikap egoisnya itu membuat Gwen terluka.


"Aku harus bagaimana? Apa aku harus mengikhlaskan dia untuk Ansel? Seperti aku mengikhlaskan Kirana untuk Nathan? Tidak ... Tidak ... Aku kali ini tidak akan menyerah," gumamnya lagi, sembari menggelengkan kepalanya pelan dan mencengkram stir mobilnya dengan kuat.


Aiden tidak akan menyerah sebelum ada janur kuning melengkung di depan rumah Gwen. Dia tidak ingin kehilangan orang yang di cintainya untuk yang kedua kalinya. Kali ini dia akan memperjuangkannya.


Tidak berselang lama, mobil yang ia kendarai sudah terparkir rapi di halaman rumahnya, bersamaan mobil Ansel yang datang bersamaan dengannya.


Aiden keluar dari dalam mobil, begitu pula Ansel dan Gwen. Ketiga orang itu saling menatap tajam dan penuh permusuhan.


"Lihat saja aku akan merebut Gwen dari tanganmu!" batin Aiden, menatap Ansel dengan tajam.


"Dan aku akan membuatmu cemburu setengah mati, dan mengungkapkan perasaanmu, kepada Gwen! Dasar tukang gengsi!" Ansel berucap di dalam hati.


"Untuk apa aku berharap kepadanya. Lihatlah tatapan tajamnya seolah ingin mengulitiku!" batin Gwen, merasa kecewa dengan sikap Aiden.


Setelah puas berperang batin, ketiga orang itu memasuki rumah dan berjalan menuju kamarnya masing-masing.


Gwen terisak perih saat sudah berada di dalam kamarnya. Kemudian ia mengambil kopernya dan memasukan pakaiannya ke dalam sana. "Seharusnya sejak awal aku tidak ikut tinggal disini! Aku sudah kehilangan kesucian bibirku dan juga—" Gwen tidak mampu melanjutkan perkataannya, ia mengusap dadanya berulang kali, yang terasa sesak itu. Dalam hal ini, dia yang merasa paling dirugikan. Tapi, dia juga salah dan menyesali perbuataanya, karena sudah terlena dengan sentuhan dan cumbuan Aiden.


"Aku sangat membencimu, Om!!"