My Hot ART

My Hot ART
Narsis



"Kenapa lama sekali sih? Kalian ini sedang apa?!" gerutu Irene, saat memasuki ruangan Bos-nya, sembari membawa goodie bag di tangannya.


"Maaf tadi aku sedang--"


"Sudahlah tidak perlu beralasan lagi." Irene memotong perkataan Aiden. Kemudian meletakkan goodie bag tersebut diatas meja kerja Aiden. "Aku membawakan makan siang untuk kalian berdua, pasti belum makan 'kan?"


"Iya, terima kasih, calon kakak ipar dan aku minta maaf soal tadi pagi," jawab Aiden, seraya mengusap tengkuknya. Merasa canggung dengan Irene.


"Iya tidak apa-apa, dasar Buaya Afrika!" gumam Irene, namun masih didengar oleh Aiden.


"Apa kamu bilang?" tanya Aiden, memasang wajah marah.


"Kamu tidak tuli bukan?" Irene balik bertanya kepada Aiden, lalu menatap Gwen yang terlihat menutupi wajahnya dengan tas sekolah. "Pedofil lagi!"


"Astaga! Jika kamu bukan calon istri saudaraku, sudah pasti aku akan memecatmu!" kesal Aiden. Ingin rasanya melakban bibir Irene yang super pedas itu.


"Tidak masalah, karena ada Ayah mertua yang baik hati dan akan memberikanku pekerjaan," jawab Irene, seraya menjulurkan lidahnya ke arah Aiden.


"Haisss!" Aiden mendengus kesal karena sudah kalah telak, lalu segera menyambar goodie bag itu, kemudian mendudukan diri disamping Gwen.


Irene tersenyum penuh kemengan, lalu segera keluar dari ruangan tersebut, dan menuju ruangannya.


Gwen tergelak keras, ketika melihat wajah Aiden menekuk kesal. "Sudah, jangan merajuk. Mbak Irene 'kan suka bercanda kayak begitu," ucap Gwen, seraya membuka bungkusan makanan yang ada didepannya. Kemudian mereka mulai makan siang bersama dengan tenang.


*


*


*


Hari semakin malam, tepat jam 11 malam Sean sudah bersiap untuk pulang kerja. Ia tersenyum bahagia karena hari itu, ia menerima gaji pertamanya. Dengan gaji yang tidak seberapa itu, ia akan menghalalkan Irene menjadi istrinya. Dan ia juga sudah mengajukan cuti selama 3 hari untuk hari pernikahannya nanti.


"Iya, Bu," jawab Sean sekenanya.


"Jo, bolehkah saya berbicara?" tanyanya lagi.


"Ya, silahkan."


"Ehm. Jo, sebenarnya saya sudah lama menyukaimu danβ€”"


"Saya sudah tahu, Bu. Tapi maaf, saya sudah ada yang punya." Sean langsung memotong ucapan atasannya itu tanpa basa-basi lagi.


Wajah wanita tersebut langsung memerah karena malu. Hatinya terpotek, sakit sekali rasanya. "Oh, begitu ya. Ya, wajar kalau pria setampan kamu sudah ada yang memiliki," ucapnya lagi dan tersenyum paksa.


"Nah, itu Ibu cerdas! Orang setampan dan sekeren saya mana mungkin jomblo, ya nggak?" Sean berucap dengan gaya tengil. Kemudian segera keluar dari Restoran tersebut.


"Hah, hatiku terpotek macam sapu lidi!" gumamnya sambil menatap punggung Sean yang mulai menjauh dari pandangannya.


*


*


"Susah jadi orang ganteng, dimana pun pasti banyak yang ngelirik. Beruntung banget lo, Ren, bisa dapetin cowok sekeren gue," gumam Sean seraya tergelak sendiri. Jika Irene mendengarnya, mungkin kekasihnya itu akan memukul kepalanya atau tulang keringnya.


"Ya ampun, kenapa gue jadi narsis begini ya? Irene bisa ngamuk kalau mendengarnya. Justru gue yang beruntung ngedapetin Irene yang masih perawan ting-ting. Duh, jadi nggak sabar mau belah duren," ucap Sean lagi, lalu melajukan motornya menuju pulang ke rumah.


Selama perjalanan pulang ke rumah, Sean terus mengulas senyum, beruntung ia memakai helm, jika tidak, mungkin dirinya sudah disangka tidak waras oleh pengguna jalan lainnya.


Ayo persiapkan pakaian terbaik kalian semua. Buat kondangan ke pernikahan Sean dan Irene. Kata Abang Sean sudah carter angkot, nanti akan menjemput kalian di depan rumah masing-masing. πŸ€£πŸ€£πŸ€£πŸ™ˆ


Sawerannya mana? nihπŸ’ƒπŸ’ƒπŸ€£