My Hot ART

My Hot ART
Cantik



Pemotretan untuk produk baru Warjah Grub berjalan dengan lancar, Gwen begitu profesional seperti model ya sudah berpengalaman. Saat ini dirinya sudah selesai berganti pakaian, dan berniat untuk pulang kerumahnya mengingat sudah sore hari.


"Gwen," panggil Aiden, saat melihat gadis itu berjalan di lobi. Ya dia sengaja menunggu gadis itu disana, karena rasa bersalah sudah berkata kasar, dia ingin meminta maaf.


Mendengar namanya dipanggil, ia pun menoleh sekilas namun tidak menghentikan langkahnya.


"Gwen!" seru Aiden, mengejar gadis tersebut dan berhasil menghentikannya.


Gwen menatap datar pria yang sedang mencekal pergelagan tangannya itu lalu menghempaskannya dengan kasar hingga tangan itu terlepas, lalu melanjutkan langkahnya lagi.


"Aku antar pulang," ucap Aiden.


"Nggak perlu, Abang Juna sudah jemput!" jawab Gwen terdengar sangat ketus.


Aiden menghembuskan nafasnya dengan kasar, dan mengikuti Gwen dari belakang hingga sampai didepan perusahaannya itu.


Dan benar saja didepan sana sudah ada Arjuna yang menunggu Gwen.


"Bang," sapa Aiden kepada Arjuna, namun pria itu menjawab dengan deheman dan menatap datar Aiden.


Gwen segera masuk kedalam mobil abangnya tanpa memperdulikan kedua pria itu terlihat bersitegang.


"Maaf, seharusnya pemotretan tidak sampai malam begini." Aiden menjadi salah tingkah saat ditatap tajam pria tampan berparas bule, tinggi dan gagah itu.


"Ck!" Arjuna berdecak kesal menanggapinya, lalu segera masuk kedalam mobilnya dan segera melajukannya.


Aiden mengelus dadanya merasa lega, karena pria yang terlihat sangat arogan melebihi dirinya itu sudah pergi dari hadapannya.


"Bisa ya, bapaknya gemulai tapi anak-anaknya arogan begitu," gumam Aiden seraya menggelengkan kepalanya berulang kali.


Sepertinya Aiden tidak sadar jika sikapnya juga Arogan.😆


Lalu Aiden berjalan menuju parkiran mobil yang dikhususkan untu petinggi perusahaan.


Didalam mobil, Aiden membuka ponselnya dan menatap foto Gwen yang ia ambil secara bersembunyi saat gadis itu sedang melakukan pemotretan.



"Eh, bicara apa aku ini," gumamnya lagi, lalu memasukkan ponselnya itu kedalam saku jasnya. Dan ia segera melajukan mobilnya menuju rumahnya.


Nggak mungkin aku suka dengan gadis bau kencur itu. Dia bukan tipemu, Aiden! Batinnya, mengingatkan diri sendiri. Baginya Gwen hanyalah gadis kecil yang sangat menyebalkan.


*


*


*


"Apa kamu baik-baik saja? Apa pria itu menyakitimu?" tanya Arjuna, sembari mengelus pucuk kepala adiknya dengan lembut.


"Katakan sama Abang, jika dia menyakitimu maka aku akan menghajarnya!" ucap Arjuna tidak main-main.


"Nggak, Bang. Dia tidak menyakitiku," jawab Gwen, seraya tersenyum manis.


"Tapi kenapa sejak tadi kamu diam dan wajahmu juga terlihat murung?" tanya Arjuna lagi tanpa menoleh karena saat ini dirinya sedang fokus menyetir mobil.


"Aku hanya lelah saja," jawab Gwen, seraya menyenderkan punggungnya dijok yang ia duduki.


Walau dalam hati ia masih mengingat perkataan kasar Aiden yang dilotarkan kepadanya.


"Abang sudah bilang, jangan melakukan pekerjaan ini. Fokus saja sama sekolahmu!" tegas Arjuna merasa sangat kesal, dengan adiknya yang keras kepala.


"Bang, aku juga ingin mencoba sesuatu yang baru. Seperti saat ini, menjadi mobel Brand Ambasador dan sebentar lagi aku akan terkenal seperti arti, hi hi hi," jawab Gwen, sembari terkekeh geli.


Arjuna menggelengkan kepalanya pelan saat mendengar jawaban adiknya.


"Dunia permodelan itu sangat kejam Gwen, kamu akan tahu sendiri nanti," ucap Arjuna mengingatkan adiknya sekali lagi.