My Hot ART

My Hot ART
Obat penenang



"Sebenarnya apa yang kamu lakukan kepada Aiden! Hah!" tanya Ansel penuh penekanan, seraya menatap tajam Ayu.


Ayu mengeluarkan air mata biawaknya, menangis sesegukan berusaha untuk memutar balikkan fakta.


"A ... aku tidak tahu, tadi aku hanya ingin mengambil air minum. Tapi, dia tiba-tiba memelukku dari belakang, dan aku menolak tapi dia marah dan langsung menyerangku. Lalu dimana letak kesalahanku? Katakan?" ucap Ayu, mendramatisir.


Ansel menatap Ayu penuh selidik, mencari kebohongan dari pancaran mata Ayu yang berkaca-kaca itu. Kemudian ia mendekap tubuh kekasihnya dengan erat, seraya meminta maaf atas kejadian yang telah menimpa kekasihnya itu.


"Atas nama Aiden, aku meminta maaf kepadamu. Aku pastikan kejadian ini tidak akan terulang lagi. Dan aku harap besok pagi kamu sudah pergi dari rumah ini," ucap Ansel, seraya mengusap punggung Ayu dengan lembut.


Ayu mendongak dan menggeleng pelan. "Aku tidak ingin berjauhan dengan mu," ucap Ayu merengek manja. Dan tentu saja dia hanya akting belaka.


"Aiden tidak pernah main-main dengan ucapannya," ucap Ansel, memberikan pengertian.


Sebenarnya Ayu juga ketakutan saat melihat kemarahan Aiden, akan tetapi rasa ingin memiliki Aiden lebih besar dari pada rasa takutnya itu.


"Dan semua ini demi kebaikanmu juga," lanjut Ansel, dan dengan terpaksa Ayu menganggukkan kepala.


"Baiklah," jawab Ayu, pada akhirnya dengan perasaan kesal dan juga marah.


Ansel tersenyum senang mendengar jawaban Ayu. "Sekarang kembalilah ke kamarmu," ucap Ansel, dan diangguki kekasihnya.


"Oke," jawab Ayu, mengulas senyum seraya berjinjit lalu mengecup pipi Ansel sekilas, setelah itu ia segera berjalan menuju kamarnya.


Ansel menatap datar punggung Ayu yang mulai menjauh dari pandangannya. "Apa dia berfikir jika aku ini bodoh?!" geram Ansel, kemudian memanggil pihak keamanan rumahnya untuk memeriksa CCTV yang ada didapur itu. Ia ingin melihat kebusukan Ayu sebenarnya, karena dari awal ia sudah curiga dengan gadis itu, dan ia hanya mengikuti permainannya saja sampai mendapatkan bukti yang kuat.


*


*


*


"Ternyata benar dugaanku, jika dia hanya memanfaatkan ku saja! Dasar jallang!" maki Ansel, meluapkan emosinya.


"Hapus rekaman CCTV itu dan jangan sampai ada orang lain mengetahuinya, dan kalian juga harus tutup mulut!" titah Ansel dengan tegas kepada dua penjaga rumah tersebut.


"Baik, Tuan Muda Ansel," jawab mereka kompak, seraya menundukkan kepala, bertanda memberi hormat.


Baginya ini semua adalah aib yang tidak perlu dibuka. Ia cukup tahu kelakukan Ayu dibelakangnya. Kemudian, ia berjalan menuju kamarnya dengan perasaan yang berkecamuk.


"Aku memang mencintainya! Tapi, aku juga tidak buta akan cinta!" gumam Ansel, seraya merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur yang berukuran sangat luas itu.


Menarik nafasnya dengan dalam dan menghembuskannya dengan perlahan. Dan ia melakukannya berulang kali, sampai perasaannya sedikit tenang.


*


*


*


Disisi lain, Aiden yang masih merasa emosi kini sedang berada sebuah kamar tamu, menatap seorang gadis yang sedang meringkuk diatas tempat tidur dengan lelapnya. Kemudian ia ikut merebahkan diri disana dan memeluk gadis itu dari belakang. Menelusupkan wajahnya dibelakang leher itu, seraya menghirup aroma gadis itu yang mampu membuatnya tenang.


Bagaimana perasaan kalian, membaca novel ini? Dalam satu novel ada berbagai rasa cinta yang memporak-porandkan hati kalian? Ada sedih, lucu, baper dan emosi, bercampur menjadi satu. Nano-nano rasanya.🤣🤣


Emak ucapkan banyak terima kasih kepada kalian semua yang selalu mendukung emak. Luv banyak-banyak❤❤❤