
Setelah kejadian satu minggu yang lalu di kamar mandi. Irene dan Sean tidak bertegur sapa. Dan Irene pun memutuskan untuk segera pindah dari paviliun tersebut.
"Se," panggil Irene setelah mereka selesai makan malam.
Sean mendongak dan menatap Irene sekilas tanpa menjawab.
"Aku besok akan pindah. Ehm, terima kasih atas kebaikanmu selama ini karena sudah menolong dan menampungku disini," ucap Irene tulus.
"Ya," jawab Sean singkat, lalu beranjak dari duduknya dan memasuki kamarnya.
Irene mengernyit heran saat melihat respon Sean yang datar dan singkat. Tapi, Irene tidak memperdulikannya, dirinya merasa takut jika berada satu rumah dengan Sean yang notabennya adalah Casanova. Apalagi setelah kejadian di kamar mandi itu, membuat Irene takut jika berhadapan dengan Sean.
Irene membereskan piring kotor bekas mereka makan, dan segara mencucinya. Setelah semua beres, ia menuju kamarnya untuk mengemas pakaiannya.
Sedangkan Sean yang sedang berada di dalam kamarnya merutuki dirinya sendiri. "Bego," maki Sean lagi. Ia merasa malu saat berhadapan dengan Irene.
"Pasti dia ilfeel banget sama gue." Sean merebahkan diirnya diatas tempat tidur sambil menatap langit-langit kamarnya.
Bayangan tubuh Irene yang putih, mulus tanpa cela selalu melintas dikepalanya. Padahal dia sudah sering melihat tubuh wanita yang jauh lebih sexy dan mulus, tapi kenapa dengan Irene berbeda, dan ada getaran aneh didalam dadanya.
"Brengsek! Emang racun banget bayangan tubuh lo, Ren!" umpat Sean, saat merasakan adik kecilnya menegang.
"Lo juga, Jon, isi kepala lo jangan ngeres terus!" Sean menoel kepala Si Joni yang menyembul dari balik celananya itu.
Jika si Joni bisa berbicara maka dia akan berkata. "Lo, kenapa nyalahin gue, Nyet?! Gue 'kan ngikutin perintah dari otak lo, gimana sih?"🤣
*
*
*
Pagi hari telah tiba.
Irene sudah bersiap sambil membawa tasnya yang tidak terlalu besar.
"Gue anterin!" ucap Sean, saat baru keluar dari kamar.
"Nggak usah. Aku bisa sendiri kok." Tolak Irene, tapi sepertinya Sean tidak menerima penolakan, karena pria itu langsung menyambar tas yang dipegang oleh Irene.
"Se!" Protes Irene, merebut tasnya lagi tapi langsung ditepis oleh Sean.
"Dimana tempat tinggal baru lo?" tanya Sean, berjalan keluar dari Paviliun.
"CK! Jangan dilihat murahnya, tapi lihat juga lingkungannya" balas Sean, dengan perasaan kesal.
"Gajimu di WG 'kan besar, cukup untuk menyewa apartemen," lanjut Sean lagi.
"Kok kamu jadi ngatur hidup aku sih! Terserah aku dong mau tinggal dimana, bukan urusan kamu juga 'kan!" jawab Irene dengan sewot, membuat Sean menghela nafas panjang.
Sean tidak menjawab perkataan Irene, melainkan ia langsung manaiki motornya.
"CK!" Sean berdecak dengan kesal saat melihat Irene kesusahan ingin naik ke motornya dan terpaksa ia turun dari motor dan membantu Irene.
"Lo kapan cepat gedenya sih?" gerutu Sean.
"Yang ikhlas kalau membantu orang, biar berkah!" sungut Irene, mencebikkan bibirnya kesal seraya membenarkan kaca matanya yang melorot dari hidungnya.
"Ikhlas bawell!" jawab Sean, sembari mencubit gemas pipi Irene.
"Ih! Sakit tahu!" Irene membenarkan kaca matanya lagi, sambil mengerucut sebal, terlihat sangat lucu di mata Sean.
Kemudian Sean menjalankan motornya menuju kontrakan yang akan ditinggali Irene.
*
*
*
"Gue nggak setuju kalau lo tinggal disini!" tegas Sean saat melihat lingkungan kotrakan tersebut.
"Tapi, kenapa? Harganya murah dan aku sudah membayarnya untuk satu bulan ini!" sahut Irene dengan perasaan kesal.
"Lo yakin mau tinggal disini? Banyak cowok dan juga lingkungannya kumuh. Pokoknya gue nggak setuju!" Sean menarik tangan Irene dari sana.
"Sean!!" kesal Irene.
"Apa? Gue bilang nggak ya nggak!" terang Sean.
"Kamu itu apa-apan sih! Ngatur hidup aku! Memangnya kamu siapa?!" tanya Irene dengan penuh emosi.
Sean diam sejenak, dan menatap Irene dengan tajam. "Iya, gue bukan siapa-siapa lo!" balas Sean, lalu menyerahkan tas yang dipegangnya kepada Irene dengan kasar, dan segera pergi dari sana meninggalkan Irene yang termangu.
Mulai ada rasa ya. Tapi, hati Sean masih gamang.😆