My Hot ART

My Hot ART
Gara-gara rujak



Dua bulan kemudian.


Aiden siang itu mennjemput Gwen pulang sekolah. "Are you oke?" Aiden menatap wajah Gwen yang terlihat pucat tidak seperti biasanya.


Gwen mengangguk pelan, lalu menatap Aiden yang tengah menatapnya. "Hanya pusing saja, memikirkan ujian sekolah yang sebentar lagi akan di laksanakan," ucap Gwen, sembari memijat pelipisnya. Sejak tadi pagi dirinya merasa aneh dengan perutnya yang terus bergejolak.


"Tapi wajah kamu pucat sekali loh." Tangan kekarnya terulur untuk menyentuh kening lalu beralih menyentuh leher Gwen. "Tidak panas, kita ke rumag sakit saja." Namun langsung di tolak oleh Gwen.


"Tidak mau! Aku hanya butuh istirahat saja," ucap Gwen sembari menyandarkan punggungnya di sandaran jok mobil.


Aiden menghela nafas, tidak ingin memaksa kekasihnya. Lalu ia melajukan mobilnya, mengantarkan Gwen pulang ke rumah. Ya, Gwen dan keluarganya sudah kembali ke rumah sendiri karena kondisi Oma Airin sudah pulih kembali.


Aiden sesekali menoleh ke arah Gwen yang sejak tadi diam saja, sambil menatap kearah luar jendela. "Kamu kenapa sih?" Aiden mengusap kepalanya dengan lembut, dan penuh kasih sayang.


Gwen tidak menjawab, gadis itu menegakkan punggungnya lalu meminta Aiden untuk menghentikkan mobilnya. "Aku mau itu!" Gwen menunjuk tukang rujak yang mangkal di depan Alfama*t.


"Hah?" Aiden terbengong seraya mengernyit heran. "Sayang, itu tidak sehat. No!" tolak Aiden dengan tegas.


"Tapi aku ingin." Mata Gwen sudah berkaca-kaca dan bibirnya sudah menekuk ke bawah.


"Tidak, aku akan membelikanmu di tempat lain, jangan di situ." Aiden tetap tidak mengijinkan Gwen, dan segera melajukan mobilnya lagi, tanpa mendengarkan rengekan Gwen.


"Kamu egois banget sih!" Gwen benar-benar emosi, kesal, sedih, dan kecewa bercampur menjadi satu.


"Kamu juga aneh. Kenapa hanya karena rujak itu kamu menjadi semarah ini?" Aiden tidak habis pikir dengan kekasih ini.


Tidak berselang lama, mobil yang di kendarai Aiden sudah sampai di halaman rumah Gwen.


Aiden mengusap wajahnya dengan kasar, seraya menatap Gwen yang memasuki rumah. "Dia kenapa sih?"


Aiden pun turut turun dari mobil, dan ingin berbicara baik-baik dengan Gwen, akan tetapi kekasihnya itu sudah terlanjur marah kepadanya, bahkan ia mengetuk pintu kamar Gwen berulang kali pun tidak di gubris oleh kekasihnya itu.


"Ada masalah apa?" tanya Fika yang menyaksikan Aiden memelas di depan pintu kamar putrinya dan terus mengetuk pintu tersebut.


"Masalah kecil, Ma," jawab Aiden dengan lesu.


"Anak itu mungkin akan sedang kedatangan tamu bulanannya, makanya sensife. Kamu ke kantor lagi sana, biar Mama yang menasehati anak nakal itu." Fika menjadi tidak enak kepada Aiden karena tingkah putrinya yang kekanakan.


Akhirnya Aiden pasrah dan berpamitan kepada calon ibu mertuanya.


Aiden sudah berada di dalam mobil, sambil bergumam. "Kedatangan tamu bulanan?" Otaknya berfikir keras, padahal tadi malam, ia meminta jatah kepada Gwen, tapi kekasihnya itu bersih.


"Ah, mungkin tadi pagi baru berhalangan," gumam Aiden lagi, lalu segera melajukan mobilnya lagi menuju Warjah Grup. Tetap saja, pikirannya tidak tenang karena Gwen marah kepadanya dan tidak ingin bertemu dengannya.


"Ini semua gara-gara rujak!"


Kayaknya kecebong nya sudah berubah menjadi berudu nih🤣🤣🤣


Jangan lupa like dan votenya ya.


Mampi juga ke karya baru emak berjudul Menggenggam rindu ( Sebuah penantian)