
WARNING!
Udah ditulis segede itu ya, jadi jangan komplen karena area dewasa, bocil menepi dan kaum jomblo bacanya sambil tutup mata. 🤣🤣
Sean berjalan mendekati istrinya yang terpaku didepan meja rias. "Lo kenapa?" Suara Sean mengejutkan Irene, hingga membuat gadis itu berjingkat kaget.
"Ah, tidak. Aku hanya kesulitan melepaskan ini." Irene beralasan sembari memegang kalung berlian yang melingkar indah dileher jenjangnya. Tapi sepertinya, ia salah memberikan alasan dan menyesalinya, karena Sean malah memanfaatkan kesempatan untuk mencium pundaknya yang polos itu lalu beralih mengendus lehernya sebelum melepaskan kalung tersebut.
"Se—" Irene mencengkram gaun pengantinnya, ketika merasakan geleyar aneh yang pertama kali ia rasakan. Jantungnya berdetak semakin cepat dan bersatu dengan rasa gugup membuat perasaannya menjadi tidak karuan.
"Heum." Sean menjawab dengan deheman saja, dan terus mengendus leher jenjang dan putih itu. Jiwa brengseknya bangun, nafasnya kian memburu, bertanda jika saat ini gairah mulai menguasai dirinya. Dan bagian bawahnya yang tertutup celana itu mulai memberontak dan ingin dituntaskan.
"Ah, bagaimana ini!" pekik Irene didalam hati, ketika Sean mulai menarik resleting gaunnya yang ada dibagian belakang.
"Sean, apa bisa di tunda dulu?" tanya Irene lalu beranjak dari duduknya, membuat Sean yang sedang mencumbu istrinya berhenti dengan terpaksa. Menggeram kesal didalam hati.
"Kenapa?" tanya Sean menahan rasa kesalnya, karena aktifitasnya harus terhenti. Namun, ia cukup mengerti jika saat ini istrinya sedang sangat gugup dan juga takut. Karena ini adalah pengalaman pertama Irene.
"A ... aku ... emhh ... aku ingin mandi. Ya, aku ingin mandi, tubuhku lengket dan aku tidak ingin jika nanti—" ucapannya terhenti, dan terganti dengan suara pekikan saat Sean mengangkat tubuhnya ala bridal style menuju kamar mandi.
"Sean apa yang kamu lakukan!" pekik Irene, dan reflek mengalungkan kedua tangannya ke leher yang kokoh itu, karena takut terjatuh.
"Mau mandi 'kan? Ayo mandi bersama," ucap Sean dengan santainya.
Tubuh Irene semakin menegang, niat hati ingin mengulur waktu malah dirinya kini terjebak dengan alasannya sendiri.
"Gue nggak menerima penolakan!" Berucap tegas ketika Irene akan melayangkan protes.
"Sean, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Irene sembari menahan tangan Sean yang akan melepaskan gaun pengantinnya.
"Tentu saja membantumu, melepaskan gaun ini," jawab Sean, lalu menepis tangan Irene yang menghalanginya.
"Ta ... tapi ... aku bisa sendiri." Irene berucap sembari memegang gaunnya agar tidak melorot ke bawah, karena resleting belakang gaun itu sudah ditarik oleh Sean. Wajah Irene kini terlihat lebih merah dari yang sebelumnya.
Sean mengulas senyum, lalu menepis tangan Irene lagi yang memegangi gaunnya. Dan dengan satu kali tarikan, gaun itu sudah lolos dari tubuh mungil itu. Terlihatlah sebuah keindahan tubuh Irene yang selama ini dijaga. Bukit kembar dengan ukuran yang cukup besar dan terbungkus kain busa berwarna merah terang begitu pula aset pribadi yang ditutup dengan kain segitiga berwarna senada, sangat kontras di kulit putihnya.
Irene menutup dua asetnya itu dengan kedua tangannya, ingin rasanya ia melarikan diri dari hadapan Sean yang sudah ingin menerkamnya.
"Tubuhmu sangat indah sekali, Ren." Suara Sean terdengar serak dan menatap Irene dengan sayu. Dia sudah tidak sabar untuk menjelajahi tubuh sexy istrinya itu. Dengan gerakan pelan, kedua tangannya mengusap bahu Irene bersamaan.
Tubuh Irene menegang hebat saat merasakan usapan lembut itu di kedua lengannya, membuat darahnya berdesir hebat.
Sean semakin merapatkan tubuhnya ketubuh mungil yang sudah setengah polos itu ...
Kemudian...
Bersambung ....
🤣🤣🤣🤣
Tet ... tottt ... digantung lagi. 🤣🙏
Sawer ah sawerr biar nanti malam jadi unboxing🤣🤣💃💃