
Siapin kembang sama kopi, eh jangan lupa votenya ya.
Emak mau crazy up. Serius nggak bohong, š
Disisi lain, tepatnya di rumah mewah keluarga Clark sedang terjadi kehebohan.
"Ayo cepat bersiap! Kita harus gerak cepat!" ucap Jeje tidak sabaran, ketika melihat anak-anaknya begitu lamban menurutnya.
"Mommy! Bajuku yang berwarna biru tidak ada?" adu Ansel kepada ibunya dengan lesu.
"Kan, masih ada baju lainnya!" kesal Xander, menanggapi ucapan putra bungsunya itu.
"Tapi, aku ingin memakai baju itu, Mommy, please carikan ya," ucap Ansel dengan nada memohon.
"Please juga Ansel! Kali ini saja, jangan bertingkah seperti anak kecil!" Xander begitu kesal kepada putra bungsunya itu.
Bibir Ansel mengerucut tajam, kemudian ia segera keluar dari kamarnya, mengikuti dua saudara kembarnya yang lebih dulu turun ke lantai bawah.
"Kamu terlalu memanjakan mereka! Setelah Kirana dan Nathan menikah, mereka harus punya pengasuh baru. Aku tidak ingin, waktumu tersita hanya untuk mengurus kemanjaan mereka!" tegas Xander kepada istrinya.
Jeje hanya menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Dasar posesif!" gerutunya.
*
*
Seluruh keluarga Clark sudah berkumpul di lantai bawah, tepatnya di ruang keluarga. Xander dan Tiga J, duduk di barisan sofa sebelah kiri sedangkan Jeje dan Oma Airin duduk berseberangan dengan mereka.
"Sebenarnya ini ada apa?" tanya Oma Airin, menatap wajah anak dan menantunya bergantian.
"Kita akan ke Semarang," seru Jeje, sambil bertepuk tangan girang.
"What?!" pekik Xander, menatap istrinya tidak percaya.
"Yess!! Gadis desa pasti cantik-cantik," gumam Sean, sudah bertraveling ria.
"Apa yang tidak mungkin bagi keluarga Clark? Akan lebih baik mereka langsung menikah dari pada bertunangan, malah bikin dosa terus!" ucap Jeje, sambil melirik Sean dengan tajam. Yang di lirik salah tingkah sambil menggaruk keningnya yang tidak gatal.
Jeje hanya takut jika Nathan tidak dapat menahan diri. Apalagi mereka sudah pernah terpergok tidur berdua, yang membuat Jeje selalu khawatir hingga saat ini.
"Nah, iya setuju!" Oma Airin mendukung keputusan menantunya.
"Mom!" tegur Xander. Dia tidak setuju dengan ide istrinya. Karena menurutnya, sebuah pernikahan itu harus di persiapkan dengan matang dan tidak tergesa seperti ini.
"Semua membutuhkan persiapan," ucap Xander, seraya menyugar rambutnya yang mulai memutih itu.
"Persiapan apa? Yang penting 'kan Sah dulu, setelah itu baru di adakan resepsi," jawab Jeje, melirik sebal suaminya.
"Itu istrimu pintar, tidak seperti kamu, bodoh!" ucap Oma Airin kepada putranya dengan penuh penekanan. Xander memutar ke dua matanya dengan malas, menanggapi perkataan ibunya.
"Sean, Ansel, dan Aiden. Bantu Mommy untuk mempersipkan semuanya." Jeje berkata sembari menatap satu persatu putra tampannya itu.
"Heum!" Aiden hanya berdehem. Hatinya masih sangat kesal karena tidak berhasil mendapatkan Kirana.
Setelah itu Jeje menjelaskan rencanannya kepada ke tiga putranya juga kepada Oma Airin, sedangkan Xander hanya bisa pasrah mengikuti kemauan istrinya.
"Sudah jelas semuanya? Ini akan menjadi kejutan untuk Nathan. Duh, nggak sabarnya pengen gendong cucu," ucap Jeje terkekeh sendiri, sambil membayangkan betapa senangnya punya cucu yang akan dia gendong dan di manjakan setiap hari.
"Akhirnya rencana kita membuat Kirana terjerat dengan salah satu pangeran keluarga Clark berhasil," bisik Oma Airin, yang memang duduk di samping Jeje.
"Iya, ini semua berkat ide Mommy, hi hi hi," jawab Jeje, di dekat telinga ibu martunya.
Saat Jeje akan pergi keluar kota beberapa waktu yang lalu. Oma Airin sudah menyampaikan rencananya kepada dirinya. Awalnya Jeje tidak setuju, tapi setelah dia mengenal sikap dan sifat Kirana, akhirnya Jeje menyetujuinya.
"Airin Clark di lawan!" jawab Oma Airin, sembari terkekeh geli.
Nah, kan! Ternyata ada udang di balik mendoanš¤£š¤£š¤£