
Jangan karena Bonchap kalian nggak kasih like ya. Ayolah, bestie likenya jangan di lupakan.๐
Sean menghela nafasnya pasrah, sembari menatap istrinya yang terus menghindarinya. Kepalanya terasa ingin pecah rasanya, karena sudah satu minggu ini hasratnya tidak tersalurkan. "Sabar ya, Jon. Kita akan cari cara untuk menemui si Bestie. Jangan sedih dan jangan loyo. Semangat dong!" Sean berucap sembari mengusap si Joni yang sudah meleyot di dalam boxernya.
Sean beranjak menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Irene berada di dapur untuk membuatkan kopi susu dan juga sarapan untuk suaminya. Walaupun ada rasa mual saat mencium bumbu dapur, ia masih bisa menahannya. Tapi, anehnya saat berdekatan dengan Sean, ia tidak bisa menahan rasa mualnya itu.
Tidak berselang lama Sean keluar dari dalam kamar mandi, telan*jang bulat tanpa sehelai kain pun. Mata Irene membola melihatnya, bahkan ia menahan nafas dan juga menelan ludahnya dengan kasar saat melihat tubuh sempurna suaminya, di tambah lagi melihat si Joni yang gondal-gandul di bawah sana, membuat miliknya berkedut tidak karuan.
"Sean, kenapa tidak memakai baju atau handuk sih!" berkata galak untuk menutupi kegugupannya.
"Buat apa? Bukankah di sini tidak ada orang selain kita? Dan juga kita sudah saling lihat dan saling merasakan," jawab Sean dengan santai, berjalan menghampiri istrinya yang cengo dan wajahnya sudah bersemu merah.
"Kenapa ucapanmu frontal banget sih?!" Irene memalingkan wajahnya, seraya menggigit bibirnya dengan kuat. Tidak dapat di pungkiri jika dirinya bergairah dan menginginkan Sean.
"Kenyataanya 'kan? Apakah lo lupa rasanya?" tanya Sean, yang kini sudah di belakang istrinya dan seraya mengusap kedua lengan Irene dengan lembut. Si Joni pun sudah mengangkat kepalanya, menganggukkan kepalanya senang karena ia akan bertemu bestie-nya.
"Sean! Menjauhlah! Aku mual ... Hoek!" Irene segera menutup mulutnya dengan telapak tangannya. Ia benar-benar sangat mual jika berdekatan dengan Sean.
"Sayangโ"
"Menjauhlah, Se!! Aku sangat mual!" dengan terpaksa, Irene mendorong dada dada bidang suaminya lalu memuntahkan isi perutnya di wastafel cuci piring.
"Hoekkk ...."
"Tidak apa-apa. Sejujurnya aku juga ingin, tapi anak kamu tidak mau di jenguk sama Daddy-nya," ucap Irene setelah selesai memuntahkan isi perutnya.
Sean yang mendengar kejujuran istrinya pun tersenyun mesem. "Tidak apa-apa, gue bisa menahannya," ucap Sean, sembari mengusap pucuk kepala Irene dengan penuh kasih sayang.
Sedangkan Irene mengangguk sembari menutup hidungnya. "Iya, tapi kamu jangan jajan di luar ya, kalau kamu berani lihat saja, aku potong kepala si joni!" ancam Irene, sembari mengambil pisau dan di todongkan ke arah si Joni.
Joni yang sudah mulai tegak kini mengkeret jadi sangat kecil, seperti curut tercebur got.
"Jangan dong, nanti lo nggak bisa merasakan enak-enak lagi kalau kepala Joni di penggal," ucap Sean, seraya mengambil alih pisau yang ada di tangan istrinya.
"Gampang, aku bisa menikah lagi!" jawab Irene ketus.
Sean terperangah ketika mendengar ucapan istrinya. "Irene!!!!"
"Apa? Sana pakai baju, sudah siang dan waktunya untuk bekerja," titah sang kanjeng ratu dengan tegas.
"Baiklah ... baiklah," jawab Sean, berjalan lesu menuju kamarnya.
Likenya ya jangan lupa. Jangan bosan ya๐๐