
Pagi harinya Nathan dan Kirana sudah keluar dari rumah besar itu menuju Pavilun belakang secara sembunyi. "Mas, yakin kita tidak akan ketahuan?" tanya Kirana, seraya menoleh kekiri dan kekanan, memperhatikan sekitarnya.
"Enggak, Dek. Daddy dan Mommy masih tidur," jawab Nathan, lalu menggandeng tangan istrinya.
"Kita lewat jalan samping saja, kalau lewat belakang pasti ada penjaganya," lanjut Nathan, lalu berjalan menuntun istrinya lewat pintu samping yang sudah lama tidak digunakan itu.
"Aku takut kalau ketahuan Daddy, bisa digoreng sampai garing kita," ucap Kirana, namun ia tetap mengikuti suaminya dari belakang.
"Kamu kira tempe apa," jawab Nathan terkekeh pelan.
*
*
*
Tidak berselang lama pasangan suami istri itu sudah sampai paviliun yang tampak sepi itu.
"Sttt." Nathan menempelkan jari telunjuknya didepan bibirnya, saat istrinya akan membuka suara.
Mereka berjalan mengendap seperti seorang pencuri yang akan mengambil jemuran tetangga. Nathan dan Kirana sudah ada didepan pintu berwarna coklat itu.
Kirana menempelkan telinganya didaun pintu tersebut. "Nggak ada suara, Mas. Aku rasa mereka masih tidur," ucap Kirana.
Nathan mencoba meraih gagang pintu tersebut dan membuka pintu itu yang ternyata tidak dikunci, dan ingin melangkahkan kakinya kedalam sana, namun niatnya itu diurungkannya saat mendengar teriakan Sean memanggil Irene.
"Ren! Boxer gue yang warna kuning itu kemana?"
"Boxer yang gambarnya spongebob itu?" jawab Irene.
"Ck! Iya. Buruan cariin. Gue mau sif satu." teriak Sean lagi.
"Dih! Ogah! Cari aja sendiri. Memangnya kamu nggak lihat aku lagi masak!" balas Irene terdengar kesal.
"Istri nggak guna lo! Gue potong uang belanjanya jadi 50 persen!" seru Sean, dari kamar.
"Ya, ampun Se!! Sekalian nggak usah ngasih uang belanja! Biar kelaperan kamu!" balas Irene lagi sambil.
Terdengar suara panci dibanting dari dalam paviliun itu.
Nathan dan Kirana saling pandang dengan raut wajah yang terkejut. "Kamu dengar tadi?" tanya Nathan dan Kirana mengangguk pelan.
"Jadi mereka sudah nikah?" tanya Nathan, lalu menajamkan pendengarannya. Karena terjadi keributan lagi dari dalam paviliun itu.
"Banting aja semua itu pancinya! Nanti kalau rusak beli sendiri!" ucap Sean menghampiri Irene yang sedang berada didapur.
"Nggak sengaja kesenggol!" balas Irene, yang sedang membereskan kekacauan didapur, lalu matanya menatap kearah Sean.
"Dasar mesum!! Kenapa kamu nggak pakai baju?!" teriak Irene, saat melihat Sean hanya melilitkan handuk berwarna pink di pingganngnya. Dan memperlihatkan tubuh sixpack-nya yang terlihat sangat menggoda.
Dan tentu saja teriakan Irene terdengar sampai telinga Nathan dan Kirana, yang masih berada diambang pintu.
"Sengaja biar lo tegoda!" balas Sean, mendekati Irene yang sedang berdiri didekat kompor.
"Kamu mau apa?!" Irene memundurkan badannya hingga punggungnya membentur lemari dapur." Irene meraih centong nasi untuk melindungi dirinya.
"Mau minta jatah, sebelum berangkat kerja!" jawab Sean, semakin berjalan mendekat dan membuat Irene tersudut.
"Jangan aneh-aneh, Se!! Atau aku akan memukul kepalamu dengan ini!!" Irene mengacungkan centong kepada Sean.
"Nggak takut!!" ucap Sean yang saat ini sudah berada dihadapan Irene lalu menundukkan badannya, membuat Irene beringsut mundur dan memejamkan matanya dengan erat.
Sean tersenyum geli saat melihat Irene ketakutan, lalu tangannya terulur untuk mengambil sesuatu yang ada di belakang Irene.
"Nah ini jatah kopi susu gue belum lo buatin," ucap Sean, mengambil satu sachet kopi yang di maksud dan menyerahkannya kepada Irene.
"Dasar mesum!!" Sean menonyor kepala Irene dengan gemas, saat gadis itu tak kunjung membuka mata.
Seketika itu Irene terkejut, dan malu karena salah sangka terhadap Sean.
Jangan lupa kasih, kopi, vote, kembang, dan like. Love you all❤