My Hot ART

My Hot ART
Salahkah aku?



Jam 9 malam, di kediaman keluarga Clark.


Nathan, Aiden dan Ansel sedang berada di halaman belakang sembari ngobrol dan ngopi bersama.


Aiden menghembuskan asap rokok dari mulut dan hidungnya. Ia duduk menyandarkan punggungnya di kursi yang terbuat dari anyaman bambu itu dengan bertopang kaki. Sedangkan Ansel duduk santai sembari memainkan game di ponselnya.


"Bagaimana perusahaan selama Sean tidak ada, Ai?" tanya Nathan seraya menyesap kopi hitamnya.


"Sejauh ini aman terkendali, tapi aku sedikit terbebani," jawab Aiden, lalu menyesap asap rokoknya dengan dalam. "Bagaimana menurutmu, jika aku meminta Daddy untuk mencabut hukuman Sean?"


"Boleh dicoba, tuh. Tapi, bicaranya saat mood Daddy sedang baik. Atau kamu bisa merayu Mommy untuk membujuk Daddy," sahut Ansel, seraya memasukkan ponselnya kedalam saku celana.


"Nah, benar yang di katakan oleh Ansel. Kamu tahu sendiri jika Daddy kita itu sangat tunduk kepada Mommy." Nathan menyetujui ide Ansel.


"Baiklah, aku akan mengeluarkan jurus rayuanku." Aiden menaik turunkan alisnya sambil tersenyum lebar.


"Jangan menyentuh kulit Mommy, jika tidak ingin tanganmu di patahkan oleh Daddy." Ansel mengingatkan lalu tergelak keras.


"Haisss!! Orang tua itu," sambung Aiden, seraya terkekeh pelan, mengingat betapa overprotektif-nya Daddy mereka. Kemudian ia beranjak dari duduknya. "Aku akan berbicara dengan Daddy besok pagi, aku ke dalam dulu, mau tidur." Aiden berpamitan lalu segera berjalan memasuki rumah.


"Apa menurutmu dia benar-benar menjalin hubungan dengan Gwen?" tanya Nathan, kepada Ansel setelah Aiden sudah memasuki rumah.


"Dia terlalu gengsi untuk mengungkapkan perasaannya. Aku kasihan dengan Gwen yang sudah kehilangan kesucian bibirnya," jawab Ansel, membuat Nathan terkejut.


"Benarkah itu?" Nathan serasa tidak percaya dengan yang dia dengar. Dan Ansel mengangguk sebagai jawaban. Nathan tidak menyangka jika Aiden bisa berbuat sejauh itu. Apalagi Aiden adalah seorang pria yang introvert, dingin dan tidak mudah tersentuh atau menyentuh lawan jenisnya sembarangan.


*


*


*


Gwen melepas tangan Aiden yang mencekal tangannya itu dengan kasar, namun sayang sekali cekalan tangan itu terlalu kuat, hingga membuatnya sulit untuk melepaskannya.


"Kamu ini kenapa?" Akhirnya pertanyaan yang sejak tadi pagi tertahan diujung lidahnya, terlontar juga.


"Aku? Memangnya kenapa?" Gwen membalikkan pertanyaan Aiden, sehingga membuat pria itu sangat kesal.


Aiden memejamkan matanya sesaat, dengan perasaan kesal, ia menarik Gwen menuju lift yang tidak jauh dari sana.


"Lepas!!" sentak Gwen, memukul tangan kekar Aiden yang masih memegangi tangannya.


"Apa maumu? Tidak puaskah kamu menyakiti hatiku?" batin Gwen, ingin sekali dirinya menangis tapi dia berusaha kuat untuk menahannya. Masih teringat jelas dibenaknya, saat Aiden mengucapkan kata-kata yang menyakitkan kepadanya.


"Dia tidak akan salah paham! Bukan kah kita tadi sedang akting! Apa kamu berharap lebih? Jangan pernah bermimpi!"


Tapi, apakah salah jika dirinya berharap lebih? Apakah salah jika dia mulai mempunyai sebuah perasaan suka kepada pria yang ada di depannya ini? Salahkah dia? Terlebih lagi pria itu telah mengambil ciuman pertama dan juga telah menjamah tubuhnya.


"Katakan! Kenapa kamu berusaha untuk menghindariku? Dan kenapa sikapmu berubah?" tanya Aiden, menghimpit tubuh Gwen di dinding lift itu dan menatap tajam wajah cantik itu.


"Apakah semua yang aku lakukan penting untukmu? Memangnya kamu siapa?" jawab Gwen, menahan rasa sesak di dada dan manik mata berwarna hitam itu menatap Aiden penuh luka.