My Hot ART

My Hot ART
Haus banget ya?



Kirana tersenyum cerah lalu ia mengecup pipi Nathan yang sejak tadi cemberut kesal.


Bagaimana tidak kesal? Karena dia harus menahan malu saat membelikan benda keramat untuk Kirana.


Saat ini Nathan dan Kirana sudah selesai beristirahat dan mengisi perut mereka. Kirana pun sudah berganti pakaian dan sudah memakai benda keramatnya itu.


Cup


Cup


Cup


Cup


Kirana mencondongkan tubuhnya dan mengecupi pipi kiri Nathan berulang kali dan sangat mesra.


"Sudah dong marahnya, nanti gantengnya hilang loh," ucap Kirana, sambil menusuk-nusuk lengan Nathan yang berotot itu.


"Ck!" Nathan berdecak kesal menanggapi perkataan Kirana. Maksud hati, dirinya pergi ke kampung halaman kekasihnya dengan menempuh jalur darat karena ingin berlama-lama dan memanfaatkan waktu sebaik mungkin dengan Kirana, tapi sekarang Moodnya sudah hancur.


"Ih! Kok mukanya tambah masam begitu?" protes Kirana, memasang wajah sebal.


"Gagal menginap di hotelnya!" gerutu Nathan, langsung mendapatkan pukulan keras dari kekasihnya.


Semesta tidak mendukung, Bang Othan. 🤣


"Dasar otak mesum!!" Maki Kirana, sambil terus memukul lengan Nathan dengan telapak tangannya.


"Aw!! Sakit tahu!" Nathan berusaha untuk menghindar dari amukan Kirana dengan cara mencondongkan tubuhnya ke kanan, hingga membentur jendela mobil.


"Huh!! Lagian kemesuman mu itu kebangetan! Sepertinya jika berlama-lama denganmu, bisa pecah perawanku!" omel Kirana, memundurkan badannya dan memperbaiki posisi duduknya.


"Kamu selalu menggoda di mataku, lihat dadamu yang montok, bokongmu yang semok dan juga lekuk tubuhmu yang sangat seksi. Bagaimana aku bisa tahan jika selalu di perlihatkan pemandangan yang seperti ini!" Nathan berucap sambil menarik kaos Kirana ke atas, hingga sebatas dada dan memperlihatkan bukit kembar yang mulus dan berukuran cukup besar. 😅


"Nathan!!" pekik Kirana tertahan, untung saja kaca mobil tersebut berwarna hitam dan tidak tembus pandang dari luar, jika tidak! Sudah di grebek mereka oleh warga sekitar sana.


"Huh! Kamu harus membayarnya kekesalanku dengan itu!" Nathan mencolek bukit kembar Kirana yang sudah tertutup kaos lagi.


"Iya, tapi nanti tidak sekarang!" jawab Kirana.


"Aku mau nya sekarang! Tenggorokanku haus dan ingin meminum susu segar dari pabriknya langsung," pinta Nathan, dengan wajah mupengnya.


"Nih! Untuk sementara mimik air putih saja!" Kirana menyodorkan sebotol air aqua kepada Nathan.


"Nanti kalau sudah SAH kamu bisa meminum susu dari pabriknya sepuah hatimu," ucap Kirana lagi, sambil menggoyangkan botol aqua yang masih di genggamannya karena Nathan tidak kunjung menerimanya.


"Huh! Aku pegang kata-katamu," ucap Nathan seraya mengambil botol aqua tersebut dari tangan Kirana, lalu menenggak air tersebut hingga habis tidak tersisa, kemudian ia membuang botol tersebut ke tempat sampah yang ada di dalam mobilnya.


"Haus banget ya?" tanya Kirana, terkekeh geli saat melihat Nathan minum air putih seperti orang yang kesetanan.


Nathan hanya melirik sebal kekasihnya, lalu ia menyalakan mesin mobilnya, lalu menginjak pedal gasnya, mulai melanjutkan perjalanannya lagi ketempat tujuan.


*


*


*


Perjalanan yang sangat panjang yang baru pertama kali ia tempuh. Tubuh Nathan terasa remuk karena harus menyetir selama hampir tujuh jam menuju kampung tujuannya.


Ya, saat ini mereka sudah memasuki area Kota Semarang. Dan ia menepikan mobilnya sesaat karena ia sudah tidak tahu jalan menuju Kampung halaman kekasihnya.


"Rana, bangun! Kita sudah berada di Semarang." Nathan menggoyangkan tubuh Kirana yang tertidur pulas di jok sampingnya.


"Heum?" Kirana menggeliat lalu mulai mengerjabkan kedua matanya.


"Kita sudah sampai di Semarang, selanjutnya kemana lagi?" Nathan mengulangi ucapannya.


"Sebentar, nyawaku belum genap," jawab Kirana, sambil merenggangkan otot tubuhnya yang terasa kaku.