
"Kangen tahu, kamu kemana aja sih?" tanya gadis itu. Lalu mencium pipi Sean dengan gemas.
Sedangkan Sean tersenyum, lalu mengusak pucuk kepala gadis cantik itu dengan pelan.
Sedangkan Irene yang melihat pemandangan itu hanya menghela nafasnya, menahan rasa sesak didada.
Dia nggak akan pernah berubah. Batin Irene kecewa, lalu melangkahkan kakinya menuju lift, namun langkahnya tertahan saat seorang pria menyapanya.
"Ren, kamu Irene?" tanyanya, dengan raut wajah yang sulit diartikan.
Irene menoleh seraya tersenyum senang. "Iya, Mas Dodi," jawan Irene tersenyum malu.
Sean mengeraskan rahangnya saat melihat Irene didekati oleh pria lain, yang tak lain adalah Dodi, Manager di perusahaan itu.
"Pangling banget loh, kamu kok cantik banget begini," ucapnya, berdecak kagum karena tidak menyangka dibalik penampilannya yang cupu terdapat wajah bidadari yang tersembunyi.
"Lagi ikuti trend aja Mas biar nggak jadi cupu terus," jawab Irene, namun matanya melirik Sean yang juga tengah menatapnya.
"Nggak apa-apa ngikutin trend penampilan, asalkan jangan salah pergaulan ya," Mas Dodi mengingatkan.
"Iya, Mas. Terima kasih sudah mengingatkan," jawab Irene, seraya tersenyum manis.
"Mau keatas? Bareng yuk! Aku juga mau nyarahin berkas kepada Pak Aiden," tawar Mas Dodi, sembari mengangkat tangan kanannya yang memegang Map berwarna biru.
"Boleh, tapi Pak Aiden jam segini belum datang atau mau dititipin sama saya saja?" ucap Irene, seraya melangkahkan kakinya dan di ikuti oleh Mas Dodi.
Sean menatap nyalang punggung pria tersebut, sambil mengepalkan kedua tangannya dengan erat. Dadanya terasa panas dan tidak suka jika Irene berdekatan dengan pria lain selain dirinya.
"Ada apa, Se?" tanya Gadis tersebut, sambil bergelayut manja dilengan Sean.
"Tidak ada apa-apa. Lo ngapain kesini?" tanya Sean, lalu menarik tangannya yang digelayuti gadis tersebut.
"Loh, kamu nggak tahu?" tanyanya, dan Sean menggeleng sebagai jawaban.
"Siapa yang nyaranin lo buat jadi BA disini? Mengadi-ngadi!" ucap Sean, karena tidak percaya dengan kemampuan gadis yang ada dihadapannya ini.
"Ih! Kok kamu ngomong gitu sih? Malin sendiri yang memintaku jadi model untuk WG," jelas gadis tersebut yang tak lain adalah Gwen.
Sean menggeleng pelan, lalu melangkahkan kakinya menuju lift yang tidak jauh dari sana, menuju lantai atas dimana ruangan Aiden berada.
"Se! Tungguin!" seru Gwen, mengejar Sean yang sudah memasuki Lift.
"Jauh-jauh sana! Lo nanti membuat calon bini gue salah paham!" kesal Sean, lalu menonyor kepala Gwen kebelakang.
"Calon bini? Bohong!" ucap Gwen lalu memeluk lengan Sean lagi dengan manja.
"Ck!! Gue laporin sama abang Juna, mampus lo! Biar dia tahu kalau adeknya ini kecentilan!" ucap Sean, lalu menarik tangannya yang di gelayuti oleh Gwen.
"Ih! Tukang adu!" kesal Gwen sambil menghentakan kakinya dengan kesal, dan mengerucutkan bibirnya.
Baginya, Sean sudah seperti kakaknya sendiri. Di tambah lagi pembawaan Sean yang asik dan seru, tidak seperti ketiga saudaranya, membuat Gwen lebih nyaman jika berada didekat Sean.
Ting
Lift yang mereka naiki sudah sampai di lantai yang mereka tuju. Sean dan Gwen keluar dari lift bersamaan.
"Diem disini aja lo, jangan ikut!" titah Sean kepada Gwen, saat akan memasuki ruangan Irene, yang letaknya ada didepan ruangannya.
Sean membuka pintu ruangan Irene tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Ren, gue —" ucapan Sean terhenti saat melihat Mas Dodi berada diruangan Irene. Dadanya terasa panas, apalagi saat Irene tersenyum manis kearah pria tersebut.
Cie... Ada yang panas tapi bukan api. 🤣🤣🤣
Vote dan like yang banyak ya, please🥰🥰🥰❤❤