
"Dad, kenapa diam saja? Ada apa?" tanya Sean kepada ayahnya terlihat tidak baik-baik saja.
Xander menghembuskan nafasnya dengan kasar sebelum menjawab pertanyaan putranya, serta menatap Irene dan Sean bergantian.
"Daddy, Mommy baik-baik saja?" Kali ini Irene yang bertanya.
"Sebenarnya Mommy kalian baik-baik saja. Dan saat ini sedang berada di rumah sakit menemani Ansel dan Melisa," jawab Xander.
Sean tersenyum mendengar jawaban ayahnya, "jadi Melisa juga akan melahirkan, Dad? Benar begitu?" tebak Sean dengan wajah yang berbinar.
"Benar, hanya saja ..." Selanjutnya Xander menjelaskan semua yang sudah terjadi, dari mulai Melisa jatuh di kamar mandi hingga di bawa ke rumah sakit dan harus menjalani operasi.
Sean dan Irene sangat terkejut mendengar penjelasan Xander tentang musibah yang di alami oleh saudara mereka.
"Ya Tuhan, bagaimana bisa ini terjadi, Dad?" tanya Irene berkaca-kaca, kejadian yang di alami Gwen saja masih membekas di benaknya, membuatnya semakin merasa sedih saat mendengar kabar Melisa.
"Jika suratan takdir tidak bisa di bantah, di saat itu juga harus ikhlas untuk menjalaninya. Walaupun terasa berat, dan semua ini adalah hal yang di alami Melisa dan Gwen. Daddy pun merasa sedih dengan kejadian ini, Ren," jawab Xander kepada menantunya yang duduk di tengah tempat tidur pasien.
Siapa yang mau mempunyai takdir yang tidak baik? Semua orang merasa tidak ada yang menginginkannya.
Semua orang pasti menginginkan takdir yang baik dan juga bahagia. Tapi, yang namanya kehidupan penuh lika-liku ada suka dan ada duka, sebagai manusia hanya bisa menjalani takdir yang sudah di tentukan oleh-Nya.
"Ansel pasti saat ini membutuhkan dukungan dari kalian, Dad," ucap Sean kepada Xander yang kini memandangi cucu perempuannya yang cantik dan menggemaskan.
"Kalian juga membutuhkan kami, Se. Jadi biarkan Daddy berada di sini, karena Daddy dan Mommy sudah membagi tugas untuk kalian," jawab Xander seraya menatap putranya yang tampak cemas.
"Daddy tahu kalau kamu mencemaskan Ansel dan Melisa, tapi sekali lagi kalian juga membutuhkan dukungan dari kami," lanjut Xander seraya menepuk pundak putranya agar mengerti.
Xander tidak ingin jika Sean dan Irene merasa tersisihkan. Ia ingin bersikap adil kepada anak dan menantunya.
Sean pada akhirnya mengangguk pelan, menuruti keinginan ayahnya. Lagi pula benar yang di katakan oleh Xander, jika ia dan istri membutuhkan dukungan dari keluarga.
"Oh, ya. Kamu sudah menghubungi saudara kalian?" tanya Xander kepada Sean.
"Astaga! Aku lupa," jawab Sean seraya menepuk jidatnya dengan keras, lalu mengambil ponselnya yang ada di dalam kantong celana untuk menghubungi Nathan dan Aiden.
"Sean baru punya anak satu kok sudah pikun," cibir Xander seraya mengelus pipi cucunya dengan lembut.
"Siapa nama cucuku ini, Ren," tanya Xander kepada menantunya itu
"Nama yang cantik seperti anaknya," jawab Xander seraya mengulas senyum di bibirnya sudah mengeriput itu. Dalam hati ia sangat bersyukur di berikan umur panjang serta kesehatan untuk melihat cucu-cucunya lahir ke dunia.
Sean sudah selesai menghubungi dua saudaranya, kemudian memasukkan ponsel ke dalam kantong celananya. "Nathan dan Aiden menuju ke sini, Dad," ucap Sean dan di angguki oleh Xander.
Xander mengambil ponselnya saat merasakan getaran panjang, bertanda jika ada panggilan masuk.
"Mommy," gumam Xander sembari menatap layar ponselnya itu dan tertera nama 'My wifeā¤' tidak menunggu lama Xander segera mengangkat panggilan telepon tersebut.
"Yes, Mom," jawab Xander dengan dada yang berdebar-debar, takut jika istrinya memberikan kabar buruk.
"Daddy, cucu kita sudah lahir tanpa kekurangan suatu apa pun dan sangat tampan," jawab Jeje sesegukan di ujung telepon sana karena merasa terharu dan juga sangat bahagia.
Xander yang mendengar kabar baik itu langsung menghembuskan nafas lega. Ia memejamkan matanya sesaat, mengucapkan rasa syukur sebagai bentuk rasa terima kasihnya kepada Tuhan.
Sean dan Irene saling pandang saat melihat ekspresi wajah Xander yang terlihat sendu.
"Cucu kita yang ada di sini juga sangat cantik, Mom dan tidak kekurangan suatu apa pun," ucap Xander membuat Jeje yang ada di seberang sana semakin terisak karena mendapatkan kebahagiaan yang berkali-kali lipat.
"Aku jadi tidak sabar untuk melihatnya. Sampaikan salam untuk Sean dan Irene, Dad," jawab Jeje sebelum menutup sambungan teleponnya.
Xander memasukkan ponselnya ke dalam kantong celananya seraya menatap anak dan menantunya bergantian.
"Melisa dan bayinya baik-baik saja 'kan Dad?" tanya Irene.
"Iya, mereka baik-baik saja dan tidak kekurangan suatu apa pun," jawab Xander seraya tersenyum lebar.
Sean dan Irene bernafas lega dan ikut merasa bahagia.
"Bulan ini kalian panen cucu ya, Dad," goda Sean kepada ayahnya yang tampak sangat bahagia.
"Aku sangat bersyukur bisa merasakan hari tuaku ini. Di berikan cucu banyak dan lulu-lucu." Xander menjawab dengan perasaan yang sangat bahagia dan penuh haru.
***
Syukurlah mereka baik-baik saja, dan hanya Baby Anaya yang mempunyai kekuranganš„ŗ
Jangan lupa dukungannya, ya bestieā¤