
Mobil yang di kendarai Nathan terparkir rapi di depan rumah sederhana yang terbuat dari kayu jati. Dinding dan pintu rumah tersebut berplitur dengan ciri khasnya berwarna coklat mengkilat, dan rumah tersebut beratapkan genteng yang terbuat dari tanah liat.
Di depan rumah tersebut ada pohon mangga, dan pohon jambu air, di dekat pohon jambu itu ada ambal yang sepertinya di gunakan untuk duduk bersantai.
Udara disana, terasa sangat sejuk dan juga sangat asri, banyak pohon jati dan dan pohon kelapa yang tumbuh di sekitar rumah tersebut.
Jarak rumah Kirana dengan rumah tetangga sekitar letaknya berjauhan. Di samping kiri rumah Kirana ada kebun singkong dan sebelah kanannya ada kebun jagung yang sangat luas.
Nathan keluar dari dalam mobil bersamaan dengan Kirana. Pria itu merenggangkan otot tubuhnya yang terasa sangat kaku. Setelah itu, ia menghirup udara yang sangat sejuk itu hingga memenuhi rongga dadanya, lalu menghembuskannya secara perlahan dan ia melakukannya berulang kali hingga dirinya merasa puas. Perjalanan yang sangat jauh dari Jakarta ke Semarang dan dari Semarang menuju Desa Kirana, membutuhkan waktu selama 1 jam perjalanan.
"Ayo masuk. Maaf, kalau nanti kamu tidak nyaman berada disini," ucap Kirana, mengajak masuk Nathan ke dalam rumahnya. Tidak lupa, mereka membawa keluar barang-barangnya.
"Aku pasti sangat nyaman berada disini karena suasananya sangat sejuk, dan rumahmu sangat bagus, aku suka," jawab Nathan, mengatakan yang sejujurnya.
"Orang tuamu kemana?" tanya Nathan, saat melihat pintu rumah tersebut tertutup rapat.
"Biasanya kalau siang hari seperti ini, mereka ke ladang, dan akan pulang sore hari," jawab Kirana, seraya membuka pintu tersebut yang tidak pernah di kunci.
"Silahkan masuk." Kirana mempersilahkan Nathan masuk, seraya membuka pintu rumahnya dengan lebar.
Nathan berjongkok, lalu melepaskan sepatunya sebelum memasuki rumah tersebut, karena rumah itu berlantaikan keramik berwarna putih, dan Nathan tidak ingin mengotori lantai tersebut. Dan Kirana pun melakukan hal yang sama.
"Wow!" Nathan begitu takjub saat memasuki rumah tersebut.
Rumah yang semua terbuat dari kayu jati, dari mulai meja, kursi, lemari, dinding dan langit-langit rumah itu. Dan semuanya berplitur mengkilat terlihat sangat mewah dan elegan di mata Nathan.
"Benar-benar elegan." Nathan bergumam, mengagumi desain rumah itu.
Ia tidak menyangka jika rumah Kirana sangat bagus dan jauh dari yang di bayangankan nya.
"Duduk dulu, aku akan membuatkan teh hangat untukmu," ucap Kirana, seraya meletakkan tas miliknya diatas lantai, lalu berjalan menuju dapur.
*
*
Sepasang suami istri paruh baya, baru pulang dari ladang. Sang suami membawa cangkul di pundaknya, sedangkan sang istri membawa keranjang yang terbuat dari rotan dan berisikan cabai dan berbagai macam sayuran, yang baru mereka petik di ladang. Keduanya menatap bingung saat melihat ada mobil mewah berwarna hitam terparkir depan rumahnya.
"Sopo Pak? (Siapa, Pak)?" Sang istri bertanya, kepada suaminya yang juga masih bingung.
"Embuh (Tidak tahu)" jawab suaminya, sambil menaikan kedua bahunya bersamaan.
"Ayo ndang masuk, siapa tahu itu mobil penagih hutang. Jangan-jangan mereka mau menyita rumah kita lagi," seru sang istri heboh, lalu menarik tangan suaminya, segera memasuki rumah dengan langkah tergesa.
"Wah, ndak bisa di biarkan ini!" Pria paruh baya itu meletakkan cangkulnya di atas lantai dengan kasar, lalu menyingsing kedua lengannya sampai ke pundak. Emosinya memuncak saat melihat seorang pria duduk di kursi membelakanginya, yang di kira nya penagih hutang.
"Tak slepet! Modyaarr kowe!" umpat si bapak itu, berjalan mendekati pria tersebut.
Kasih sajennn!! Mana sajenn Bunga ples kopi! Biar makin mangat ngetiknya😘