My Hot ART

My Hot ART
Pertemuan



Melisa duduk sembari menundukkan kepala dan meremat kedua tangannya yang ada diatas pangkuannya.


"Kenapa kamu terlihat gelisah dan takut?" tanya Arjuna yang sejak tadi memperhatikan Melisa. "Ayo ikut denganku, ada yang ingin bertemu denganmu," lanjut Arjuna.


Melisa mendongakkan kepala, menatap pria tampan dan berjambang itu dengan raut wajah yang bingung. "Maksudnya? Bapak tidak memecat saya?"


Arjuna tertawa pelan, lalu menggeleang seraya berkata, "siapa yang ingin memecatmu? Aku tahu jika kamu sedang mengalami kesulitan. Sudah! Jangan banyak tanya, lebih baik kamu ikut denganku." Arjuna segera beranjak dari duduknya.


Melisa menggaruk ujung alisa, dan berkerut bingung. Ingin bertanya lebih lanjut akan tetapi, Bosnya itu seolah tidak memberikannya kesempatan. Pada akhirnya, ia pasrah dan mengikutinya.


Pak Manager yang melihat Melisa berjalan bersisian dengan Arjuna pun menggeram kesal, karena sudah dipastikan jika Melisa tidak dipecat oleh Bosnya itu.


*


*


*


"Kita mau kemana pak?" tanya Melisa, ketika dirinya di persilahkan untuk masuk ke dalam mobil dan duduk di samping Arjuna.


"Jangan banyak tanya, cepatlah naik!"


Melisa menghela nafas, dan mau tidak mau akhirnya, ia naik ke mobil tersebut dan duduk disamping Arjuna yang duduk di balik stir mobil.


Arjuna melajukan mobilnya tanpa berbicara lagi, begitu pula dengan Melisa lebih memilih diam dari pada merusak mood bosnya itu.


Tidak berselang lama mobil yang di kendarai Arjuna memasuki pintu gerbang yang besar dan juga megah. Melisa tercengang, lalu menoleh ke Arjuna. "Pak, sebenarnya kita ini mau kemana?"


Arjuna diam tidak menjawab, tetap melajukan mobilnya sampai terparkir rapi di depan halaman rumah yang sangat mewah. "Turun!" ucap Arjuna, seraya membuka pintu mobilnya. Dan lagi-lagi, Melisa hanya diam dan mengikuti perintah Arjuna.


"Kalian sudah datang rupanya." Jeje menyambut seraya mempersilahkan dua orang tersebut masuk ke dalam rumah.


"Terima kasih, Aunty," ucap Arjuna, sedangkan Melisa mengangguk dan tersenyum ramah.


"Sebenarnya kenapa aku dibawa ke kediaman keluarga Clark?" Melisa bertanya di dalam hati, dan baru tersadar jika saat ini dirinya berada di rumah keluarga Clark saat melihat Jeje, sang Nyonya rumah.


Melisa tercengang, ketika mendengar Jeje menyebutkan nama putrinya. Dan yakin jika dirinya berada disini berhubungan dengan putrinya.


"Iya, Nyonya. Apakah anda mengenal putri saya? Dan apakah anda melihat putri saya?" tanya Melisa beruntun, sangat antusias. "Maaf, saya banyak bertanya," lanjut Melisa, menundukkan kepala, menyadari kelancangannya.


Jeje tersenyum lembut. "Jangan sungkan seperti itu, aku mengerti dengan perasaanmu. Kemarin malam, putraku membawa pulang seorang gadis kecil yang sangat cantik," jelas Jeje.


"Apakah Zahra, putri say---" ucapan Melisa harus terputus ketika mendengar suara anak kecil yang sudah lama ia rindukannya.


"Mama!"


Melisa menoleh, terkejut ketika melihat putrinya ada di gendongan seorang pria yang di kenalnya. Ia beranjak dari duduknya, matanya mengembun, karena merasa bahagia dan terharu bisa berjumpa dengan putrinya lagi.


Ansel menurunkan Zahra, dan membiarkan gadis kecil itu berlari menghambiri ibunya. Melisa berjongkok dan menyambut putrinya, lalu memeluknya dengan penuh kerinduan kemudian menciumi seluruh permukaan wajah Zahra dengan penuh kasih sayang.


"Mama rindu sama, Zahra," lirih Melisa. Air matanya sudah tidak terbendung lagi. Terpisah selama hampir 2 tahun dengan putrinya membuatnya hampir gila, dan pada akhir mereka di pertemukan lagi dengan cara yang tidak terduga.


"Zahra juga rindu sama, Mama. Zahra ingin tinggal bersama Mama saja. Tidak ingin tinggal bersama, Papa yang jahat," ucap Zahra, sambil memeluk ibunya dengan erat, memumpahkan segala kerinduan yang selama ini terpendam.


Ansel dan Jeje terharu melihatnya. "Syedih syekali, Mom," ucap Ansel, mengusap sudut matanya lalu memeluk sang Mommy dengan manja.


"Hais! Malu dilihat Mamanya Zahra!" Jeje mendorong kepala putranya yang tenggelam di dadanya.


"Ih! Mommy! Aku juga butuh pelukan hangat!" rajuk Ansel seraya menghentakkan kedua kakinya dengan kesal, sambil mengerucutkan bibirnya.


"Cari istri, Ans!" kesal Jeje.


Senin woy Senin!


Votenya mana? Ayo keluarin semua, biar makin semangat emaknya, buat namatin ceritanya. 🤣🤣🤣


Jangan lupa tinggalkan jempol kalian juga ya, pelit like, jempolnya cantengan loh😄😄