
Irene yang sudah merebahkan diri ditempat tidur dan mulai memejamkan matanya terkejut saat mendengar ketukan pintu dari luar kamar dan tidak berselang lama Sean memasuki kamarnya sambil membawa kotak P3K.
"Maaf, gue nggak bermaksud ngganggu waktu istirahat lo. Tapi, gue cuma mau ngobatin memar lo," jelas Sean, kepada Irene yang sudah mendudukan diri diatas tempat tidur.
"Kamu perhatian banget," jawab Irene sambil tersenyum manis, membuat Sean salah tingkah.
"Ehm, bukan begitu. Gue cuma nggak mau kalau lukamu itu infeksi." Sean beralasan.
"Ini hanya memar Se, mana mungkin infeksi." Irene terkekeh pelan saat mendengar alasan Sean.
Sean menggaruk kepalanya yang tidak gatal seraya memalingkan wajahnya dan berdehem pelan, guna mengusir rasa malunya.
"Sini." Irene menepuk tepian tempat tidur, agar Sean duduk disana.
Irene menyelipkan rambutnya kebelakang telinga agar Sean mudah mengobati memar dipipinya.
"Ayo obati," ucap Irene dan mendekatkan wajahnya kearah Sean.
Sean menelan ludahnya dengan kasar saat melihat wajah cantik Irene tanpa kaca mata besar yang biasa menutupi wajah itu. Dan bibir tipis berwarna pink itu seolah melambai-lambai ingin dikecup.
Sean menggelengkan kepalanya berulang kali seraya memukul kepalanya dengan pelan agar pikiran kotor itu hilang dari kepalanya.
"Kamu kenapa?" tanya Irene saat melihat tingkah aneh Sean.
"Tidak," jawab Sean singkat, lalu mulai membuka kotak P3K dan segera mengobati luka dipipi Irene.
Lagi-lagi Sean menelan ludahnya dengan kasar saat melihat bibir pink itu sedikit terbuka. Ia sekuat tenaga menahan hasratnya untuk tidak menerjang bibir itu.
Irene membuka kedua matanya saat merasa tidak ada pergerakan dari Sean. Ia terpaku saat tatapan matanya bertemu dengan sorot mata yang tajam itu.
"Se," gumam Irene, saat Sean menatapnya tidak berkedip. Apalagi Sean mulai memajukan wajahnya akan tetapi Irene seolah terhipnotis oleh tatapan tajam yang mampu membuat tubuhnya itu membeku.
Dia tidak mampu untuk menghindar dari pria tersebut. Deru nafas Sean menerpa wajahnya, ia mulai memejamkan matanya bersamaan dengan benda kenyal itu mendarat dibibirnya.
Jantung Irene berdetak tidak karuan, seketika itu ia tersadar dan segera membuka kedua matanya.
"Apa? Kenapa kamu teriak begitu?" tanya Sean, sambil menutup kotak P3K yang ada dipangkuannya.
Eh!
Irene terkejut lalu meraba bibirnya.
Jadi hanya hayalan? Batin Irene, malu sendiri karena ia memikirkan hal yang enak-enak bersama Sean.
Bodoh! Kenapa otakmu jadi kotor begini? Batin Irene lagi, dan terus merutuki dirinya sendiri.
Sean memicingkan matanya dan menatap Irene dengan intens. "Kenapa bibirnya diusap? Apa lo menghayal sesuatu yang panas?" goda Sean, semakin membuat wajah Irene bersemu merah.
Namun dengan cepat Irene menyangkalnya. "Ti ... tidak," ucap Irene tergagap.
"Heum? Masa??" Sean mencondongkan tubuhnya dan semakin menggoda Irene, timbul lah ide jahil untuk mengerjai gadis itu.
"Apa lo menghayal berciuman dengan gue? Apa lo mau mencobanya?" Sean mendekatkan wajahnya dan memonyongkan bibirnya.
"Ih!! Sean! Menjauh dariku!!!" Irene berteriak sambil mendorong dada bidang Sean.
"Ayolah, dari pada lo berhayal lebih baik langsung mencobanya." Sean masih terus menggoda Irene, hingga gadis itu memundurkan tubuhnya dan terlentang diatas tempat tidur. Namun Sean tidak berhenti menggoda gadis itu, hingga tanpa sadar ia sudah mengungkung tubuh mungil itu.
"Ayolah Irene bibirku ini sangat lembut dan menggoda," ucap Sean, sambil memasang wajah yang konyol.
"Sean, awas jangan seperti ini," ucap Irene, mendorong wajah pria itu agar menghentikan aksinya, apalagi posisi keduanya kini sangat intim.
Seketika itu Sean tersadar saat mengetahui dirinya sudah berada diatas tubuh Irene. Keduanya saling terdiam dan tubuh keduanya saling menegang. Tatapan mereka saling beradu, hingga Sean yang mempunyai jiwa casanova mulai menunjukkan taringnya.
Pria itu mengikuti nalurinya, ia semakin mendekatkan wajahnya dan....