My Hot ART

My Hot ART
S2. Flashback 2 bulan lalu



Dua bulan yang lalu, Xander dan Jeje datang ke paviliun untuk meminta Sean kembali ke Warjah Grup untuk memimpin perusahaan itu kembali.


“Daddy mohon sama kamu, kembalilah ke WG,” ucap Xander sembari menatap putranya dengan tatapan sayang. “Apalagi WG itu kamu dirikan bersama Aiden,” lanjut Xander.


“Tapi aku bukanlah apa-apa jika tidak ada Daddy, dan separuh saham WG adalah milik Daddy,” jawab Sean, ia merasa enggan untuk kembali memimpin perusahaan dan malas jika harus berhadapan dengan pusingnya dunia bisnis.


Xander menghela nafas panjang menghadapi sifat keras kepala salah satu putranya ini. “Tidak masalah untukku, Daddy akan memberikan semua saham WG kepadamu, asalkan kamu mau kembali ke sana.”


Sean menggeleng pelan, tidak tertarik sama sekali dengan tawaran yang terdengar sangat menggiurkan itu. Ia tetap pada pendiriannya.


“Maafkan aku, Daddy, aku tidak bisa, Aku sudah menyukai kehidupanku yang saat ini, bebas tanpa adanya aturan-aturan yang harus di patuhi,” jawab Sean, membuat Xander mengepalkan kedua tangannya yang ada di atas pangkuannya.


“Sean pikirkan kembali, apakah kamu tidak kasihan dengan Irene? Apakah kamu tidak kasihan dengan calon anak kalian?” ucap Jeje yang sejak tadi diam kini membuka suara.


“Apakah Mommy berpikir jika aku merasa kekurangan? Apa yang ada di pikiran Mommy itu salah! Justru aku mencukupi kebutuhan istriku! Walaupun sederhana!” sahut Sean dengan sangat tegas.


“Maaf, Mommy hanya tidak ingin jika anak, menantu dan juga cucu Mommy berjuang keras seperti ini. Apalagi kamu adalah keturunan keluarga Clark,” jelas Jeje, malah membuat percikan api di dalam dada Sean.


“Jadi Mommy berpikir begitu? Sekarang aku bertanya kepada kalian! Di mana kalian saat aku membutuhkan kalian?! Aku di buang dari rumah dan kalian tidak memberikan aku sepeser pun uang untuk aku makan, dan lebih parahnya lagi namaku di black list oleh Daddy. Aku bekerja keras untuk menyambung hidup, lalu di mana kalian saat itu? Lalu sekarang kalian dengan mudahnya mengatakan hal seperti itu?!Sebenarnya aku malas untuk mengungkit hal ini, akan tetapi perkataan Mommy itu sudah keterlaluan!” sentak Sean dengan nafas yang memburu dan kedua mata memerah menahan amarah dan juga air mata. Irene yang sejak tadi diam di samping suaminya pun mengelus lengan suaminya agar tetap tenang.


“Tutup mulut Sean! Jangan pernah sekali pun kamu membentak wanita yang sudah melahirkan kamu ke dunia ini!” bentak Xander dengan penuh emosi.


“Aku mengatakan yang sebenarnya Dad! Daddy sangat lah kejam!” jawab Sean.


“Daddy lakukan semua ini demi kebaikanmu, agar kamu tidak berfoya-foya lagi dan tidak bermain wanita di luar sana, dan juga agar kamu tahu bagaimana susahnya mendapatkan uang di luar sana!” sentak Xander sembari menatap tajam putranya. Ia akui, dirinya terlalu kejam mendidik putranya, akan tetapi itu semua demi kebaikan putranya sendiri agar berubah menjadi lebih baik lagi. Apakah dirinya salah sebagai orang tua?


“Dan terima kasih atas hukuman Daddy berikan, karena dengan begitu aku bisa bertemu dengan Irene, wanita yang paling aku cintai,” jawaban Sean mengandung sindiran yang di tunjukan kepada kedua orang tuanya.


“Sean sudah!" ucap Irene kepada suaminya.


Xander dan Jeje menatap Irene bersamaan.


“Sekarang Daddy tanya kepada istrimu!” ucap Xander kepada putranya.


“Apakah kamu bahagia hidup seperti ini?!” tanya Xander kepada Irene.


Irene mendongak dan menatap Ayah mertuanya sesaat, lalu menundukkan kepalanya lagi. “Saya bahagia Daddy, saya bahagia hidup bersama Sean,” jawab Irene dengan mantap, sembari menundukkan kepalanya.


“Jika berbicara tatap lawan bicaramu!” sentak Xander membuat Irene terlonjak kaget.


“Ma-maaf,” jawab Irene dengan tubuh bergetar ketakutan sembari menahan tangisnya.


“Daddy kenapa membentak istriku?!” Sean tidak terima istrinya di bentak seperti itu.


Xander menggeleng lalu beranjak dari duduknya sembari menarik tangan istrinya. Dan segera keluar dari paviliun tersebut tanpa mengatakan apa pun, dan semenjak hari itu hubungan mereka tidak baik-baik saja. Dan sebab itu juga Sean memutuskan untuk membeli rumah sederhana, keluar dari paviliun tersebut, dan dirinya juga sudah mengatakan kepada kedua orang tuanya jika dirinya melepas marga Clark di namanya, dan semua itu semakin membuat Xander geram dan menyalahkan Irene sebagai biang keladinya.


***


“Aku takut,” ucap Irene saat sudah berdiri di depan rumah megah dan mewah milik keluarga Clark.


“Ada aku,” jawab Sean, sembari menarik tangan istrinya dengan lembut, lalu mengajak Irene memasuki rumah tersebut.


“Kalian sudah datang.” Gwen menyambut pasangan suami istri itu. Penampilan Gwen sangat berkelas dan sangat anggun, dress yang ia gunakan saja harganya puluhan juta apa lagi aksesoris yang menempel di tubuhnya sangat sederhana namun sangat elegan.


Irene mematut penampilannya sendiri yang


terlihat sangat sederhana dan hanya memakai dress yang berharga puluhan ribu dan yang paling mahal adalah ratusan ribu, namun satu hal yang ada di dalam hati Irene adalah ia tidak merasa iri sama sekali, justru ia bangga dengan apa yang sedang ia kenakan saat ini, karena dari hasil kerja keras suaminya.


“Silahkan masuk, Irene apa kabar?” Gwen cipika-cipiki dengan Irene.


“Aku baik, Gwen,” jawab Irene sembari tersenyum tulus.


Irene dan Sean masuk ke dalam rumah tersebut, melangkah masuk menuju ruang keluarga.


Sean merindukan suasana di dalam rumah tersebut, rumah yang sudah menjadi saksi tumbuh kembangnya dari kecil sampai dewasa.


“Silahkan duduk, jangan sungkan seperti itu. Ini adalah rumah kalian juga ‘kan,” ucap Gwen, sembari mendudukkan dirinya berseberangan dengan pasangan suami istri itu.


“Yang lain ke mana?” tanya Sean.


“Melisa dan Zahra sedang berada di kamar Oma, beliau kesehatannya sedang menurun, beliau merindukan kalian, Sean, Irene,” jawab Gwen dengan sendu.


“Maaf,” ucap Sean.


“Aku mengerti dengan perasaan kalian, dan aku pun akan melakukan hal yang sama jika berada di posisi kalian. Apalagi kalian sudah berumah tangga jadi berhak untuk menentukan pilihan hidup kalian yang akan kalian tempuh,” ucap Gwen, dan di angguki oleh Sean dan Irene. Ya—hidup itu adalah pilihan, dan di setiap pilihan yang di ambil pasti ada tantangan tersendiri yang harus di takhlukkan.


“Mommy dan Daddy sebentar lagi pulang, mereka tadi pergi jalan-jalan sore di taman komplek,” ucap Gwen.


Obrolan mereka terhenti saat ada dua pelayan meletakkan cemilan dan minuman di atas meja.


“Dan para 3 J sedang dalam perjalanan pulang kerja. Kalian akan menginap di sini ‘kan?” tanya Gwen sembari menatap Sean dan Irene bergantian. Berharap jika pasangan suami istri itu menginap di sana, jujur saja ia merindukan Sean dan Irene, sudah lama mereka tidak berkumpul.


***


Emak hadir lagi ya, jangan lupa berikan dukungan semampu kalian.


Sembari menunggu yuk mampir di lapaknya Abang Juna yang berjudul Suddenly married, hanya di Noveltoon dan Mangatoon. Mampir ya dan ramaikan!