Love, Revenge, And The Sea

Love, Revenge, And The Sea
98



Berada disampingmu, bagaikan mimpi, jika memang ini adalah mimpi, izinkan aku tak bangun agar aku bisa menyimpanmu selalu


____________________________________________


Bis kedua tidak lama datang, untungnya tidak ada yang menunggu selain mereka, jadi mereka bisa langsung masuk. Bis itu hampir penuh, tempat duduknya juga tersisa cuma 1, Angga segera mengarahkan Bella agar dia duduk. Bella melihat itu hanya tersenyum senang, dia langsung duduk, sedangkan Angga berdiri di depannya.


Angga memperhatikan sekitar, baru kali ini dia menaiki bis, apa lagi bis itu cukup ramai, dia kembali menunjukkan sikap pertahanannya, seolah tidak boleh ada yang menganggunya, dia melihat gantungan tangan di atas, bis mulai berjalan, karena awal berjalan, Angga sedikit limbung, namun untungnya dia masih bisa berdiri tegak, dia tetap menyimpan ke dua tangannya di kantong celananya, tidak ingin menyentuh apapun di sana.


Bella hanya tersenyum-senyum saja melihat kelakuan Angga. Pria ini berusaha melawan ketidak nyamanannya hanya untuk Bella, Bella benar-benar tersentuh.


Tak lama datang seorang pria, sepertinya umurnya masih cukup muda, berdiri di depan Angga dan mengarah ke Bella, dia tersenyum melihat Bella yang memang tampak mencolok di sana. Bella yang melihat pria itu sempat kaget.


Angga menatap pria itu tajam, beraninya dia menyerobot tempat Angga, dan tersenyum pada Bella, Angga dengan cepat berdiri di depan pria itu, pria itu saja sampai mundur karena kaget, tapi karena bis itu terus berjalan, dia sedikit kehilangan keseimbangann, sehingga Angga refleks bertumpu pada dingding bis, menahan dengan tangan kanannya tepat di atas kepala Bella, wajah Angga sangat kesal, menatap Bella. Bella hanya senyum-senyum saja seolah tidak merasa bersalah.


"Kita tidak akan pernah naik bis lagi. " kata Angga kesal. Bella hanya tersenyum manis.


"Jangan tersenyum, ingin mengoda orang ya?" kata Angga lagi.


"Jangan terlalu posesif, " kata Bella terus saja tersenyum.


Bis berhenti di salah satu halte, seorang nenek tua masuk, dia melihat ke semua tempat duduk, sudah penuh dan ber isi, dia lalu berjalan mendekati tiang yang ada di sana, wajahnya tampak kelelahan, namun dia tidak mengeluh.


Bella lalu berdiri, mendekati nenek tua itu, dia mempersilahkan nenek itu untuk duduk di tempatnya tadi, nenek itu tampak senang, tersenyum terus menerus dan juga berterima kasih.


Bella lalu berdiri di depan Angga yang dari tadi hanya melihat tingkah Bella. Bis mulai berjalan, sepeti biasa hentakannya membuat Bella jadi kehilangan keseimbagan, untungnya Angga langsung membawa Bella ke dalam pelukannya, lagi-lagi demi Bella dia merelakan tangannya untuk memegang bar yang di atas sana, padahal dia sepertinya anti sekali memagang hal yang menurutnya tidak higenis, Angga terus memeluk pinggang kecil Bella, membiarkan dia di dalam pelukannya, selain menjaga Bella sekalian mempertegas untuk semua pria yang dari tadi memperhatikan Bella, bahwa dia adalah kekasihnya. Nenek yang duduk di tempat Bella hanya tersenyum-senyum melihat tingkah Angga dan Bella yang ada di depannya.


Bis kembali berhenti, Bella memperhatikan tempatnya, sebuah halte bis di depan pusat pemberlanjaan yang ramai, sepertinya ini pemberhentian mereka.


"Ayo, turun." kata Bella.


"Di sini?" tanya Angga


"Ya." kata Bella menarik tangan Angga. Angga pasrah mengikuti keinginan Bella. Mereka segera turun, setelah melakukan pembayaran. Bella memperhatikan pusat pemberlanjaan yang megah dan besar itu, ramai sekali dengan pengunjung, bahkan di depan mall itu terparkir mobil-mobil sport atau mobil-mobil mewah lainnya.


"Bagaimana caranya kesana?" kata Bella memperhatikan, karena mereka sekarang ada di seberangnya.


"Fly over. " kata Angga menunjukkan jembatan penyeberangan, melihat itu Bella makin antusias.


"Kita menggunakan lift atau menggunakan tangga?" kata Bella berdiri di depan pintu masuk penyebrangan jalan itu.


"Lift saja. " kata Angga tak mau repot.


"Kau ingin berdesakan dengan orang-orang itu?"


Angga lalu melihat berapa banyak orang yang ingin mengunakan lift.


"Tangga saja, ayo." kata Angga sudah sangat kegerahan. Dia lalu menarik tangan Bella buru-buru untuk menaiki tangga penyebrangan itu, penyebarangan itu sangat ramai, tapi Bella menikmatinya, berbeda dengan Angga yang terus berusaha melindungi dirinya dan Bella, seakan semua orang yang di sana adalah zombie yang siap menyerang mereka kapan saja. Bella hanya tertawa lucu melihat tingkah Angga, dia benar-benar tidak nyaman.


Setelah turun dari jembatan penyebrangan itu, mereka langsung menuju pintu masuk ke dalam Mall itu, Angga membiarkan Bella berjalan duluan, beberapa satpam yang melihat Angga langsung bersiap, mereka langsung kaget melihat kedatangan Angga, biasanya Angga datang ke sana mengunakan mobil dan pasti berhenti di parkir khusus, tapi melihat Angga yang berjalan dari arah jembatan penyebrangan, semua satpam di sana  jadi bingung, dan juga langsung bersikap sempurna ingin menyambutnya.


Angga langsung mengeluarkan gestur, dia mengerakkan jari telunjuknya ke kanan kiri, memberitahu kepada pada satpam agar tidak menyambutnya.


"Wah, Mall ini sangat besar, kau sudah pernah ke sini?" kata Bella memperhatikan pintu masuk yang sangat megah.  Dia lalu melihat Angga yang ada di belakangnya. Angga hanya mengangguk sekali, sambil menyentuh hidungnya dengan jari telunjuknya. Bagaimana tidak pernah datang ke sana, seluruh gedung ini adalah miliknya.


"Baiklah, ayo masuk."kata Bella semangat.


"Ya." kata Angga seadanya saja, para satpam tak berani melihatnya, mereka segera memeriksa seperlunya saja, bagus juga dia datang seperti ini, jadi dia bisa melihat seluruh karyawannya bekerja dengan baik atau tidak. Angga hanya memperhatikan para satpam yang sangat gugup.


Bella masuk, udara dingin langsung menyambutnya, terasa sangat menyegarkan bagaikan baru di guyur dengan seembar air dingin, tapi dia menyukainya, walaupun menikmati perjalanan tadi, dia juga cukup merasa kegerahan, maklum sejak kecil walaupun hidup terkurung, dia diperlakukan begitu mewah, jarang sekali terkena panas.


Bella segera mengandeng tangan Angga, Angga hanya melihat tingkah laku Bella, Angga bukan pria yang romantis, tidak suka berkata-kata yang manis, yang dia tahu hanya mengikuti kemauan wanitanya, kadang itu hal yang bagus, tapi juga terlalu monoton, mungkin karena itu, dia tidak pernah punya kenangan seperti ini dengan Mika. Kalau bukan karena Bella orang yang banyak menuntut darinya, mereka juga akan menjalani kisah yang datar-datar saja.


"Wah, minuman itu lagi hits, ayo beli itu."kata Bella melihat salah satu gerai minuman di mall itu.


"Harus sekali minum begitu?" kata Angga yang melihat antriannya saja sudah malas.


"Ya, aku ingin itu." kata Bella dengan wajah berharapnya, Angga mana bisa menolaknya.


"Baiklah, akan aku suruh… " kata Angga ingin mengambil handphonenya.


"Kan sudah aku bilang jangan pakai kekuasaanmu, ayo mengantri. " kata Bella menarik tangan Angga. Angga terlihat malas, terlalu ramai orang dan mengantri itu membuang-buang waktu saja, pikirnya, tapi lagi-lagi dia menurut, baru hari ini dan kali ini Angga benar-benar bisa di atur oleh seseorang, dan orang itu seorang wanita.