
Angga tersentak, Jofan yang hanya menyimak pun sedikit kaget.
"Yang benar? " kata Angga tak percaya.
"Ya, saya rasa beliau memang Ibu Nona Bella, karena alasan beliau terkena sakit jiwa adalah kehilangan anak satu-satunya. " kata Asisten Jang lagi menjelaskan.
Angga membuang pandangannya tak tentu arah, pikirannya terbang, pasti! seorang ibu yang dipisahkan oleh anaknya, tidak mungkin bisa hidup dengan baik. Apakah Bella bisa menerima kabar ini nantinya? Dia jadi merasa ragu untuk menyampaikannya pada Bella.
"Apakah dia diperlakukan dengan layak?" kata Angga lagi.
"Beliau di rawat di rumah sakit kecil, fasilitasnya jauh dari baik Tuan. " kata Asisten Jang lagi, dia menyerahkan sebuah foto dari tabletnya, terlihat seorang wanita tua dengan baju seadanya, rambut cukup berantakan, namun tak bisa menutupi kecantikannya, dan mata birunya itu.
Angga sedikit miris melihatnya, entah kenapa semenjak bersama Bella, dia jadi gampang untuk merasa miris dengan seseorang, Berbeda jauh dengan dirinya yang dulu, jangankan dengan orang yang tak pernah di kenalnya, dengan Asisten Jang saja dia tidak peduli.
Bella pasti sangat sedih jika tahu kondisi ibunya seperti itu. Dia benar-benar ragu untuk mengatakannya sekarang. Apa yang harus dia lakukan?.
---***---
Bella masih memakan makanannya dengan pelan, walaupun hambar dia sangat menikmati makanannya ini.
Tiba-tiba pintu kamarnya terbuka, Bella dan Judy langsung melihat ke arah pintu itu, dan mereka segera menangkap sosok Daihan yang segera masuk dan menatap Bella dengan senyuman hangatnya. Judy yang melihat itu langsung bangkit dan berdiri di samping ranjang Bella.
"Selamat pagi Tuan Daihan." kata Judy
"Pagi. Ehm, bagaimana kabarmu Bella?" kata Daihan seperti biasa, hangat bagaikan sinar mentari pagi, kenapa hari ini semua orang terlihat sangat menarik? Pikir Bella
" Aku sudah membaik kak, apa kabar kakak?" kata Bella tersenyum manis membalas Daihan.
" Aku juga baik, maaf hari ini tidak membawakan mu apapun." kata Daihan mendekat, dia lalu duduk di tempat duduk Judy tadi. Berhadapan langsung dengan Bella yang sedang makan, melihat Daihan begitu dekat membuat Bella gugup, untung saja ada meja kecil yang jadi penghalang mereka, kalau tidak mungkin saja Daihan bisa duduk lebih dekat lagi.
"Ya, tidak apa-apa, tidak perlu membawa apapun jika bertemu denganku." kata Bella lagi sedikit tertawa kecil, Bella kembali melanjutkan makannya dengan perlahan.
"Ingin aku bantu?" tanya Daihan
"Ah, tidak perlu, aku bisa sendiri kak." kata Bella
Dia tidak mau ketika Angga datang, dia melihat Daihan sedang menyuapinya, Angga pasti marah besar, dia tidak mau menjadi salah di mata Angga, apalagi siapa yang bisa menebak kapan Angga akan kembali?.
"Baiklah. Apa makanan di sini enak." kata Daihan melihat menu makanan Bella yang tampak hambar, warnanya saja tak menyelerakan.
"Makanan rumah sakit kak, tidak ada rasanya." kata Bella tersenyum
"Nanti jika kau sudah sembuh, mari makan yang kau suka."
"Benarkah? baiklah, kalau begitu aku semangat untuk sembuh."
"Ya, tentu aku akan menunggu itu." kata Daihan terseyum sangat manis.
"Aku akan ke kantor setelah dari sini, aku ingin melihat keadaanmu, setelah itu aku baru bisa bekerja dengan tenang. Cepatlah keluar dari sini, aku sangat cemas melihatmu terlalu sering sakit." kata Daihan dengna wajah cemasnya
Tiba-tiba Bella teringat tentang apa yang di katakan Jofan padanya tempo hari, jika terus seperti ini, Daihan akan merasa Bella mmeberikannya harapan. Benar. Bella tak boleh memberikan harapan palsu pada Daihan, karna harapan palsu itu sungguh akan menyakitkan untuk Daihan.
"Judy, aku sudah selesai makan. " kata Bella lembut
"Baik Nona. " kata Judy lalu mengangkat meja yang berisi bekas-bekas makanan Bella
"Judy, bisakah kau keluar sebentar, aku ingin bicara dengan kak Daihan sebentar saja." kata Bella lagi, membuat Daihan sedikit mengerutkan dahinya, Ada apa? pikirnya
" Baik Nona."kata Judy segera saja membawa makanannya dan keluar
-----****----
Angga keluar dari ruangannya, dia segera menuju ke ruangan Bella, sepanjang perjalanan dia masih bingung harus mengatakannya tentang ibunya pada Bella atau tidak?.
Saat melihat Judy dan Asisten Jang berada di luar seperti sedang menunggu, Angga lagnsung mempercepat langkahnya, kerutan menghiasi dahinya.
" Kenapa kalian ada di luar, Nona sedang apa? " kata Angga yang tampak bingung, ada wajah cemas pula.
"Tuan Daihan datang, dan Nona menyuruh saya keluar karena dia ingin berbicara sesuatu dengan Tuan Daihan." kata Judy memberitahukan keadaanya.
Angga mendengar itu langsung memperdalam lekukan dahinya. Daihan? Bella ingin berbicara berdua dengannya? ingin bicara apa? apa mungkin Bella ingin menerima Diahan karena dia sudah kecewa dengannya? kenapa Bella begitu tega dan cepat berpindah hati?, seketika rasanya seluruh badannya merasa panas, ada rasa kesal, marah dan tidak suka langsung muncul di dalam dirinya.
Angga segera membuka pintu ruang rawat Bella, namun tertahan begitu mendengar suara lembut Bella. Dia membiarkan celah pintu terbuka sedikit agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan.
Bella memandang Daihan dengan tatapan yang susag di tebak, Daihan pun hanya menatap Bella dengan heran.
"Kak, terima kasih sudah datang. Tapi aku rasa kakak tidak perlu khawatir." kata Bella lembut.
"Sama-sama, aku tidak bisa tidak khawatir denganmu." kata Daihan
"Apa kakak masih menyukaiku?" kata Bella to the point. Daihan yang mendengar itu sedikit terdiam, Angga yang mendengar itu mengenggam pengangan pintu dengan sangat erat, dirinya terbakar cemburu, tapi berusaha sekuat tenaga menahan dirinya untuk masuk dan mengacaukan semuanya. Dia masih ingin tahu apa sebenarnya yang ingin dikatakan oleh Bella.
"Ya. Aku menyukaimu." kata Daihan langsung saja, wajahnya lembut namun nada bicaranya sangat serius, berusaha menyakinkan Bella.
Bella sedikit tersenyum dan menunduk, perasaannya tak enak, dia memang tak punya perasaan apapun dengan Daihan, perasaannya hanya sebatas seorang adik yang sangat bahagia punya kakak yang begitu menyayanginya, seharusnya posisi Mika dan Bella di balik, pasti tidak ada yang akan terluka seperti ini.
Bulu mata Bella yang lentik tampak bergerak-gerak, dia mengumpulkan kata-kata yang baik agar bisa mengucapkannya pada Daihan.
"Bella, aku benar-benar menyukaimu, bahkan aku rasa aku mencintaimu, aku rela melakukan apapun untukmu. Di hatiku hanya ada dirimu, aku benar-benar mencintaimu dirimu, bukan siapa kau sekarang, aku tidak akan merubahmu menjadi siapapun." kata Daihan lagi, begitu lembut, begitu lirih, hingga kata-kata itu membuat hati Bella tambah tak nyaman.
Angga yang mendegar itu makin geram, bisa-bisanya Daihan mengatakan hal itu, dia benar-benar memanfaatkan waktu di mana Bella ragu akan Angga. Angga mengertakan giginya dengan kuat berusaha menahan emosi yang sebenarnya sudah sampai ubung-ubunnya, matanya saja sudah memerah.